
Azka secara jantan menghampiri laki-laki yang sedang duduk di ruang tunggu kantornya. Laki-laki yang bernama Kenzie itu tersenyum menatap Azka yang berjalan semakin dekat.
“Azka,” sapa Kenzie dengan ramah. Dia berdiri dan menyalami Azka dengan rasa bersalah.
Setelah sekian lama menghilang, kini laki-laki yang sudah membuat kepercayaan keluarga Azka goyah itu tiba-tiba muncul kembali.
“Ada apa kamu menemuiku, Kenzie?” tanya Azka yang berusaha untuk tidak memaki sahabatnya itu.
Karena ulah Kenzie, Azka harus menanggung malu. Bahkan, kedua orang tuanya sampai meragukan apakah dia benar-benar pria normal? Masalahnya, Kenzie yang menyukai laki-laki, sempat melakukan hal yang tidak terduga. Hal itulah yang membuat Azka marah dan kecewa pada sahabatnya itu.
“Ada sesuatu yang ingin aku katakan. Kalau boleh, kita bicara di ruangan kamu, karena aku takut ada yang salah paham kalau mendengar ini,” jawab Kenzie. Terlihat sekali keseriusan di matanya. Rasa bersalah sepertinya sudah membuatnya berubah dan memberanikan diri untuk menemui Azka.
Azka malah ragu untuk mengizinkan Kenzie masuk ke ruangannya. Kalau sampai dia berbuat nekat, lalu siapa yang akan mempercayai Azka lagi?
“Maaf, Kenzie. Aku ada rapat sebentar lagi. Bagaimana kalau kita bertemu nanti malam di Kafe Cinta, aku akan mengajak istriku supaya tidak ada salah paham lagi,” balas Azka.
Ia tidak mau membuat Kara salah paham lagi. Belajar dari masalahnya dengan Olivia, akan lebih baik jika saat menemui Kenzie dia juga melibatkan istrinya.
__ADS_1
“Kamu sudah menikah, Ka?” tanya Kenzie yang terlihat bingung. Dia tidak tahu jika Azka sudah menikah, pasalnya dia memang baru kembali dari luar negeri setelah dipaksa pergi oleh orang tua Azka.
“Ya, dan dia juga sudah tahu dari Arsha soal kamu. Makanya, aku tidak mau membuatnya salah paham,” jawab Azka.
Kenzie tersenyum ikut bahagia mendengar Azka sudah menikah. “Oh, aku turut bahagia dengan pernikahanmu. Kalau begitu, kita bertemu nanti malam saja. Supaya istrimu juga tidak curiga,” kata Kenzie sembari menjabat tangan Azka. Dia berpamitan untuk pulang dan berjanji akan bertemu di kafe yang sudah Azka sebutkan.
Setelah kepergian Kenzie, entah kenapa Azka merasa ada sesuatu yang salah. Seperti ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya itu. Setidaknya Azka masih menganggapnya sebagai sahabat meski telah sangat dikecewakan.
***
“Kak, benar enggak apa-apa aku ikut?” tanya Kara ragu-ragu.
“Enggak apa-apa, Mel. Apa pun yang ingin dia katakan, kamu juga harus dengar, karena kamu istriku,” jawab Azka sambil merangkulkan tangannya ke pinggang Kara.
Kara sempat mengambil napas berat sebelum akhirnya melangkah memasuki kafe.
Terlihat Kenzie yang sudah datang lebih dulu dan sedang menunggu Azka dan Kara. Lalu, mereka pun bertemu dan berbasa-basi sebentar sambil memesan makanan. Azka pun memperkenalkan Kara dengan Kenzie.
__ADS_1
“Jadi, ada apa kamu menemuiku?” tanya Azka setelah merasa cukup berbasa-basi.
“Aku mau serahkan ini, sebagai bentuk permintaan maaf aku sama keluarga kamu,” kata Kenzie sembari menyodorkan kotak kecil yang berisi kepingan memori penyimpanan.
“Ini apa?” tanya Azka bingung.
“Ini permintaan maafku sama keluarga kamu, kalau bisa adik kamu juga lihat ini. Aku enggak bisa menyampaikannya secara langsung. Aku terlalu malu. Maafkan aku, Azka,” ucap laki-laki itu terdengar lemah.
“Kamu enggak lagi ngerjain aku, ‘kan? Nanti isinya aneh-aneh?” Azka menatap curiga pada Kenzie.
“Enggak kok, Azka. Aku tulus mau minta maaf. Sebenarnya, aku sedang sakit parah. Aku kena PMS, Azka. Makanya aku takut kalau sebelum mati, enggak sempat minta maaf.” Kenzie kembali tertunduk.
“Kalau boleh, biar aku cek dulu, Kak. Supaya enggak salah paham lagi. Aku bawa headset kok.” Kara menawarkan diri sambil menggerakkan ponselnya.
****
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋
__ADS_1