
Arsha mengantar Karamel sampai ke dalam kelas kakak iparnya itu. Hal itu membuat beberapa teman Karamel menatap iri pada gadis dengan pipi tembam itu karena mengira Kara dan Arsha memiliki hubungan spesial. Walau memang benar spesial karena mereka merupakan saudara ipar. Namun, tentu tidak ada yang tahu rahasia itu.
“Aku ke kelas dulu, kalau udah selesai kabarin ya,” kata Arsha sembari mengusap rambut Karamel.
Karamel mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya. “Oke, Kak. see you.”
Arsha keluar dari kelas Karamel dan meninggalkan banyak tanda tanya di antara para mahasiswa kelas itu. Kelas pun menjadi ricuh gara-gara Arsha dan Karamel.
“Wow, Karamel luar biasa,” celetuk salah seorang mahasiswi.
“Gue malah iri sama kakak tingkat itu karena kalah duluan dekatin Kara.”
Bisik-bisik di antara teman-teman sekelas Karamel sama sekali tidak dipedulikan oleh gadis itu. Baginya, yang penting teman-temannya tidak tahu bahwa dia sudah menikah dengan dosen mereka.
“Ra, kamu beneran ada hubungan spesial sama Kak Arsha? Sampai disamperin gitu, pasti spesial banget ya,” tebak Seli yang juga baru datang dan sempat berpapasan dengan Arsha sebelum cowok tampan itu keluar kelas.
“Ya, gitulah pokoknya, spesial enggak spesial. Entah apa namanya enggak penting juga,” jawab Karamel.
__ADS_1
“Hebat banget kamu, Ra. Aku pikir kemarin cuma kebetulan aja kamu sama dia. Dia itu dikejar-kejar Maura loh, kamu tau Maura, ‘kan? The most beautiful girl on campus.” Seli sampai geleng-geleng kepala sambil menatap temannya yang hanya senyum-senyum sendiri.
“Tapi Kak Arsha nolak dia, ‘kan? Kalau Kak Arsha milih jalan sama aku, bukannya itu berarti aku lebih menarik dari Maura?” tanya Karamel dengan bangga.
“Ya ampun Kara. Baru aja selesai sama Alex, eh udah berulah sama Kak Arsha. Terus, si Ello mau dikemanain? Awas kenak karma loh” Seli mulai kesal dengan sahabatnya yang sok cantik itu. Bagaimana bisa Karamel mempermainkan perasaan laki-laki dengan begitu mudahnya?
“Aku udah putusin Ello,” jawab Karamel dengan cemberut.
Raut sedihnya itu sangat menggambarkan bahwa dia masih memiliki perasaan pada Ello.
“Hah? Serius? Terus dia enggak apa-apa?” Seli sangat terkejut dengan apa yang Karamel katakan. Dia tidak menyangka bahwa Karamel bisa setega itu mempermainkan perasaan laki-laki.
“Jahat banget sih Kara, astaga. Kenapa coba putusin Ello tanpa salah apa-apa gitu?” Seli semakin kesal. Ingin sekali dia menjitak kepala Karamel kalau saja dosen mereka tidak segera datang.
“Ya, gimana lagi. Kita emang harus putus,” jawab Karamel dengan berbisik. Suasana kelas yang mendadak sepi setelah kedatangan dosen itu memaksanya untuk mengecilkan suara.
“Pasti gara-gara Kak Arsha. Iya, ‘kan?” Seli ikut berbisik, tapi tatapannya dan gertakan giginya sudah menjelaskan bahwa dia sangat kesal dengan Karamel.
__ADS_1
Bukan karena Kak Arsha, tapi kakaknya Kak Arsha, suamiku.
***
***
Arsha menunggu Karamel sampai kelas terakhirnya selesai. Dia ingin mengajak jalan Karamel karena hari masih sore, apalagi ada yang ingin dia beli di mal.
“Udah selesai, ‘kan? Ikut ke mal bentar ya, Ra,” ajak Arsha.
Karamel yang hanya menumpang tentu mau-mau saja apalagi sudah lama juga dia tidak jalan-jalan cuci mata.
“Oke, enggak usah pulang dulu?” tanya Karamel.
“Bentar doang, enggak usah ya.”
“Oke.”
__ADS_1
Karamel langsung setuju dan mereka pun pergi bersama. Mungkin jika mereka bukan saudara ipar, mereka pasti sangat serasi menjadi pasangan kekasih layaknya remaja seusia mereka. Namun, sepertinya Karamel lupa dengan pesan Azka untuk meminta izin ke mana pun dia pergi.