
Karamel sangat menikmati jalan-jalannya bersama Arsha. Dia sampai tidak sadar jika ponselnya mati karena kehabisan daya. Satu kesalahan kecil yang sangat fatal akibatnya.
Mereka sampai di rumah saat waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, saat Azka sudah sampai di rumah dan menunggu Kara dengan cemas.
“Sepi banget ya, Kak. Apa kita pulang terlambat banget?” tanya Kara pada Arsha yang juga berjalan bersamanya.
“Enggaklah, Ra. Aku biasanya malah pulang tengah malam,” jawab Arsha yang malah menanggapi dengan bercanda.
Kara ikut tertawa tanpa menyadari bahwa suaminya sudah memasang raut kesal sambil mengamati mereka dari atas.
“Mama sama Papa ke mana ya, sepi banget. Kak Azka juga enggak kelihatan, ke mana ya?” tanya Kara sambil menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Azka sendiri sudah masuk ke kamarnya setelah memastikan Kara pulang. Laki-laki itu mematikan lampu kamar dan berdiam diri di dalamnya sambil menunggu Kara masuk ke kamar. Dia sedang menyusun banyak pertanyaan untuk istri bocahnya itu.
Tidak berapa lama gadis itu membuka pintu dan sedikit bingung melihat lampu kamar yang mati. Dia sampai bertanya-tanya ke manakah suaminya?
__ADS_1
Saat Kara menyalakan lampu, Azka langsung bertanya dengan nada datar sambil menahan emosi. “Dari mana kamu?”
Seketika jantung Kara berdebar keras seakan habis lari maraton. Jika jantung itu bukan buatan Tuhan, mungkin ia sudah melompat dari tubuhnya. Melihat wajah marah Azka, Kara baru sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan besar.
“A-aku dari mal, Kak,” jawab Kara sambil berusaha mengatur napasnya yang tersengal. Siapa yang tidak akan takut dengan wajah menyeramkan itu?
“Kampus kamu pindah ke mal ya sekarang?” tanya Azka yang mulai mengintimidasi istrinya.
“Maaf, Kak. Aku tadi ke mal buat nemenin Kak Arsha yang lagi belanja, enggak tahunya ada film bagus, terus aku sekalian aja nonton.” Kara menundukkan kepala dan sangat tahu bahwa dia salah. Ingin menangis, tapi ini bukan saat yang tepat
“Oh ya, kamu bahagia banget ya pergi sama Arsha? Sampai enggak punya waktu walau satu menit saja buat kasih kabar ke suami kamu. Aku itu khawatir sama kamu, Mel.” Azka sudah berdiri dan nada bicaranya mulai naik.
“Astaga, aku lupa kalau HP-ku mati, maaf, Kak. Aku benar-benar lupa.” Kara menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa dia begitu bodoh sampai lupa mengabari suaminya sendiri. Rasa bersalah kian dalam saat melihat tatapan Azka yang seakan mencabik-cabik ulu hatinya.
“Apa kamu juga lupa kalau kamu sudah punya suami?” tanya Azka kini mendekatkan wajahnya pada wajah Kara.
__ADS_1
“Apa!?”
“Aku suami kamu, Mel. Kita sudah bicara ini, ‘kan? Hargai aku sebagai suami, apa itu susah?”
Kara kini semakin terpojok. Dia dalam masalah besar sekarang. Tidak Kara sangka jika Azka bisa semarah ini padanya. Padahal dia hanya terlambat beberapa jam saja.
“Aku tahu kok kalau Kak Azka suami aku. Aku ‘kan sudah minta maaf, Kak. Lagi pula aku baru pertama ini terlambat.” Kara membela diri.
“Apa dengan minta maaf semua bisa diselesaikan?”
Kara ingin berontak tapi dia ingat pesan Mama Dita untuk tidak melawan dan menurut apa yang suaminya katakan. Hingga akhirnya dia memilih diam.
“Pikirkan baik-baik.” Azka keluar dari kamar dan kini menemui adiknya. Walau bagaimanapun bukan hanya Kara yang bersalah saat ini.
Azka menemui Arsha di kamarnya saat laki-laki itu sedang bermain ponsel sambil tiduran di kamar. Mendengar ketukan pintu, dia bergegas untuk membukanya.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Arsha saat melihat kakaknya di balik pintu.
“Kamu sengaja ya ajak Karamel jalan sampai-sampai terlambat pulang,” tuduh Azka tanpa basa-basi.