
Kara mengecek satu-satunya video yang ada dalam kartu memori kecil itu. Ya, tidak ada file lagi selain satu video itu di sana.
Ternyata, memang benar video itu berisi permintaan maaf Kenzie pada semua keluarga Azka. Kara sampai menitikan air mata melihat video pengakuan serta permintaan maaf dari seorang yang saat ini sedang menderita sakit karena ulahnya sendiri.
“Kak, kayaknya dia emang beneran sakit deh,” bisik Kara pada suaminya.
Setelah mendengar pendapat istrinya itu, Azka kini menatap sahabatnya, kasihan.
“Ini hasil pemeriksaan dokter. Mungkin ini hukuman dari Tuhan juga untuk aku, maaf Azka. Maafkan aku,” kata Kenzie sembari mengulurkan sebuah surat pada Azka.
Azka membaca seluruh tulisan itu, kata demi kata. Lalu, matanya membola saat membaca kata sipilis. Suatu penyakit menular melalui hubungan suami istri atau dalam kasus Kenzie bisa terjadi karena hubungan sejenis. Dampak dari penyakit itu bisa sangat fatal bahkan menyebabkan kematian.
“Kamu kena ini?” tanya Azka sambil menatap wajah sahabatnya itu. Azka masih menganggapnya sahabat meski Kenzie sudah melakukan kesalahan fatal padanya. Apalagi, saat-saat seperti ini Azka benar-benar tidak tega dengan Kenzie.
Kenzie tertunduk malu. Rasa bersalahnya sudah sangat menghantui, dan sikap Azka yang langsung memaafkannya membuat Kenzie semakin merasa berdosa.
“Iya, Azka. Setelah kejadian malam itu, ayahmu menemuiku. Aku diberi banyak uang untuk ke luar negeri, dan di sana aku bertemu pasanganku itu. Dan aku tertular dari dia,” jelas Kenzie sambil tertunduk.
“Aku turut prihatin. Kamu tenang aja, Kenz. Aku akan menyampaikan semuanya pada orang tuaku. Aku harap kamu bisa lekas sehat.”
__ADS_1
***
***
Setelah bertemu dengan Kenzie dan mendengar semua penjelasannya. Azka dan Kara langsung bergegas menuju rumah orang tuanya untuk menyampaikan permintaan maaf Kenzie.
Sampai di rumah mertuanya, Kara merangkul lengan Azka sambil berjalan masuk. Tiba-tiba, mereka berhadapan dengan Arsha yang akan pergi keluar rumah.
Azka langsung menahan adiknya itu supaya tidak pergi, karena dia harus mendengar langsung video permintaan maaf dari Kenzie. “Kamu mau ke mana Arsha?”
Arsha menghela napas dan menatap kakaknya dengan malas. “Mau hangout, kenapa?”
Arsha sebenarnya malas, tapi karena dia melihat raut wajah Kara yang memelas, akhirnya Arsha setuju meski dengan terpaksa.
Mereka akhirnya menonton video permintaan maaf dan juga penjelasan dari Kenzie itu bersama-sama.
Mama Dita sampai menangis terharu sekaligus kasihan pada Kenzie yang tidak berani bertemu langsung dengan mereka. Sebagai orang tua, Mama Dita tentu orang yang paling tersakiti di sini. Saat anaknya terkena fitnah menjalani hubungan sesama yang menghancurkan kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Akan tetapi, kebeneran berkata lain. Azka tidak bersalah sama sekali.
“Maafkan papa karena sempat tidak mempercayaimu, Azka,” kata Papa Tio sambil memeluk putra sulungnya.
__ADS_1
“Papa enggak salah. Ini cuma salah paham aja, Pa.” Azka membalas pelukan papanya dengan haru.
“Sory, karena aku udah salah paham, Kak.” Arsha mengulurkan tangan sebagai tanda permintaan maaf. Namun, Azka langsung memeluknya.
Malam ini, semua kesalahpahaman tentang Azka sudah berakhir damai. Arsha juga mengatakan pada semua orang bahwa dia akan berusaha mengikhlaskan Kara yang tidak menjadi jodohnya.
“Aku harus pergi, untuk bertemu seorang gadis,” kata Arsha yang membuat semua orang menatapnya.
“Jangan memacari anak orang lama-lama, bersikap jantan Arsha.” Papa Tio memberi peringatan pada putra bungsunya.
“Aku belum pacaran, Pa. Ini baru PDKT kok,” balas Arsha sambil memakai jaketnya.
“Kalau udah cocok langsung nikah saja. Papa enggak mau anak-anak Papa bikin masalah lagi.”
“Aku sama Seli masih kuliah, Pa. Emangnya nikah gampang apa, pekerjaan aja belum jelas,” kata Arsha yang tanpa sadar menyebutkan nama gadis yang akan ditemuinya.
“Seli? Seli teman aku bukan, Kak?”
Kembang kopinya jangan lupa 😚😚😚
__ADS_1
Berapa hari ya enggak up.. tapi yang nyariin cuma 2 orang aja wkkk..