Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 30


__ADS_3

Azka memejamkan mata saat mendengar penuturan Karamel yang belum siap melakukan kewajiban sebagai suami istri. Dia juga tidak ingin melakukan hal itu tanpa perasaan.


“Aku enggak akan melakukannya sekarang. Tapi, kamu harus lihat supaya kamu tahu aku ini normal.” Azka mengusap lembut wajah Kara.


Gadis itu semakin berdebar-debar saat Azka mulai mendekatkan lagi wajah mereka dan mencium lembut bibir Kara. Tak hanya ciuman, tangan Azka juga mulai menyusup ke dalam kaus Kara dan memainkan benda kenyal itu lalu semakin menggesekkan kakinya pada kaki Kara.


Azka kini sudah berada di atas Kara tanpa melepaskan ciumannya. Dengan perlahan dia membuka celananya sendiri, lalu kembali merasakan kenyalnya dada Kara dengan tangannya.


Kara mendorong kuat tubuh Azka saat napasnyan sudah hampir habis. “Kakak.” Napas Kara sangat cepat seakan ia baru saja lari ratusan meter.


“Sekali ini saja, kamu buktikan sendiri, Mel.” Azka bangun dan melepaskan seluruh celananya. Lalu dia membangunkan Kara agar gadis itu bisa melihat sendiri apa yang terjadi dengan adik kecil Azka.


“Kakak, ini ....”


Sosis bakar jumbo. Ya, ampun kenapa besar sekali?


Susah payah Karamel menelan ludahnya sendiri dan memalingkan wajah.

__ADS_1


“Kamu bantu aku tuntasin ini, Mel. Aku janji enggak akan melepas baju kamu,” kata Azka lalu menarik tangan Karamel untuk menyentuh miliknya yang sudah tegak maksimal.


“Kak Azka, aku takut.” Karamel memejamkan mata dan mulai menangis.


Ya ampun, udah tegang banget malah dia nangis. Duh, sabar Azka istri kamu masih bocah.


Azka kembali mencium bibir Kara sekilas dan merebahkannya di kasur.


“Enggak usah nangis, udah gede, Mel. Kamu udah bisa bikin bocah, jangan bersikap kayak bocah.” Azka menatap wajah Kara dan menghapus air matanya.


“Aku belum siap punya anak, Kak,” protes Kara masih dengan raut wajahnya yang sendu.


Kara menurut dan melakukan apa yang diperintahkan Azka. Dia menggerakkan tangannya dan mulai merasakan sesuatu membasahi tangannya. Meski sangat penasaran, dia tidak berani bertanya dan tetap menggerakkan tangannya sambil menatap wajah suaminya yang merem sambil mengerang kenikmatan.


Melihat Kara yang menurut, Azka dengan gemas merasakan bibir Kara lagi. Bahkan, dia juga menciptakan tanda merah di leher istrinya itu.


Setelah sekian lama menikmati kesenangan dengan tangan Kara, Azka akhirnya mengeluarkan apa yang sedari tadi dia tunggu. Karena hal itulah, tangan Kara menjadi lengket dan penuh cairan.

__ADS_1


Azka terbaring di samping Kara dengan rasa puas yang sudah tersalurkan.


“Makasih, Mel. Ini luar biasa,” kata Azka. Dia meraih tangan tisu milik Kara dan membersihkan tangan istrinya itu.


Kara sendiri masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dia mengerjap bingung sambil menatap langit-langit kamar.


Melihat wajah bingung istrinya, Azka mendekatkan lagi wajah mereka dan bertanya, “Kamu kenapa, Mel?”


“Kakak tadi kenapa?” tanya Karamel yang masih belum benar-benar paham.


“Kamu enggak pernah diajarin biologi di sekolah?” Azka balik bertanya.


“Kakak kok malah nanya balik sih. Iya-iya Kak Azka pinter sampai jadi dosen. Aku emang bodoh dan enggak pernah dengerin pelajaran. Lagian aku kuliah juga enggak ada hubungannya sama biologi.”


Kara menggerutu karena Azka malah semakin membuatnya bingung.


“Itu tadi namanya kamu bantuin aku massturbaasi. Karena aku bisa keluar berkat kamu, itu artinya aku normal. Kamu beneran enggak paham?”

__ADS_1


Kembang kopi, like komennya jangan lupa ya gaes, selagi gratis, wkkk


__ADS_2