Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 41


__ADS_3

Azka jadi salah tingkah karena tangannya yang ditahan oleh Karamel. Niat awalnya yang ingin menggoda sang istri malah ditanggapi serius oleh Karamel.


“Ayo, Kak. Nanti kita kesiangan loh.” Kara menutup pintu kamar mandi yang membuat Azka semakin gugup.


“Kita mandi bersama? Enggak pakai baju?” tanya Azka untuk meyakinkan apa yang Kara katakan itu benar-benar dipikirkan baik-baik olehnya.


“Em, iya juga ya. Tidak mungkin kita mandi dengan baju lengkap ya.” Kara terlihat berpikir keras dan membuat Azka mengulum senyum. “Eh, tapi kita bisa mandi bersama kalau saling memunggungi, ‘kan?” usulnya yang kembali antusias.


“Apa?” Azka seolah tidak percaya dengan apa yang didengar dari mulut istrinya itu.


Gadis itu memiliki pikiran yang sangat unik. Jauh dari apa yang Azka pikirkan.


“Ya, saling memunggungi. Kakak hadap sana, aku hadap sana!’ Kara membalik tubuh suaminya yang membuat Azka tertawa keras.


Mereka mulai membuka baju masing-masing dan bergantian membasahi tubuh. Kara sama sekali tidak membiarkan Azka melihat bagian depan tubuhnya. Namun, saat dia sedang menyabuni tubuhnya, tiba-tiba Azka memeluk Kara dan membuat gadis itu berteriak.

__ADS_1


“Kakak, kenapa malah peluk aku?” Kara berusaha melepaskan pelukan Azka dari tubuhnya. Dia juga berusaha menutupi bagian sensitif miliknya yang bisa dilihat jelas oleh Azka.


“Gini, Mel. Kita ‘kan suami istri jadi ya enggak apa-apa saling lihat punya kita masing-masing. Itu hal yang wajar kok,” kata Azka sambil menyandarkan kepalanya di pundak sang istri.


“Tapi, Kak. Aku ‘kan malu.”


“Kalau sama suami enggak perlu malu, Mel.” Tangan Azka mulai bergerak menyentuh bagian dada Kara dan menjelaskan bahwa bagian itu adalah bagian yang sangat berharga dan akan menjadi sumber makanan untuk anak-anak mereka nantinya.


Dengan polosnya, Kara mendengarkan setiap penjelasan Azka. Laki-laki itu malah memanfaatkan kepolosan Kara dengan memijat-mijat lembut yang membuat sosis jumbonya terbangun.


“Kakak, sosis kamu bangun deh,” kata Kara saat merasakan sesuatu yang bergerak di belakang tubuhnya.


“Kok bisa sih, Kak?” Kara berbalik badan dan mengintip sosis Azka yang memang sedang bangun.


“Iya, Mel. Harus dibantuin biar enggak bangun lagi. Mau tahu enggak caranya?” Azka memainkan alisnya naik turun. Kali ini dia akan memanfaatkan kepolosan istrinya itu dengan sangat baik.

__ADS_1


***


Kara mengerucutkan bibir setelah mereka selesai mandi. Bagaimana tidak, ternyata dia bisa terperdaya saat Azka mengatakan untuk mencoba mencicipi rasa sosis jumbo milik Azka.


“Kenapa cemberut begitu? Jadi enggak kita jalan-jalan naik motor?” tanya Azka sambil menyiapkan makanan yang sudah dipesan antar.


“Kakak jahat sih, ngerjain aku, modus banget. Aku enggak mau kalau nanti di pegunungan malah Kakak tinggal. Kakak suka bohong.” Kara masih sangat kesal dengan Azka setelah mandi bersama perdana mereka.


“Bohong apanya sih, Mel. Bukannya itu enak?” goda Azka sambil senyum-senyum karena merasa puas.


“Kata Kakak itu mayonise enak, tapi nyatanya itu enggak enak sama sekali. Asin, kayak pahit, kayak em ... enggak enaklah pokoknya.”


“Masa sih. Kok bisa ya. Apa karena kemarin aku makan yang asin-asin ya?” Azka seolah berpikir keras dan mengingat-ingat apa yang kemarin mereka makan.


“Ya aku enggak tahu, Kak.”

__ADS_1


“Ya sudah, makan dulu makanya biar lupa sama rasanya mayonise tadi.” Azka menyuapkan satu sendok makanan ke mulut istrinya, berharap dengan begitu Kara tidak ngambek lagi.


Jangan lupa ritualnya 🥰


__ADS_2