Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 52


__ADS_3

Karamel sedikit bingung saat menyadari bahwa jalan yang mereka lewati bukanlah jalan menuju tempat Azka menjemputnya tadi. Dia pikir, setelah menghadiri pesta pernikahan itu, Azka akan mengantarnya pulang dan bisa bersiap untuk kerja.


“Kita mau ke mana?” tanya Kara bingung. Dia juga takut jika Azka berbuat nekat dan membawanya pergi, padahal mereka masih belum menyelesaikan masalah mereka.


Azka melihat raut bingung di wajah istrinya. Dia tersenyum dan menjawab santai. “Sebelum dua jam, aku janji akan antar kamu ke tempat kerja, Mel. Walau sebenarnya aku tidak rela jika kamu bekerja keras mencari uang sendiri, padahal aku kerja juga buat kamu.”


Kara memalingkan wajah. Semenjak kejadian itu, dia memang tidak memakai uang dari Azka lagi. Gadis itu bertekad untuk mendapatkan uangnya sendiri, berapa pun hasilnya.


“Sebentar saja, Mel. Aku cuma kangen makan bareng kamu,” kata Azka lagi saat Kara hanya diam tak merespon lagi. “Jawab dong, Mel.”


“Iya, sebentar aha, Kak.”


Azka tersenyum puas saat Kara menuruti keinginannya yang sederhana itu.


Tak lama, mereka pun sampai di restoran, dan di sinilah mereka saat ini. Duduk berhadapan dan saling terdiam sembari menunggu makanan datang.


“Kamu tidak kuliah lagi, Mel?” tanya Azka setelah mereka terdiam cukup lama.


Kara menundukkan kepala sebelum akhirnya menjawab, “Aku mau fokus kerja dulu aja, Kak.”


“Apa karena kamu tidak mau menerima uang dariku lagi, Mel?”


Kara terdiam. Azka memang benar, dia sengaja melakukan itu karena tidak mau menggunakan uang Azka lagi.


“Mel, aku tahu aku salah, dan sekarang aku sedang berusaha memperbaiki kesalahanku. Tapi, kamu masih tanggung jawabku. Aku yakin Ayah tidak memilihku dengan satu pertimbangan saja. Pasti banyak alasan kenapa aku yang ayah pilih dari banyak orang di dunia ini, Mel.”


“Aku cuma melindungi hatiku sendiri, Kak. Ayah tidak tahu soal perasaanmu dan perasaanku, makanya Ayah milih kamu.”


“Ayah sangat tahu, Mel. Bahkan soal Olivia, dia juga tahu. Papa sudah menceritakan semua.” Azka kini tertunduk dan mereka kembali terdiam. Sampai makanan datang pun mereka larut dalam pikirannya sendiri.


“Mama apa kabar, Kak?” tanya Kara yang tiba-tiba membuka percakapan setelah hening cukup lama.

__ADS_1


“Mama baik kok. Dia juga berkali-kali maksa buat ketemu kamu. Aku jarang pulang ke rumah, Mel. Sesekali aja kalau Mama nyuruh aku datang. Rasanya tinggal di apartemen bersama barang-barang yang kamu tinggalkan itu lebih mengobati kesepian aku,” jawab Azka panjang lebar.


“Emm.”


“Aku boleh antar kamu sampai tempat kerja kamu enggak, Mel. Setidaknya kalau aku kangen kamu, aku bisa lihat kamu dari jauh. Itu aja.”


“Ya, terserah Kak Azka aja.”


Azka menghela napas berat. Gadis di hadapannya benar-benar susah ditaklukan. Namun, dia tidak ingin menyerah secepat itu. Dia masih ingin berjuang dan mendapatkan lagi istrinya.


“Oke, kalau gitu aku akan antar kamu sekarang.” Azka berdiri dan mengulurkan tangan, tapi bukannya menerima, Kara malah mengabaikannya.


Azka tersenyum sambil menatap tangannya sendiri. Lalu, dia berjalan mengekor di belakang Kara sampai di mobil dan membukakan pintu seperti biasa.


Mereka kembali berkendara di tengah padatnya jalanan ibu kota. Kara menyebutkan nama jalan tempatnya bekerja, dan Azka dengan senang hati mengantarkannya.


Sampai di tempat kerja Kara, Azka dibuat tercengang karena ternyata Kara bekerja di sebuah toko yang menjual bermacam-macam ponsel, tempatnya cukup besar dan cukup terkenal.


“Mel, aku boleh minta satu hal aja, enggak? Sekali dan sebentar aja,” kata Azka sembari meraih tangan Kara.


Dengan bingung, Kara bertanya, “Apa?”


“Aku pengen peluk kamu, satu menit saja, boleh?”


Kara berpikir cukup lama, lalh mengangguk lemah. Hanya pelukan saja, bukan?


Melihat reaksi Kara, Azka dengan bahagia memeluk Kara yang sangat dia rindukan.


“Makasih, Mel. Aku akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan kepercayaanmu lagi. Aku mohon jangan buka hati untuk laki-laki lain,” kata Azka sambil memeluk tubuh Kara. “Makan yang teratur ya, Mel. Kamu makin kurus sekarang. Aku akan sering ke sini kalau kangen kamu.”


Kara bisa merasakan hangatnya tubuh Azka. Dia juga sangat merindukan laki-laki itu, hingga tanpa sadar air matanya pun meleleh keluar. Dengan cepat Kara menghapusnya agar tidak ketahuan oleh Azka. Lalu, dia melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


“Aku pergi, Kak.” Kara meraih tangan Azka dan menciumnya.


Azka ingin membalas dengan kecupan di kening seperti dulu, tapi tanpa Kara sadari wanita itu justru menghindar yang membuat hati Azka berdesir semakin sakit.


Kara berlalu meninggalkan Azka dan masuk ke tempat kerjanya.


Dengan hati yang masih terasa sakit, Azka akhirnya masuk ke mobil dan berpikir. Lalu, dia menelepon seseorang untuk mencari tahu siapa manajer tempat Kara bekerja, dan mencari tahu apa saja pekerjaan Kara. Lalu, dia melajukan mobilnya ke kantor.


**


**


Azka sudah sampai di kantor dan sedang menunggu informasi dari orang suruhannya. Hingga akhirnya, dia mendapatkan pesan dari orang itu dan kemudian tersenyum sampai membuat sekretarisnya bingung sendiri.


“Daftar karyawan terbaik tahun ini, sudah ada, ‘kan?” tanya Azka.


“Sudah, Pak. Kemarin sudah saya ingatkan Pak Azka.”


“Oh, iya sepertinya saya lupa. Kamu suruh orang datang ke toko ini, lalu suruh mereka cari Karamel, dan belikan beberapa jenis ponsel untuk karyawan terbaik kita. Tapi, jangan sampai Karamel atau toko itu tau perusahaan kita yang beli, kamu mengerti?”


“Sebanyak dua puluh lima ponsel, Pak?”


“Iya, kamu juga ambil kalau mau, dan bagikan sama yang ada di daftar. Tapi jangan sampai ketahuan dari kita yang beli.”


Bukankah Karamel itu nama istrinya Pak Azka? Apa Pak Azka sedang memborong dagangan istrinya? Tapi, kenapa istri bos harus bekerja menjadi SPG ya?


“Kenapa diam saja. Cepat kerjakan! Dan jangan banyak bertanya, apalagi bergosip!”


“Baik, Pak.”


***

__ADS_1


Om aku juga mau ponselnya ya, capek juga ngetiknya aku 🤣🤣🤣


__ADS_2