Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 42


__ADS_3

Setelah perdebatan yang cukup sengit antara Kara dan Azka yang mempermasalahkan mayones dan sosis bakar. Azka akhirnya mengajak Kara untuk berkeliling dengan naik motor.


Azka mempunyai motor berjenis matic yang sangat jarang dipakai. Dia lebih suka memakai mobil daripada menggunakan motor. Karena ingin menghibur Kara supaya tidak merajuk lagi, Azka akhirnya mau menggunakan motornya.


Ternyata, rencana Azka memang berhasil. Kara akhirnya tidak cemberut lagi, meski mereka hanya berkeliling tanpa tujuan. Sampai akhirnya, mereka sampai di pinggiran kota dan Kara ingin membeli minuman.


“Kakak mau ikut masuk sekalian?” tanya Kara saat melepaskan helm mereka.


“Boleh deh, takutnya nanti kamu borong semua jajan di dalam kan bahaya.”


“Kakak takut uang Kakak habis, ‘kan?” cibir Kara dengan bibir manyun.


“Oh, bukan itu, Mel. Kalau naik motor bawa barangnya susah," balas Azka yang kemudian merangkul Kara.


Kara tertawa membenarkan ucapkan suaminya. Kalau begitu, dia akan memboromg banyak jajanan saat Azka membawa mobil.


Mereka menuju lemari pendingin yang berisi minuman-minuman kemasan botol.

__ADS_1


“Perempuan itu enggak bagus loh kalau minum soda,” kata Azka saat Kara mengambil minuman kaleng berisi kola.


“Tapi ini enak, Kak. Kenapa yang enak-enak itu enggak bagus,” balas Kara sambil mengembalikan kaleng minuman itu ke lemari.


“Kalau kamu banyak minum soda, nanti rahim kamu bermasalah, terus bayi kecil akan susah tumbuh di sana. Kamu mau kita enggak punya anak nantinya.” Azka kembali menjelaskan seolah dia adalah guru yang baik untuk istrinya.


“Ya, enggak mau sih. Nanti kalau kita enggak punya anak, pasti kesepian,” jawab Kara sambil mengusap perutnya.


Tanpa mereka sadari, di belakang mereka ada dua orang wanita yang diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka.


“Nah makanya itu, Mel. Selagi muda jaga kesehatan dan sayangi tubuh kamu drngan baik. Lagian ada kok sesuatu yang enak tapi malah bagus buat hubungan kita.”


“Apa itu makanan juga?”


“Bukanlah. Ini sesuatu yang lain, yang bisa dirasakan itu sensasinya. Ya, kayaknya kamu belum siap sih kalau mencobanya, tapi aku akan tetap kasih tau.”


“Apa sih Kak Azka, bikin penasaran aja deh.”

__ADS_1


“Iya, iya istriku yang bawel.” Azka lalu membisikkan sesuatu di telinga Kara bahwa sesuatu yang enak itu adalah hubungan antara suami istri yang biasa dilakukan untuk memperoleh keturunan.


“Kakak,” teriak Kara sambil memukul lengan Azka. Sementara laki-laki itu malah tertawa dan merangkul Kara lalu mendaratkan kecupan di kening istrinya.


Dua orang yang sedari tadi menperhatikan mereka itu, membelalakkan mata saat mendengar Azka mengatakan bahwa Kara adalah istrinya.


“Azka.”


“Kara.”


Azka yang sedang merangkul Kara menoleh ke belakang dan menatap dua wanita yang dikenalnya. Begitu pula dengan Kara yang ikut menoleh dengan pandangan tidak percaya sekaligus kaget.


“Kara, kok kamu sama Pak Azka.” Seli sahabat Kara itu maju beberapa langkah dan menunjuk wajah Kara dan Azka bergantian. “Kalian sudah menikah?” tanya gadis itu yang merasa dibohongi sahabatnya sendiri.


“Aku bisa jelasin, Sel.” Wajah Kara terlihat sangat merasa bersalah. Dia memang tidak pernah jujur pada Seli tentang hubungannya dengan Azka.


Sementara Azka, kini malah menatap wanita lain yang mematung di tempatnya. Azka sama sekali tidak menduga akan bertemu dengannya lagi di situasi yang sangat tidak menguntungkan.

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋


__ADS_2