Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 45


__ADS_3

Azka kembali teringat janjinya pada ayah Kara untuk menjaga dan melindungi Kara. Dia juga teringat janjinya pada Kara untuk saling membuka hati. Akan tetapi, baru saja hubungan mereka membaik, Azka sudah menghancurkan semuanya dengan menyakiti hati Kara.


“Kalau kamu enggak bisa bahagiakan dia, setidaknya jangan nyakitin dia sampai pergi kayak gini, bo.doh!” Suara Arsha memekakkan telinga Azka yang masih menahan sakit di wajahnya.


Arsha pergi lagi untuk mencari Kara yang entah bersembunyi di mana. Dia sangat khawatir saat tahu Kara sendirian di luar sana, sementara gadis itu tidak punya siapa-siapa lagi.


“Mama pikir, kalian sudah hidup bahagia dan kamu sudah melupakan wanita itu. Ternyata mama salah, Azka. Kalau mama jadi Kara, mama akan tinggalin kamu dan hidup dengan baik.” Mama Dita ikut merasa kesal dan akhirnya meninggalkan putranya yang babak belur.


“Ka, papa tahu kamu tidak mencintai Kara, tapi yang kamu lakukan itu sangat melukai hatinya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Kalau kamu juga mematahkan hatinya, dengan siapa lagi dia bersandar. Jangan sampai kamu menyesal Azka. Kalau kali ini, Kara menuntut perpisahan dari kamu. Papa akan mendukungnya.”


“Berpisah?” Otak Azka mencerna arti dari kata perpisahan yang papanya katakan. Tiba-tiba, muncul di ingatannya seperti rekaman yang diputar ulang.


Bagaimana cara Kara tertawa, bagaimana wajahnya yang merona. Rasanya baru kemarin mereka bahagia, dan Azka juga merasakan itu. Akan tetapi, kesalahan terbesarnya mengancam kebahagian itu. Azka sadar, dia sudah menghancurkan pernikahannya sendiri.


“Enggak. Itu enggak akan terjadi.” Azka menggelengkan kepala dengan cepat.


“Pikirkan saja. Bagaimana perasaanmu yang sebenarnya?” Papa Tio meninggalkan Azka yang masih tersungkur di lantai.

__ADS_1


Sambil memegangi wajahnya yang sudah babak belur karena tangan Arsha, Azka kembali ke apartemen dan berharap Kara akan pulang. Namun, lagi-lagi dia tidak menemukan Kara. Rasa bersalahnya kian menusuk hatinya, ke mana lagi dia harus mencari?


Akhirnya, Azka kembali pergi dengan rasa khawatir yang membuatnya semakin merasa bersalah. Dia mendatangi rumah orang tua Kara dan lagi-lagi tidak menemukan keberadaan istrinya itu, membuat Azka semakin bingung harus mencari ke mana. Sementara di luar bukan tempat yang aman untuk Kara.


“Kamu ke mana sih, Mel?” Azka membenturkan kepalanya berulang-ulang ke setir mobil. Sampai akhirnya, dia mencoba bertanya pada hati dan pikirannya sendiri.


Sebenarnya, rasa cinta untuk Kara itu ada, walau baru sedikit. Juga tentang Olivia yang sudah memiliki kehidupan lain. Jika dia memaksa perasaannya pada Olivia, dia akan menyakiti banyak hati sekaligus.


Dengan gusar, Azka mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Dia merutuki kebodohannya sendiri yang tidak bisa menahan perasaannya.


***


Pagi harinya, Azka terbangun dan seolah melihat bayangan Kara yang tertidur di ranjang mereka. Namun, semua itu hanya bayangan saja. Azka sampai memegangi kepalanya yang terasa sakit karena tidak tidur dengan baik.


“Aku merindukanmu, Mel. Baru sehari saja, tapi rasanya sangat sakit. Kamu di mana, Mel?” Azka kembali merasa bersalah dan menyesali perbuatannya. Dia tidak ingin semakin kehilangan Kara, apalagi jika wanita itu menceraikannya, Azka tidak rela.


Masih dengan wajah biru keunguan bekas luka pukulan, Azka menunggu di kampus dan berharap akan bertemu dengan Kara.

__ADS_1


Dia melihat Seli yang berjalan seorang diri, lalu Azka keluar dari mobil dan mengejar gadis itu.


“Seli!” panggil Azka.


Seli pun menoleh dan melihat wajah Azka yang kacau.


“Pak Azka, ada apa?” tanya Seli bingung.


“Apa Karamel bersamamu?”


“Tidak ada. Dari kemarin ponselnya tidak aktif. Bukannya Pak Azka kemarin sangat yakin bahwa Kara akan pulang?”


Azka kembali mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku tidak tahu Karamel akan pergi dari rumah. Aku sudah sangat menyakiti perasaannya.”


“Kara itu memang lugu dan naif, Pak. Tapi tidak seharusnya bapak membodohi dan menyakiti perasaannya seperti itu. Wanita mana yang tidak sakit hati jika suaminya mencintai wanita lain. Asal Bapak tahu, Kak Oliv itu sudah punya calon suami dan beberapa hari lagi mereka akan menikah. Bapak tidak akan punya kesempatan buat kembali. Dan kalau aku jadi Kara, aku enggak akan sudi punya suami yang hanya dijadikan pelarian. Kalau pun saya tahu di mana Kara, saya tidak akan memberitahu Bapak.”


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2