Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 58


__ADS_3

Penampilan baru Azka membuatnya terlihat jauh lebih muda. Laki-laki itu sudah berusaha mengikuti saran dari Mondy yang menyuruhnya tampil seperti anak muda seumuran Kara.


Melihat reaksi Kara yang seperti terpesona, Azka merasa sangat yakin dengan ide sahabatnya itu.


“Aku keren ya, Mel?” tanya Azka setelah masuk ke mobil.


Kara menatapnya bingung dengan mulut menganga.


“Itu teman-teman kamu pada histeris gitu,” imbuh Azka yang seolah mengerti kebingungan istrinya.


“Kakak mau ada acara apa sih pakai baju kayak gini?” Kara masih sangat bingung dengan penampilan suaminya. Meski terlihat keren, tapi ini bukanlah gaya Azka yang biasanya.


“Mau jalan sama kamu, biar kamu enggak malu jalan sama om-om,” kata Azka yang kini menyalakan mesin mobilnya.


Kara memalingkan wajah menghadap jendela dan tersenyum. Dia merasa sedikit tersanjung saat Azka mau mengubah penampilan demi dirinya. Akan tetapi, ini tidaklah cukup untuk membuktikan perasaan cinta Azka untuknya.


“Gimana kalau kita jalan-jalan ke mal. Kamu suka main di time zone enggak?” tanya Azka saat menyadari Kara hanya terdiam meski ia sudah mengubah penampilannya.


“Aku enggak suka. Makan aja, Kak. Aku lapar,” jawab Kara.


“Oke. Mau makan di mana? Apa di dekat tempat kamu kerja?” tanya Azka.

__ADS_1


Kara menoleh dan menatap suaminya yang sedang mengemudikan mobil. Dengan ragu, dia menjawab, “Makan di warung penyet langganan aku mau, enggak?”


Azka mengerutkan kening, tapi dengan cepat dia menganggukkan kepala.


“Kalau langganan kamu, pasti enak. Buktinya kamu bolak-balik ke sana,” kata Azka yakin.


Kara menundukkan wajah. “Kalau rasanya sih biasa-biasa saja, tapi kenangannya yang enggak bisa dilupakan.”


Azka pikir, pasti itu kenangan bersama laki-laki yang sangat dicintai Kara. Apakah laki-laki itu ayahnya, atau malah mantan pacarnya?


Azka melajukan mobil mengikuti petunjuk yang Kara berikan. Setelah menempuh jarak yang jauh dengan waktu lumayan lama, akhirnya mereka sampai di tempat yang Kara maksud.


Hati sudah hampir petang saat mereka sampai, dan tempat makan itu juga masih terlihat sepi. Mungkin karena mereka baru menggelar tempat jualannya. Kara dengan antusias langsung mencari tempat duduk yang dia inginkan. Lalu, dia menyuruh suaminya untuk duduk agar dia bisa memesan makanan.


“Ayah biasanya duduk di sini. Hari ini aku mau duduk di sini juga,” kata Kara sembari meletakkan tas dan ponselnya di meja. “Kakak mau pesan apa?”


“Samain aja sama kamu, Mel.” Azka masih melihat sekeliling.


Kara mengangguk dan berjalan menuju penjual makanan. Lalu, dia pun memesan makanan.


Saat Kara memesan makanan, teman Kara mengirimkan pesan singkat yang membuat layar ponsel Kara menyala. Pesan dari laki-laki bernama Ello yang Azka tahu adalah mantan pacar Kara.

__ADS_1


Azka sempat melirik dan membaca pesan itu meski tidak begitu jelas karena posisinya terbalik dari tempat Azka duduk.


Kara, aku akan kembali. Bisa kita bertemu untuk ....


Hanya itu yang tampil di layar ponsel Kara karena Azka tidak mau mencari tahu dengan membuka isinya.


Kara telah kembali dan Azka memberitahu pada Kara tentang pesannya.


“Ada chat dari Ello,” kata Azka dengan ekspresi yang berbeda dari saat Kara meninggalkannya untuk memesan makanan.


“Ello?” Kara langsung memeriksa ponselnya. Dia yakin suaminya membaca sebagian isi dari pesan yang ditampilkan itu.


“Kamu belum putus dari dia?” tanya Azka kemudian memalingkan wajah.


“Udah kok. Waktu itu aku udah putusin dia,” jawab Kara jujur.


“Kalau begitu, kenapa dia mah ketemu kamu?” tanya Azka yang mulai merasa kesal.


Kenapa Kak Azka jadi kusut gitu mukanya? Apa dia cemburu?


“Ya, mungkin dia butuh penjelasan yang benar-benar jelas. Sama seperti Kak Azka waktu meminta penjelasan dari mantan kakak itu,” jawab Kara seolah punya rencana untuk membalas suaminya.

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 😚😚😚


__ADS_2