Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 38


__ADS_3

Azka mendekatkan wajahnya pada Kara yang baru saja mengatakan hal yang membuat Azka bersemangat. Apa gadis itu sudah benar-benar siap untuk bersatu dengannya?


Namun, satu hal yang mengganjal di pikiran Azka. Rasa cinta di hatinya untuk Karamel belum tumbuh. Bukankah jika dia melakukannya sekarang, itu berarti apa yang dikatakan Arsha ada benarnya, bahwa dia hanya memanfaatkan Karamel saja untuk kepentingannya sendiri.


Azka tersenyum lebar dan memantapkan hati untuk tidak melakukan tanpa rasa cinta.


“Apanya yang pelan-pelan?” Laki-laki itu mencubit gemas kedua pipi Karamel.


“Ya itu. Katanya Kakak mau hak dan kewajiban suami istri.” Kara mengerucutkan bibirnya dan memicingkan mata menatap wajah tampan suaminya yang sedang tertawa.


“Nanti kamu nangis, enggak sekarang, Mel. Kecuali kalau kamu minta duluan, itu artinya kamu nuntut hak dari nafkah batin kamu,” goda Azka.


Kara terperangah mendengar jawaban suaminya. Memangnya untungnya apa menuntut hal seperti itu dari suami?


“Kenapa juga harus nangis. Udahlah aku mau mandi aja, Kak Azka aneh.” Kara bergerak turun dari ranjang dan berjalan santai ke kamar mandi.


“Aneh karena enggak jadi pelan-pelan maksud kamu, Mel?” sahut Azka.


Kara memainkan bibirnya sambil manyun-manyun mengejek suaminya. Tidak heran karena tingkahnya memang seperti anak kecil.


Beberapa menit di kamar mandi, Kara sudah keluar karena hanya mencuci muka saja.

__ADS_1


“Cepet banget kamu mandi?” komentar Azka saat melihat istrinya keluar kamar mandi dengan baju yang sama.


“Mandi di rumah Mama saja, aku ‘kan enggak pakai bra sekarang,” balas Kara.


“Repot banget jadi cewek.”


“Aku pinjam jaketnya ya, Kak.”


“Yang kemarin aku pakai aja, kamu bau belum mandi.”


Lagi-lagi Kara hanya bisa mendengus kesal saat punggung suaminya sudah menghilang ke luar dari kamar mereka.


***


***


Hingga akhirnya, dia tergoda dengan sebuah cerita di aplikasi novel daring yang membuatnya penasaran.


Karena tidak fokus dengan ponselnya, Kara menabrak Azka yang sedang berdiri di ujung tangga menunggu mamanya memasak. Bukan Azka yang jatuh, tapi malah Kara dan ponselnya yang harus tersungkur ke lantai.


“Ya ampun, Karamel. Lihat apa sih kamu?” tanya Azka.

__ADS_1


Kara tidak menjawab dan dengan sigap menyembunyikan ponselnya karena tidak ingin ketahuan oleh suaminya. Tiba-tiba ada tangan yang terulur di depannya.


“Kak Arsha.” Kara menerima uluran tangan itu


“Hati-hati, Ra. Lantainya baru saja dipel pasti masih basah,” kata Arsha yang kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.


Kara menatap Arsha merasa tidak enak hati, tapi dia juga sedang belajar menghargai suaminya, Azka.


“Ayo, kita pergi!” Azka merangkul pinggang Kara hingga gadis itu sangat dekat dengannya. “Ma, kita pergi dulu ya,” pamitnya sambil menarik tubuh Kara yang sebenarnya bisa jalan sendiri.


Mama Dita berharap putranya itu bisa membuktikan kepada semua orang bahwa dia laki-laki normal, meski putranya yang lain sangat meragukannya.


Azka memilih tempat kencan pertama mereka dengan mendatangi taman hiburan. Kara yang sebenarnya masih berjiwa anak remaja pada umumnya, sangat antusias dengan tempat yang saat ini mereka kunjungi.


“Kamu suka, Mel?” tanya Azka.


“Suka banget, Kak.”


“Oke. Hari ini kita akan kencan, karena sekarang aku kekasihmu.”


“Apa?”

__ADS_1


“Iya, sekarang kita mulai pacarannya.”


Kembang kopinya jangan lupa 🤗💋


__ADS_2