
Azka merasa tertampar dengan kata-kata yang diucapkan oleh sahabat Kara, Seli. Dia memang tidak seharusnya melakukan hal itu di depan Kara, meski sebenarnya dia tidak menyadari jika Kara mendengarnya. Kebodohan terbesarnya adalah, tidak mengejar Kara dan meminta maaf sehingga gadis itu merasakan sakit hati yang sangat dalam.
Seli pergi mengabaikan Azka yang masih termenung dengan kata-katanya sendiri. Dia kembali ke mobil untuk mencari keberadaan Kara.
Beberapa hari Kara tidak pulang. Tidak ada sanak keluarga yang bisa Azka cari karena dia sendiri tidak begitu mengenal Kara. Dia semakin khawatir karena Kara sama sekali tidak memakai ATM yang dia berikan. Entah dengan apa gadis itu hidup, semakin membuat Azka frustrasi.
Laki-laki itu tidak datang ke kantor atau mengajar di kampus, dia masih sibuk mencari keberadaan Kara yang seperti ditelan bumi.
Sementara di tempat lain, Arsha yang kebetulan juga mencari Karamel, tanpa sengaja bertemu dengan gadis itu saat Kara membantu seorang wanita tua menyeberang jalan. Tanpa berpikir panjang, Arsha berlari meninggalkan motornya untuk menghampiri Kara.
__ADS_1
Dengan cepat, Arsha menangkap pergelangan tangan Kara yang hampir kabur saat melihat Arsha.
“Jangan lari, Ra. Aku bukan Azka. Aku Arsha yang mencintai kamu apa adanya,” kata Arsha setelah berhasil menangkap Kara. Napasnya masih ngos-ngosan karena berlari mengejar Kara tadi.
“Iya aku tahu kamu Kak Arsha, tapi aku enggak mau pulang. Jangan cari aku dan jangan ganggu aku lagi, Kak.” Kara menepis tangan Arsha dengan kasar. Walau Arsha tidak bersalah dengannya, tapi Arsha adalah adik dari suami yang telah menyakitinya.
Kara menatap tajam mata Arsha yang dengan terang-terangan mengatakan isi hatinya. Padahal saat ini dia dan Azka sedang memiliki masalah serius.
“Jangan mengkhawatirkan aku, Kak Arsha. Aku adalah istri kakakmu. Berhenti mengejarku dan jangan memanfaatkan situasi karena hubunganku dan kakakmu sedang tidak baik-baik saja. Aku masih menghargai Kak Azka sebagai suamiku, karena itu yang selalu Mama dan Kak Azka ajarkan sama aku,” ucap Kara lalu menundukkan wajah sendunya.
__ADS_1
“Suami? Kamu sadar enggak sih, Ra? Bahkan Mama itu memanfaatkan kamu. Memanfaatkan kepolosan kamu untuk membuktikan pada semua orang bahwa Azka itu normal. Entah dia benar-benar normal atau tidak, tapi yang aku tahu memang semenjak ditinggal pacarnya yang janda itu, dia tidak pernah berhubungan dengan perempuan lain, dan aku melihatnya sendiri saat dicium teman laki-lakinya.”
Hati Kara kembali tersayat mendengar Arsha yang memperjelas posisi Kara di hidup Azka. Tanpa terasa, air matanya kembali luruh mendengar semua ocehan Arsha yang justru memperburuk perasaannya.
“Tolong berhenti menjelek-jelekkan Kak Azka. Seburuk apa pun Kak Azka, dia masih suamiku. Kalaupun keluargamu memanfaatkan aku, setidaknya ayah tahu mana yang terbaik buat aku. Aku menerima dia karena ayahku, bukan karena keluargamu. Akan lebih baik lagi kalau Kak Arsha tidak ikut campur urusan kami.” Kara berjalan cepat meninggalkan Arsha yang ikut berjalan mengejarnya.
“Aku tidak peduli, Ra. Aku lebih pantas daripada Azka. Kamu berhak memutuskan kebahagiaan kamu, Ra. Bercerailah dengan Azka dan aku akan membawamu pergi jauh dari sini. Bukankah kamu sudah terbebas dari perjodohan itu?”
Kira-kira Kara mau enggak ya?
__ADS_1