Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 61


__ADS_3

Mama Dita mengundang Azka dan Kara untuk makan malam bersama. Maksud Mama Dita supaya hubungan Azka dan Kara kembali harmonis. Sebagai orang tua, tentu saja Mama Dita dan Papa Tio tidak ingin hubungan anak-anak mereka memburuk.


Hari ini juga, Kara mengirim pesan pada Seli untuk menjalankan rencananya.


“Mel, kamu cantik banget hari ini,” kata Azka saat mereka sedang dalam perjalanan menuju restoran.


Dipuji seperti itu, hati siapa yang tidak meleleh. Kara yang memakai dress putih itu tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya.


Azka sangat menyukai rona merah di pipi istrinya itu. “Aku ada rencana buat ngadain resepsi pernikahan kita, Mel. Biar semua orang tahu kalau aku punya istri secantik kamu,” ucap Azka sembari menyetir.


Kara sangat terkejut dengan rencana Azka itu. Resepsi pernikahan artinya semua orang akan tahu tentang hubungannya dengan Azka. Apa laki-laki itu ingin menunjukkan keseriusannya dalam pernikahan ini?


“A-aku, aku kayaknya ....”


“Enggak harus dalam waktu dekat ini, Mel. Tapi, kapan pun kamu siap, kita akan mengadakan resepsi,” sahut Azka yang paham dengan kegugupan istrinya.


***

__ADS_1


***


Mobil akhirnya sampai di depan restoran. Saat Azka mencari tempat parkir untuk mobilnya, Kara bilang pada Azka bahwa dia ingin ke toilet lebih dulu sebelum menemui mertuanya.


“Ya udah, ketemu di sana aja, Mel,” kata Azka sembari menatap istrinya yang keluar dari mobil.


Setelah Kara menutup pintu, Azka menunggu mobil yang akan keluar untuk digantikan dengan mobilnya. Baru, dia bisa parkir dan hendak ke restoran.


Saat Azka berjalan menuju pintu masuk, tiba-tiba ada yang menarik tangannya. “Azka, enggak nyangka aku bisa ketemu kamu di sini,” kata wanita yang menjadi mantan kekasih Azka itu. Wanita itu terlihat ragu-ragu di hadapan Azka.


“Oliv, kamu di sini juga?” tanya Azka antara bingung dan kaget.


“Iya, Azka. Kamu sendirian?” tanya Olivia.


“Aku sama istriku, Liv. Dia udah masuk duluan,” jawab Azka. Dia mencoba menyelami hatinya sendiri, tidak ada perasaan menggebu seperti saat pertama Azka melihat Olivia setelah sekian lama. Yang saat ini ia rasakan hanya rasa bersalah pada istrinya. Tiba-tiba dia ingin cepat menyusul Kara.


“Aku ingin bicara sebentar, Azka. Kamu bisa?” tanya Olivia ragu.

__ADS_1


Azka semakin gelisah. Pikirannya semakin melayang, takut istrinya akan marah saat melihat mereka berdua. “Maaf, Liv. Istriku menunggu. Aku enggak mau dia salah paham lagi.” Azka berbalik badan, tapi Olivia langsung mencegahnya.


“Kamu bilang, kamu masih mencintaiku, Azka. Apa itu masih berlaku?”


Pertanyaan yang sama sekali tidak Azka duga. Dia memang pernah mengatakan pada Olivia bahwa dia mencintai wanita itu, hingga membuat Kara pergi meninggalkannya.


“Waktu itu aku hanya belum memahami perasaanku, Liv. Maaf. Aku mencintai istriku.”


“Apa kamu mengatakan itu karena aku sudah menikah?” tanya Olivia mulai mendrama. Dia ingin mengetahui perasaan Azka yang sebenarnya.


“Bukan. Tapi karena sekarang aku sadar. Aku bisa hidup tanpa kamu, tapi aku tidak bisa hidup tanpa istriku. Aku sangat mencintainya, Liv. Maaf.”


“Azka, jangan bohongi perasaanmu.”


“Olivia stop! Aku hanya mau hidup tenang dengan istriku. Perkataanku waktu itu, tolong lupakan saja!” Azka berbalik badan dan kali ini, dia kembali dikejutkan dengan kedatangan Ello yang membawa buket bunga yang cukup besar.


Laki-laki itu berjalan memasuki restoran dengan perasaan bahagia yang terukir di wajah mudanya yang tampan.

__ADS_1


Darah Azka seketika mendidih saat melihat kedatangan Ello. Apa laki-laki itu datang menemui istrinya?


Kembang kopinya jangan lupa 🤗🤗


__ADS_2