
Azka mengantar Kara sampai ke kampus dan ikut turun untuk sekalian mengajar. Saat mereka turun dari mobil, memang tidak ada yang curiga dengan hubungan suami istri itu karena mengira Karamel adalah adik Pak Azka.
“Ra, tumben enggak diantar pacar kamu?” tanya Seli yang tiba-tiba datang dan langsung merangkul Kara.
“Pacar?” Wajah Kara mendadak panik. Masalahnya dia sedang berjalan di depan Azka yang mungkin akan marah nantinya.
“Iya, pacar. Kak Arsha,” jawab Seli dengan sangat jelas. Yang dia tahu, Arsha memang dekat dengan Karamel dan seisi kampus mengira Arsha adalah pacar Kara.
Kara melirik sang suami yang masih berjalan di belakangnya. Lalu, dia mengajak Seli untuk berjalan dengan cepat. Kara takut jika suaminya akan marah dan semakin memperburuk hubungannya dengan Arsha.
***
Azka baru selesai mengajar dan akan ke ruangannya. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Seli yang kebetulan lewat juga. Gadis itu berjalan sendirian tanpa ada Kara di sampingnya. Hal yang bisa dibilang sangat langka.
“Seli, bisa ke ruangan saya sebentar?” tanya Azka.
__ADS_1
Seli langsung salah tingkah mendengar pertanyaan sang dosen tampan. “I-iya, Pak,” jawabnya tanpa ragu.
Seli mengikuti Axka ke ruanhannya. Dia tidak tahu apa yang akan Azka lakukan, karena melihat wajah tampannya saja sudah membuatnya lupa daratan.
“Duduk dulu, Seli!”
“Ah, iya, Pak.”
“Kamu sudah lama berteman dengan Karamel?” tanya Azka setelah Seli duduk.
Azka menggut-manggut. “Jadi, kamu tahu dong pergaulan Karamel? Saya takutnya dia salah bergaul saja.”
“Oh itu. Iya, tahu banget, Pak. Meskipun dia itu kurang pinter, tapi dia anak yang baik kok, Pak. Dia ‘kan temenan sama saya.”
“Sebelum ayahnya meninggal, dia suka ....”
__ADS_1
“Kalau masalah itu, dia enggak bergaul sama saya, Pak. Jadi, dia itu punya cowok namanya Ello. Pacarnya itu kuliah di luar kota. Mendiang ayahnya itu kolot banget, Pak. Kara enggak boleh keluar rumah kalau lewat maghrib. Nah, pas udah mulai kuliah ini, dia mulai berontak, ya namanya anak muda ‘kan pengen juga bergaul. Nah, kenalanlah dia sama Alex, jadi pulang terlambat. Mungkin karena itu, ayahnya terlalu memikirkan kenakalan Kara yang sebenarnya baru dimulai. Jadi, Pak Azka jangan marahin dia ya, dia enggak nakal kok sebenarnya, apalagi temenannya sama saya,” sahut Seli panjang lebar.
Seli tanpa sadar menceritakan semua yang dia tahu tentang Karamel pada Azka. Padahal, dia tidak tahu siapa Azka. Hanya karena Azka tampan, dia dengan mudah menghianati temannya.
Ini anak mantep juga buat dikorek-korek informasinya. Aku baru mancing sedikit, langsung saja nyerocos.
“Oh, bagus kalau dia berteman sama kamu. Saya pikir, dia itu terlalu polos atau pura-pura polos.” Azka tersenyum mengingat istrinya yang masih bingung soal edukasi seekssual.
“Kalau masalah itu, ya dia memang begitu, Pak. Oh iya, pasti di rumah Pak Azka sering ngajarin Kara ya, saya mau juga dong diajarin, Pak.”
“Diajarin apa?” Azka memicingkan mata. Bayangannya masih tertuju pada kejadian tadi malam saat dia menjelaskan tentang hubungan suami istri pada Kara. Apa jangan-jangan Seli juga mau?
“Diajarin mata kuliah Pak Azka dong. Kara ‘kan lemot banget, pasti di rumah Pak Azka ngajarin dia lagi, ‘kan?”
Kalau di rumah pelajarannya beda, Seli. Pelajaran biologi khusus Karamel.
__ADS_1