
Kara menangis tersedu di dalam taksinya. Dia sama sekali tidak menyangka jika suaminya mempunyai cinta lama yang belum usai. Air mata yang mengalir di pipinya cukup menjelaskan rasa kecewa yang sekarang di rasakan gadis itu.
Yang saat ini ingin dia tuju hanya satu tempat, dan itu adalah makam ayahnya. Sopir taksi yang mengantarnya tidak berani banyak bertanya dan akhirnya mengantarkan Kara ke tempat pemakaman dengan selamat.
Dengan langkah gontai Kara berjalan menuju tempat peristirahatan terakhir sang ayah. Langit mendung yang menyelimuti tempat itu seakan mengisyaratkan isi hatinya saat ini. Melihat makam ayahnya dari kejauhan, Kara semakin menangis dan akhirnya berlari karena tidak sanggup lagi menahan kesedihan lebih lama.
Gadis cantik itu ambruk di makam ayahnya dengan kesedihan yang sangat terasa.
“Ayah, maafkan Kara. Kara terlalu bodoh, Ayah,” adunya sambil memeluk nisan sang ayah. “Kara enggak mau sama Kak Azka lagi. Kara enggak mau jadi istrinya. Kak Azka udah jahat.”
Gadis lugu itu menumpahkan segala kesedihannya pada sang ayah yang tidak lagi bisa menjawab. Seberapa keras pun Kara menangis ayahnya tidak bisa lagi menenangkannya seperti dulu. Bahkan, laki-laki yang dipercaya ayahnya, kini menjadi sumber dari segala kesedihannya.
“Aku pikir dengan belajar membuka hati untuk Kak Azka, dia juga membuka hati untuk aku, Ayah. Seandainya aku tahu Kak Azka masih mencintai orang lain, aku pasti akan menutup rapat hati aku. Rasanya sangat sakit di sini, Ayah.” Kara memukul dadanya yang terasa sesak dan menyakitkan.
Kara masih terus menangis di makam itu. Tiba-tiba, tetesan air ikut turun dari langit, membasahi gundukan tanah di pemakaman itu. Semakin lama, semakin deras, dan Kara terpaksa pergi karena tidak ingin sakit karena kehujanan. Dia melambaikan tangan pada makam ayahnya dan berjalan dengan cepat menuju halte bis yang tidak jauh dari makam.
__ADS_1
Kara termenung menunggu kedatangan bis bersama beberapa orang yang kebetulan juga berteduh.
Aku tidak akan menemui Kak Azka lagi. Walaupun aku tidak akan menjadi istri yang baik karena pergi dari rumah, tapi aku tidak mau melihat suami yang mencintai wanita lain.
Sementara itu, Azka menunggu dengan cemas di apartemennya. Saat pulang dan tidak menemukan istrinya di apartemen, dia langsung menghubungi mamanya karena berpikir Kara ada di sana, tapi ternyata gadis itu tidak ke rumah mertuanya.
Kamu ke mana, Mel?
Aska terus menghubungi ponsel istrinya yang masih saja tidak aktif sedari tadi membuatnya semakin cemas.
Karena perasaannya semakin gelisah, Azka pulang ke rumah orang tuanya sambil mengawasi rekaman cctv di apartemennya yang terhubung dengan ponselnya. Dia berharap Kara akan pulang karena hujan deras sejak sore belum juga reda.
Dia mencari ibunya dan bertanya tentang Kara.
“Kenapa kamu cari dia di sini? Kara bilang kalian pergi berdua naik motor.” Mama Dita jadi ikut cemas dengan keadaan Kara yang sampai jam sepuluh ini belum juga ditemukan.
__ADS_1
“Dia tadi naik taksi, Ma. Aku pikir dia pulang, tapi aku cari-cari enggak ada, bahkan cari ke rumahnya juga enggak ada.”
“Kenapa dia pulang naik taksi? Apa motor kamu mogok?” tanya Papa Tio yang juga khawatir.
“Aku ketemu Oliv tanpa sengaja, dan Kara tahu kalau aku masih cinta sama Oliv, Pa,” jawab Azka dengan lirih. Dia menyadari kesalahan terbesar yang sedang dia lakukan.
“Apa?” teriak Papa Tio diiringi dengan taamparan keras di wajah Azka.
Secara bersamaan, Arsha yang baru pulang juga mendengar apa yang Azka katakan. Laki-laki itu berjalan dengan kesal menghampiri kakaknya.
“Kalau kamu enggak bisa jagain dia, kenapa kamu bersedia menikah sama dia?” Arsha melayangkan pukulan keras di wajah Azka. Di menjatuhkan kakaknya itu ke lantai, dan menghaajarnya habis-habisan.
“Arsha hentikan!” Papa Tio berusaha melerai Arsha yang sangat marah dan kecewa dengan sikap kakaknya.
Sementara Azka memegangi wajahnya yang mengeluarkan darah segar karena pukulan adiknya sendiri. “Semua ini juga karena Papa. Kenapa Papa jodohin aku sama Kara yang jelas-jelas nggak aku cintai, Pa. Kenapa bukan Arsha saja?” teriak Azka dengan kesal.
__ADS_1
“Tapi kamu sendiri yang meminta izin pada ayahnya untuk menikahi Kara sebelum ayah Kara meninggal. Kamu lupa itu, Azka? Sekarang di mana janji dan tanggung jawab kamu?”
Menurut kalian, Kara bisa maafin Azka atau enggak ya?