Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 59


__ADS_3

Azka kembali merasa tertampar saat Kara menjelaskan posisi Ello saat ini sama sepertinya yang ditinggalkan begitu saja oleh Olivia. Akan tetapi, memang lebih baik jika mengetahui alasan sesungguhnya dan melanjutkan hidup dengan baik, daripada menjalani hidup yang dirundung rasa penasaran setiap saat karena tidak mendapat alasan yang jelas.


Keputusan Azka saat mengejar Olivia memang sudah tepat. Karena, jika tidak diselesaikan sekarang maka dia tidak akan bisa berjalan ke depan dengan tenang dan terus menoleh pada masa lalunya.


Namun, kesalahan terbesar Azka adalah mengatakan perasaannya pada Olivia yang belum dia sadari bahwa semua sudah berubah. Apalagi ada Karamel yang sebenarnya sudah menempati relung hatinya tanpa dia sadari. Sekarang, tidak ada gunanya menyesali hal yang telah terjadi karena yang terpenting adalah bagaimana caranya membuktikan pada Kara bahwa dia mencintai istrinya itu.


“Apa kamu akan bertemu dengan Ello?” tanya Azka saat mereka selesai makan. Sedari tadi dia hanya diam menahan rasa penasarannya, tetapi rasa penasaran di otaknya membuat Azka memberanikan diri untuk bertanya.


“Seharusnya begitu. Belajar dari pengalaman saja, Kak. Kalau nanti Ello melanjutkan hidup dan suatu saat bertemu denganku yang sudah menikah, lalu di hatinya masih terus mencintaiku. Apakah itu tidak menyakiti pasangannya yang baru,” jawab Kara dengan nada sindiran.


Kara mengetikkan sesuatu di ponselnya yang membuat Azka terbakar cemburu. Kara bersorak bahagia dalam hatinya. Dengan begitu, Azka akan menyadari perasaannya padanya.


Padahal sebenarnya Kara sedang berkirim pesan dengan Seli, sahabatnya.


Azka memberikan dompetnya pada Kara agar dia membayar dengan uangnya. Kara pun setuju. Dia membayar sambil sesekali membalas pesan Seli. Saat membuka dompet Azka, dia menemukan sebuah foto yang terlihat usang. Seorang anak kecil yang sedang memangku bayi.


‘Siapa dia?’ batin Kara yang tidak sadar bahwa itu adalah foto masa kecilnya bersama Azka.


Selesai membayar, Kara mengembalikan dompet itu pada Azka tanpa bertanya mengenai foto itu.


“Mau jalan-jalan enggak? Kayaknya dekat sini ada taman, Mel!” ajak Azka.

__ADS_1


Kara hanya mengangguk setuju. Meski reaksi Kara terlihat biasa saja dan tidak sesuai ekspektasi Azka, tapi laki-laki itu tetap merasa bahagia.


Sesuai dugaan Azka, memang di sana ada sebuah taman yang cukup luas. Saat memasuki taman usai memarkirkan mobil, Kara kembali teringat dengan ayahnya.


“Mau permen kapas, Mel?” tanya Azka saat melihat penjual permen kapas.


Pertanyaan yang sama yang biasa ayah Kara tanyakan di tempat yang sama.


“Ayah pernah cerita tentang tempat ini juga?” tanya Kara sembari menatap wajah suaminya yang berdiri di sampingnya.


“Enggak. Memangnya kamu sama Ayah suka ke sini?”


“Ya, dulu.”


Azka tidak berani merangkul pundak Kara meskipun dia sangat menginginkannya. Dia membelikan Kara permen kapas dan memakannya bersama sambil berjalan kaki. Mereka menghabiskan waktu dengan mengelilingi taman, memberi kesempatan untuk Kara bernostalgia.


***


***


Kara sedang berdandan dan bersiap-siap untuk pergi. Azka yang sedang mengambil baju di kamar, menatap gadis itu dengan bingung. Mau ke mana istrinya itu dengan wajah yang sangat cantik. Rambutnya dibiarkan tergerai hanya dihias jepit pita besar.

__ADS_1


“Kamu mau ke mana, Mel?” tanya Azka setelah mengambil baju di lemari.


“Mau ketemu Ello,” jawab Kara. Dia menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya hingga membuat Azka menutup hidung.


“Kamu dandan demi ketemu cowok lain?” tanya Azka dengan ekspresi menahan kesal.


“Ya, masa’ aku pakai baju tidur di mal,” jawab Kara santai.


“Aku antar.”


“Enggak usah, Kak. Aku naik taksi saja,” jawab Kara yang kemudian berpamitan dan meninggalkan suaminya di apartemen.


Azka mengepalkan tangan dan dengan cepat berganti pakaian, memakai topi dan jaket lalu menyambar kunci mobil dan mengikuti istrinya. Beruntung saat Kara naik taksi, dia masih melihatnya. Karena tidak mau kehilangan jejak, Azka mengurungkan niatnya untuk naik mobil. Dia mencegat ojek yang kebetulan lewat. Hingga akhirnya, Azka bisa mengikuti istrinya diam-diam.


Kara memasuki sebuah pusat perbelanjaan yang sedang tidak terlalu ramai. Azka masih mengikuti diam-diam. Sampai seorang laki-laki muda dan tampan berkulit putih menghampiri Kara.


“Kok kamu di sini? ‘Kan aku bilang ketemu di foodcourt aja,” kata Kara.


“Aku sudah kangen banget sama kamu. Ya sudah aku tunggu di sini. Yang kamu bilang itu Cuma bercanda, ‘kan, Ra. Aku sayang banget sama kamu, aku salah apa sih?”


Azka berhasil mendengar pembicaraan Kara dan Ello meski dia harus berpura-pura menelepon seseorang.

__ADS_1


Jangan kebakaran ya, Om 🤣🤣🤣


__ADS_2