Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 56


__ADS_3

Kara baru selesai mandi dan keliar kamar untuk mencari tahu keberadaan suaminya. Laki-laki itu sedang sibuk memasak makanan spesial untuk makan malam. Selama hampir tiga bulan menikah, baru kali ini Kara melihat sendiri suaminya bisa memasak.


Kara duduk tenang di kursi makan, membuat Azka tersenyum menatapnya. Kara tampil cantik tanpa riasan, rambutnya di gelung ke atas menambah kesan cuek pada gadis yang telah beberapa hari ini Azka rindukan.


“Aku bikinkan kamu susu, sambil nunggu masakannya matang, kamu minum dulu ya,” kata Azka yang kemudian menyodorkan segelas susu hangat untuk sang istri.


“Kakak bisa masak?”


Gelas susu itu telah berpindah ke tangan Kara dan siap meluncur ke tenggorakannya.


“Bisa dong. Nanti kapan-kapan kita masak bareng, Mel.” Azka kembali fokus mencicipi masakannya sendiri. “Aku dengar, kamu sama ayah dulu suka masak bareng ya.”


Kara terdiam. Dia seperti terbawa ke masa saat ayahnya masih hidup. Menghabiskan banyak waktu bersama, bahkan memasak bersama. Sekarang, Kara menatap punggung laki-laki yang ayah percayakan untuk menggantikan posisinya. Tapi kenapa Kara masih meragukan perasaan suaminya.


“Kakak tahu dari mana?” tanya Kara.


Azka menyajikan hasil masakannya ke piring dan kemudian duduk di depan Karamel.


“Ayah sudah banyak cerita soal kamu,” jawab Azka sambil tersenyum. “Karamel, Ayah ingin kamu menyelesaikan kuliah. Itu yang Ayah minta dari aku. Ayah mau kamu tetap bisa kuliah, walaupun kita menikah.”

__ADS_1


“Aku akan lanjutkan kuliahku sambil kerja,” kata Kara masih dengan ekspresi datar.


***


***


Kara mulai kembali kuliah seperti biasa. Azka mengantarnya sampai ke depan kampus karena sejak Kara menghilang, dia sudah mengundurkan diri.


Melihat kedatangan Kara, Arsha berlari menemui gadis itu. Meski Kara sudah mengatakan untuk tidak mengganggu, tapi laki-laki itu tetap saja menemui kakak iparnya.


“Kara, aku mau bicara,” kata Arsha dengan napas tersengal.


Sadar situasi, Arsha mengajak Kara ke taman belakang kampus yang lumayan sepi.


“Kenapa sih?”


“Kara, kamu memaafkan Azka gitu aja?” tanya Arsha dengan kesal.


Kara mengerutkan kening, lalu menatap Arsha dengan tajam. “Memangnya kenapa?”

__ADS_1


“Dia masih mencintai orang lain dan kamu menerima itu? Kara, apa kamu secinta itu sama dia?”


“Kak Arsha, memangnya urusan kamu apa. Aku memaafkan atau tidak itu bukan urusan Kak Arsha. Kesalahan Kak Azka itu sebuah kejujuran. Kami menikah juga karena perjodohan, hal seperti ini wajar saja. Kecuali, dia ketahuan selingkuh, menikah lagi, atau lebih parahnya tidur dengan wanita lain. Lagipula, semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Dia suamiku dan aku lebih mengenal dia daripada Kak Arsha. Kamu orang lain yang enggak berhak ikut campur.”


Kara meninggalkan Arsha yang berusaha menarik tangannya. Akan tetapi, Kara sama sekali tidak peduli dengan adik iparnya itu.


***


***


Azka mendatangi kantor sahabatnya untuk sebuah urusan bisnis. Saat sampai di ruangan sahabatnya itu, laki-laki yang sedang duduk di kursinya itu langsung menangkap sinyal buruk di wajah Azka.


“Kenapa itu muka jelek terus sih dari dulu? Kapan gantengnya sih?” tanya laki-laki itu dengan wajah tengilnya.


“Lagi galau sama istri. Walaupun udah mau pulang ke rumah, tapi mukanya tetep jutek dan ngomong seperlunya aja, Mon. Aku bingung banget,” jawab Azka sambil duduk di kursi dan memijat kepalanya yang terasa pening.


“Ya ampun, Azka. Makanya jadi orang jangan terlalu kaku. Yang sedikit humoris gitu loh. Aku ahlinya soal itu.”


****

__ADS_1


Coba tebak, siapa temannya Azka ini?? Salah satu tokoh di novelku yang lain 😄😄


__ADS_2