Istriku Bukan Adikku

Istriku Bukan Adikku
IBA — Bab 49


__ADS_3

Melihat wajah suaminya yang babak belur, Kara menjadi sangat khawatir, tetapi dia masih belum siap kembali pada laki-laki itu.


Sementara Azka sedikit merasa lega melihat istrinya yang baik-baik saja. Pikiran negatif yang selama ini berkecamuk di kepalanya kini ditepis dengan gambar Kara yang secara fisik memang baik-baik saja.


“Kamu baik-baik saja, Mel? Maaf sudah membuatmu kecewa,” kata Azka dengan lirih.


Mama Dita yang sengaja menguping dari jauh merasa tersentuh dengan komunikasi yang kembali terjalin itu. Tanpa terasa air matanya ikut jatuh mendengar suara Kara yang mengkhawatirkan Azka, begitupun dengan Azka yang terlihat sangat menyesali kebodohannya.


“Apa kamu sekarang bahagia dengan wanita itu, Kak?” tanya Kara dengan perasaan gusar. Hatinya ingin menjerit, tapi kalimat itu meluncur begitu saja tanpa bisa dia kontrol lagi.


Azka semakin merasa bersalah karena pertanyaan Kara itu. Dadanya terasa sesak mendengar suara istrinya yang bergetar menanyakan perasaannya pada wanita lain. Azka tahu, seberapa kecewanya Kara saat ini.


Hampa, itu yang Azka rasakan sejak kepergian Kara. Dia baru menyadari perasaannya pada Kara yang perlahan menggeser posisi wanita masa lalu itu di hati Azka. Namun, karena terlambat menyadari, Azka justru menyakiti perasaan Kara yang juga mulai membuka hati untuknya.

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa bahagia dengan orang lain saat kamu sudah mengisi hatiku, Mel? Aku ingin bertemu sekali saja untuk menjelaskan semuanya, Mel. Kasih aku satu kesempatan!” pinta Azka tak berdaya. Seandainya dia bisa masuk ke dalam ponselnya, pasti sudah dia lakukan sejak tadi. Akan tetapi, menyadari kemustahilan itu, membuatnya semakin frustrasi.


“Aku masih perlu waktu sendiri, Kak. Aku enggak bisa pulang sekarang,” jawab Kara.


“Sekali saja, Mel. Aku ingin menjelaskan secara langsung, Mel.” Azka terus berusaha meyakinkan Kara, dia tidak ingin kisahnya dan Olivia terulang kembali. Berpisah tanpa kejelasan dan berujung salah paham.


Mungkin, jika tidak bertemu dengan Olivia waktu itu, hubungan Azka dan Kara akan baik-baik saja dan Azka akan terus merahasiakan kisahnya dan Olivia. Atau justru karena bertemu Olivia dan berpisah dengan Kara itulah yang membuat Azka menyadari perasaan sebenarnya. Perasaan yang mungkin baru tumbuh, tapi mampu membuatnya menggila. Dia pernah merasakan sakitnya kehilangan, dan karena itulah Azka tidak ingin mengulanginya lagi.


Kara bertanya pada tantenya, apakah dia seharusnya menemui Azka atau tidak? Dan, jawaban dari bibinya itu membuat Kara memutuskan untuk mau bertemu dengan Azka.


***


***

__ADS_1


Azka berkali-kali melirik jam di pergelangan tangan dengan gelisah. Masih ada wakyu sepuluh menit sebelum jam yang ditentukan, tapi Azka sudah sangat tidak sabar. Dia menatap bunga di tangan yang dihias dengan pita dan kertas khusus yang begitu cantik. Entah apakah Kara menyukainya atau tidak, yang jelas ini kali pertamanya dia membelikan bunga untuk wanita.


Dua puluh menit berlalu, belum ada tanda-tanda kedatangan Kara yang membuat Azka menghembuskan napas kasar berkali-kali. Laki-laki itu semakin gelisah, dan terus mencoba menghubungi Kara meski ponselnya tidak pernah aktif lagi.


Sampai akhirnya, saat Azka sudah hampir pergi, Kara datang ditemani bibinya. Azka belum pernah melihat wanita itu sebelumnya, dan mereka pun mulai berkenalan sekaligus basa basi. Setelahnya, bibi Kara itu meninggalkan mereka berdua untuk bisa menyelesaikan masalahnya.


“Maaf, aku terlambat,” kata Kara memulai pembicaraan karena sedari tadi Azka hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Bukan masalah kok, Mel. Sekarang ada masalah lebih penting yang harus kita selesaikan.” Azka menghela napas berat, takut pada keputusan Kara nantinya, tapi apa pun itu pasti akan lebih baik daripada saling berjauhan tanpa kejelasan.


“Kalau memang di hati Kak Azka hanya ada wanita lain yang tidak bisa aku gantikan, aku rasa lebih baik kita pikirkan lagi kelanjutan pernikahan kita.”


“Enggak, Mel. Sekarang aku sadar, kamu sudah ada di hati aku. Aku sudah mulai mencintai kamu, Mel. Kemarin aku memang mengatakan itu saat bertemu Oliv, aku terlalu syok, setelah bertahun-tahun memendam sendiri pertanyaan-pertanyaan tentang dia, dan tiba-tiba dia muncul begitu saja. Aku ... aku terlalu terkejut, Mel. Maafkan aku.”

__ADS_1


Kara diam sesaat sebelum akhirnya kembali angkat bicara. “Aku tidak yakin dengan itu, tapi kalau Kakak bisa membuktikannya, silahkan! Buat aku yakin kalau aku memang berarti buat kamu, Kak.”


kembang kopinya jangan lupa 💋💋


__ADS_2