
Hari yang cukup melelahkan bagi Karamel. Meski sangat lelah, dia sangat bangga karena beberapa hari ini ada beberapa orang yang membeli banyak ponsel melalui dirinya. Itu artinya, Kara akan mendapatkan banyak bonus bulan ini.
“Karamel, kamu mau pulang?” tanya seorang laki-laki yang menjadi teman kerja Kara.
“Iya, Dev. Kenapa memangnya?” Kara berbalik dan menatap laki-laki jangkung itu. Mungkin tingginya sama dengan Azka.
“Kalau butuh tumpangan, bareng aku aja naik motor. Daripada naik angkot,” ajak laki-laki bernama Devan itu.
Kara ingin menolak, tapi sebagai karyawan baru yang sebenarnya memang butuh tumpangan, membuatnya aneh jika menolak kebaikan teman kerjanya.
“Gimana ya, sebenarnya aku ....”
“Udah, cuma anter aja, enggak akan marah pacar kamu,” kata Devan yang langsung menyodorkan helm pada Karamel.
“Ih, siapa yang punya pacar,” balas Kara sambil cemberut, tapi dia menerima helm pemberian Devan dan akhirnya naik ke boncengan motor matic milik laki-laki itu.
Berboncengan dengan motor, Kara seolah kembali mengingat masa-masa bersama Azka. Motor Devan sama persis dengan motor yang dimiliki Azka, yang saat itu menjadi pertama dan terakhir mereka berboncengan.
Kara terdiam memikirkan hubungannya dengan Azka. Dia sangat sadar bahwa saat ini ada jarak yang sangat panjang yang ia ciptakan dalam pernikahan yang baru seumur jagung itu.
Azka terus berusaha mendekatinya meskipun dia enggan mengikis jarak antara mereka. Mungkin dia berdosa, tapi luka hatinya belum sembuh dan itu membuat dinding yang melindungi hatinya semakin tinggi. Sulit bagi Kara memaafkan Azka karena dia mendengar sendiri ucapan suaminya yang mengatakan tidak ada yang bisa menggantikan sang mantan di hatinya.
Sepanjang jalan hanya melamun, membuat Kara tidak sadar saat Devan menanyakan di mana tempat tinggalnya.
“Melamunin apa sih, dipanggil-panggil enggak dengar?” tanya Devan yang menepikan motornya karena tidak tahu alamat rumah Kara.
__ADS_1
“Eh, enggak kok, Dev. Cuma lagi ada mikirin sesuatu aja,” jawab Karamel. “Rumah aku di gang sana, Dev.”
“Jangan banyak melamun, nanti kerasukan. Oke aku antar sampai rumah ya,” tawar laki-laki tampan itu.
“Oke.”
Seperti yang Devan katakan, laki-laki itu mengantarkan Kara sampai depan indekosnya. Saat motor itu berhenti dan Kara turun, sebuah mobil ikut berhenti di belakang mereka.
Kara mengenali mobil berwarna hitam itu. Itu adalah mobil Azka, suaminya. Azka tidak tahu tempat tinggalnya, apa laki-laki itu mengikutinya dari tempat kerja?
Azka langsung turun dengan wajah murung menahan kesal. Dia merasakan cemburu saat melihat Kara dibonceng oleh laki-laki lain.
“Mel,” sapa Azka dengan wajah masam. Meski dadanya terasa sesak ingin meledak, tapi dia masih bisa menahan karena tidak mau membuat keributan apalagi Karamel masih marah padanya.
“Kakak ngikutin aku?” tanya Kara curiga. Dia bisa melihat raut wajah Azka yang seperti marah dan kesal, tapi Kara tahu, Azka sedang berusaha menahan emosinya.
“Teman kerja,” jawab Kara datar.
“Kenalin, aku Devan temannya Kara,” kata Devan sembari mengulurkan tangan.
“Azka, suaminya Karamel,” balas Azka yang terdengar tegas.
Kara melotot karena dari awal memang dia ingin menyembunyikan pernikahannya.
“Devan, makasih ya udah antar aku sampai rumah. Maaf, aku ada urusan sama Kak Azka sebentar,” ucap Kara sebelum Devan bertanya dan tahu lebih jauh tentang hubungan pernikahannya yang sedang bermasalah.
__ADS_1
“Oke. Sampai ketemu besok, Kara.” Devan menyalakan lagi mesin motornya sembari melirik Azka.
Setelah Devan pergi, Kara langsung memasang wajah datar dan bertanya pada suaminya, “Ada apa Kakak ke sini?”
Suara Kara terdengar lebih dingin. Sangat berbeda dengan suaranya saat masih ada Devan.
“Aku enggak suka kamu jalan sama cowok lain. Biar bagaimana pun aku masih suami kamu, Mel,” jawab Azka terus terang.
“Aku cuma diantar pulang. Bukan jalan dalam artian kencan,” balas Kara.
Azka menghela napas berat. Rasa cemburu di hatinya bisa saja semakin merenggangkan hubungannya dengan Kara, dan niat Azka memperbaiki hubungan, akan sia-sia.
“Iya, aku tahu, Mel. Tapi, tetap saja aku cemburu. Tadinya aku cuma pengen lihat kamu sebentar, tapi pas lihat kamu dibonceng sama cowok, spontan aja aku ngikutin kamu. Maaf,” ucap Azka terdengar penuh sesal.
Kara bersorak dalam hati saat Azka mengakui kecemburuannya. Apalagi tatapan cemburu Azka saat melihat Devan.
“Em, iya enggak apa-apa.”
Respons Kara membuat Azka mengelus dada. Akan tetapi, itu sama sekali bukan hal besar yang akan membuat Azka menyerah.
“Mel, punya kopi? Aku kangen kopi buatan kamu,” kata Azka berharap bisa mempunyai waktu lebih lama bersama Kara.
“Enggak ada, aku ‘kan enggak suka kopi,” jawab Kara.
“Ya udah, kita beli dulu aja kopinya. Kamu mau ‘kan, Mel?”
__ADS_1
****
Modus aja terus ya Om, namanya juga usaha. Minta kopi sama readers dong 😄😄😄