
Setelah memikirkan banyak pertimbangan dan juga rayuan dari Azka, Kara akhirnya bersedia pindah ke kamar Azka. Mereka mulai memindahkan barang-barang Kara yang ada di kamar lama dan membawanya ke kamar Azka.
"Huft, capek banget." Kara merebahkan tubuhnya di kasur milik Azka yang entah muat atau tidak dipakai tidur berdua.
Mel, menurut kamu, pernikahan kita akan seperti apa?" tanya Azka yang kini ikut merebahkan diri di sebelah Kara.
Tempat tidur itu terasa sempit, Azka pikir itu karena boneka-boneka Kara yang memenuhi tempat tidur.
"Seperti apa bagaimana? Ya seperti ini saja, Kak. Mau seperti apa memangnya?" Kara malah bertanya balik.
"Ya, setelah dipikir-pikir, kita sudah terlanjur menikah. Kita tidak mungkin bercerai 'kan, Mel?" tanya Azka yang membuat Kara terduduk. Azka pun ikut duduk dan kini mereka saling berhadapan.
"Maksud Kakak?" Kara mulai curiga dengan sikap Azka.
"Gini, Mel. Entah apa pun alasan kita menikah dulu. Sekarang kita sudah terlanjur menikah, dan aku rasa kamu gadis yang baik. Buktinya Mama langsung suka sama kamu, hal yang belum tentu terjadi dengan wanita lain jika kita berpisah. Ada banyak orang yang akan kecewa kalau kita berpisah, Mama, Papa, dan terutama Ayah kamu yang sudah meninggal," kata Azka dengan nada lembut.
__ADS_1
Kara mendengarkan dengan berusaha tidak menyela lagi. Mama Dita mengajarkannya untuk bersikap baik sebagai istri salah satunya adalah mendengarkan dulu apa yang suaminya katakan.
"Mel, kamu udah enggak punya siapa-siapa. Kenala kita enggak coba buka hati untuk menerima pernikahan ini. Setidaknya kita coba dulu, Mel. Kalau memang enggak bisa, baru kita pikirkan lagi. Kamu paham maksud aku?"
Kara menunduk mendengarkan dan menelaah apa yang suaminya katakan.
"Apa kamu rela kehilangan Mama Dita setelah kita bercerai? Belum tentu kamu mendapatkan mertua sebaik Mama."
Kali ini Kara mengangguk, membenarkan apa yang Azka katakan.
"Apa?" Azka menyentuh tangan Kara dan mendengarkan apa yang istrinya itu inginkan.
"Aku masih ingin bebas di luar sana. Aku baru merasakan gimana rasanya kuliah. Aku masih ingin punya banyak teman dan pergi bebas sama teman-teman aku. Kalau teman-teman aku tahu, mereka mungkin enggak ada yang mau temenan sama aku lagi," jelas Kara dengan wajah yang tertunduk.
Azka memahami apa yang Kara rasakan. Dia masih remaja yang baru mengenal dunia. Memaksanya dewasa pasti tidak mudah.
__ADS_1
"Iya, Mel. Aku enggak akan batasi pertemanan dan kegiatan kamu selagi bukan hal yang negatif, tapi aku juga punya syarat."
"Apa?"
"Di rumah ini, atau saat kita berdua saja. Kamu harus menghormati aku layaknya suami. Kamu bisa?"
Meski belum terlalu paham Kara mengangguk patuh. Azka lalu memeluknya dan membawa tubuh mungil itu untuk rebahan di kasur.
"Jadi istri itu, harus nurut apa yang suami bilang. Jujur enggak boleh bohong. Ke mana-mana harus pamit, dan kalau kamu punya pacar. Kamu harus mengakhirinya sekarang." Azka mencubit gemas pipi tembam Kara. "Kamu bisa, 'kan?"
"Iya, aku bisa kok putusin Ello. Lagian aku sama Ello itu baru coba-coba aja, daripada jomblo diledekin terus sama Seli," jawab Kara sambil cemberut.
Sekarang, dia harus memikirkan cara bicara dengan Ello ubtuk mengakhiri hubungan yang baru berjalan beberapa bulan itu.
Mon maaf ya. Kalau nggak nyaman bacanya 🙏🙏🙏
__ADS_1