
Karena di izinkan, Aisyah langsung mulai memasak.
"Ibu mau masak apa hari ini?" Tanya Aisyah.
"Ibu rencananya mau masak ikan sambel teri, sayur pare pakai udang, ikan tumis cabai hijau, dan cumi sambel rempela pakai pete." Ujar bunda Naila.
"Waduh obat kolesterol semua ya," gumam Aisyah.
"Baik buk, biar Aisyah yang masak dan ibu silahkan duduk saja."
Aisyah sangatlah suka memasak.
Akhirnya tidak butuh 2 jam, Aisyah telah selesai memasak semua menu yang tadi disebut kan oleh bunda Naila.
"Wow wangi sekali masakan kamu, jadi lapar bunda nak." Puji bunda Naila pada masakannya Aisyah.
"Ah ibu bisa aja, Aish hanya berharap semoga anak sama suami ibu suka sama masakan Aish ya bu." Kata Aisyah.
Setelah acara masak memasak, mereka langsung balik ke kamar karna sudah waktunya untuk sholat maghrib.
Setelah sholat Aisyah duduk di ruang keluarga bersama Tiara sambil ngobrol dan ternyata emang Tiara ramah orangnya pun cepat tangkap.
Sedang asik-asiknya ngobrol tiba-tiba terdengar dua orang mengucap salam.
"Assalamu'alaikum," ucap dua pria yang beda usia namun mereka masih tetap gagah.
"Wa'alaikumussalam ayah, Dev," sahut bunda.
Setelah salam, Devan langsung masuk dan tidak melihat Aisyah di ruang keluarga.
__ADS_1
sedangkan ayah Bram langsung mandi sebab mereka sudah sholat dan sudah saatnya makan malam.
Aisyah, Tiara ayo kita ke ruang makan!" Panggil bunda Naila.
"Iya buk, ayo Tiara!" Ajak Aisyah.
"Iya mbak." Jawab Tiara cepat.
Setelah sampai ruang makan, mereka langsung duduk sambil menunggu dua laki-laki tersebut.
Tak berselang lama, ayah Bram datang ke ruang makan.
"Wah ada tamu ya bunda?" Tanya ayah Bram.
"Iya ayah dan ayah tahu gak? Ini Aisyah yang masak dan satu lagi Aisyah keponakannya Santi loh ayah." Jelas bunda sambil mempekenalkan Aisyah.
"Wah pantas bisa masak, ternyata keponakannya koki ternama toh." Ujar ayah Bram.
"Nah itu dia yang di tunggu datang juga." Ucap Tiara setengah berteriak.
"Kakak lama banget sih, kayak anak perawan saja." Sungut Tiara pura-pura kesal.
Sedangkan Devan bukannya menjawab tapi dia bengong karena syok. Hampir saja copot jantungnya karena melihat Aish di sana.
Bunda Naila dan ayah Bram hanya bisa tersenyum melihat anaknya seperti ABG yang sedang di mabuk asmara, mesam mesem gak jelas alias salah tingkah.
"Devan sampai kapan kamu mau berdiri disana nak? Apa kau tak mau makan sehingga kau hanya menatap Aisyah saja?" Kumat sudah penyakit jahil ayah Bram.
Sedangkan Aisyah, jangan di tanya mukanya memerah melebihi buah tomat yang masak.
__ADS_1
"Aahah iya ayah ini Dev mau duduk," jawab Devan dengan gugupnya.
Aisyah hanya menunduk malu. Ya pasti malu, itu karena Devan terus saja menatap dia.
"Jaga matanya Dev, ingat jaga mata." Ucap ayah Bram seraya tersenyum.
"Apa sih yah," jawab Devan gugup, karena kepergok memandangi Aisyah dengan intens.
"Nak Aisyah boleh ayah minta tolong?" Tanya ayah Bram.
Di sudut lain, Tiara dan bunda sudah tidak dapat menahan senyumnya. Mereka tahu apa yang akan dilakukan oleh ayah Bram.
"Iya om, apa yang Aish bisa bantu?" Sahut Aisyah.
"Hm begini nak tolong ambilkan nasi untuk Devan, soalnya bunda mau nyiapin buat ayah." Lagi kejahilan ayah Bram kumat.
Dan devan langsung melirik tajam ke arah ayahnya, karena Devan tahu ayahnya sengaja menjahilinya.
Aisyah tidak berani membantah dan dengan amat terpaksa dia langsung bangun menuju ke arah Devan.
Jangan tanyakan Devan bagaimana,
dia sudah bagaikan buah simalakama. Maju kena, mundurpun juga mati. Akhirnya hanya bisa pasrah dengan kejahilan ayahnya.
Semakin Aisyah mendekat semakin kencang pula degupan jantungnya si Devan.
Tiba-tiba Devan terbatuk sendiri karena mencium wangi tubuh Aisyah yang sangatlah menusuk jantung dan paru-parunya.
Terkaget, Aisyah yang melihat Devan terbantuk reflek menyodorkan air minum untuk Devan.
__ADS_1
Karena terjadi dengan cepat, Devan malah grogi bukan main, sampai air yang di terimanya tumpah hingga membuat basah bajunya.