
"Assalamu'alaikum." salam Fahmi dan Tia berbarengan.
"Wa'alaikumsalam." jawab salam orang yang ada di dalam.
"Kak, gimana apa masih sakit?" ucap Fahmi dengan lembut.
"Alhamdulillah udah gak apa-apa dek, gimana kuliahmu lancar?" tanya Aisyah pelan.
"Alhamdulillah lancar kak dan aku sebentar lagi mau wisuda." ucap Fahmi dengan bahagia.
"Kamu kuliah jurusan apa Fahmi?" tanya Bram tiba-tiba.
"Oh saya kuliah di bagian manajemen bisnis om." terang Fahmi.
"Begini saja, om butuh bantuan kamu. Mau tidak kamu om suruh mengurus salah satu perusahaan om yang ada di Bandung? Karena di bandung om memerlukan orang yang berbakat sepertimu menjadi CEO di sana. Apa kamu mau nak?!" pinta Bram dengan sungguh-sungguh.
Bram sangat tahu bagaimana kecerdasan seorang Fahmi. Bahkan dia kuliah tanpa biaya alias mendapatkan beasiswa penuh. Dan yang bikin Bram tertarik Fahmi orangnya cekatan, dan cepat paham. Banyak orang luar sana memerlukan kecerdasan seorang Fahmi.
Bram bukannya serakah tapi Bram tidak mau ada orang luar memanfatkan kecerdasan Fahmi. Jadi Bram memutuskan mengangkat seorang Fahmi menjadi CEO, dengan peraturan agama yang Fahmi miliki Bram optimistis perusahaannya di Bandung akan maju pesat.
"Kita lihat nanti om kalau Fahmi sudah lulus ya." ucap Fahmi sopan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat sedang asyik berbincang masuk lah seorang tamu.
"Assalamu'alaikum." salam laki-laki berwibawa tersebut.
"Wa'alaikumsalam ayah." ucap Bram kaget.
"Kakek." ucap Devan dan Tia yang juga kaget.
"Kakek kaget pas dengar cucu mantu kakek terluka. Apa kamu tidak apa-apa nak?" tanya kakek sambil melangkah ke arah Aisyah.
__ADS_1
Sedangkan tiga orang lainnya malah melongok saja karena di abaikan.
"Kamu ayahnya Aisyah ya?" tanya kakek pada abahnya Aisyah.
"Iya pak, saya abahnya Aisyah." jawab abah sambil salam dan diikuti Fahmi serta uminya Aisyah.
"Ayah." panggil bunda Naila pada mertuanya tersebut.
"Nduk kamu sehat?" tanya kakek ke Naila.
"Alhamdulillah sehat ayah. Ayah apa kabar? Kenapa datang tidak kabarin kami, kan bisa kami jemput ayah di bandara." ucap Naila sembari mendekati ayah mertuanya itu.
"Aku masih kuat belum lumpuh, aku tidak butuh bantuan suamimu." ucap kakeknya Devan itu.
"Ayah." panggil Bram dengan matanya yang malas.
"Apa Bram, aku malas bicara sama kamu dan Devan kaya es balok. Satu lagi si Ridwan mana? Apa dia belum kesini? Udah tahu aku udah tua malah ngilang" ucap kakek.
Jangan heran dengan sikap kakek Nudin. Karena dia sangat kejam dengan anak sendiri bahkan sangat tegas tapi tidak dengan dengan menantu atau cucu mantunya. Karna cucu mantu udah di anggap anak sendiri.
"Iya pak." abahnya Aisyah mau tak mau mengikuti dan disusul juga oleh uminya Aisyah.
Fahmi, Bram, Naila serta anaknya Aisyah termasuk Tia ikutan pulang karena Ridwan dan Devan yang di tugaskan untuk menjaga Aisyah.
...****************...
Sesampainya di rumahnya Bram. Kakek mulai berulah.
Bram buatkan ayah mie satu mangkok jangan kau suruh binimu. Ayah mau masakan dari kamu!" perintah kakek Nudin.
"Ayah itu tidak sehat." ucap Bram geram karena permintaan ayahnya itu.
"Kamu lihat kan abahnya Aisyah, anak ku sendiri pelit banget. Padahal aku minta semangkok mie." ucap kakek Nudin pura-pura sedih.
__ADS_1
Sedangkan abahnya Aisyah hanya tersenyum.
Dan Naila juga ikutan tersenyum karna sudah hafal betul dengan sikap ayah mertuanya. Selama di rumah ini hanya Bram dan Ridwan atau Devan saja di perintah. Wanita-wanita bisa jadi ratu selama kakek Nudin ada di rumah ini.
...----------------...
Flashback ke beberapa tahun yang lalu.
Setiap kakek Devan ke rumahnya Bram, kakek selalu meminta mie instan. Bukan karena tidak suka yang lain tapi kakek Nudin suka mie instan buatan Bram sejak saat Bram menginjak umur 12 tahun.
Waktu itu kakek Nudin berulang tahun dan hanya ada mie instan. Bukan karena tak bisa membeli kue ulang tahun atau sejenisnya, tapi karena kesibukan Nudin yang membuat tak pernah ada perayaan atau semacamnya. Saat itu Bram ingin memberikan sedikit hadiah untuk ayahnya. Dan Bram dengan tangan kecilnya membuat Mie instan itu dengan penuh cinta.
Makanya sampai sekarang asal jumpa dengan anaknya, Nudin selalu meminta mie instan. Karena dengan masakan Bram itu Nudin merasakan nikmat cinta anaknya buat dirinya.
Pernah dulu waktu Devan umur dua tahun, di saat Bram memasak mie untuk ayahnya entah kenapa PRTnya itu mencari celah agar bisa mendekati Bram. Di saat Bram sedang sibuk meracik, PRT itu dengan PDnya mau membantu. Pikir Bram tidak apa-apalah di bantu toh sama aja. Namun siapa sangka mie yang ada campur tangan orang lain langsung di tolak mentah-mentah oleh kakek Nudin.
Dengan sedih kakek berkata.
"Apa kau bosan memasak mie instan untuk ayah Bram?" tanya Nudin dengan sedih.
"Tidak ayah, itu bram yang masak." jawab Bram yang tak paham maksud ayahnya.
"Tapi ini bukan hasil buatan dari tanganmu. Ini ada campur orang lain ayah tidak mau memakannya!" ucap Nudin kesal.
Tiba-tiba pembantu mereka menyela,
"tuan maafkan saya yang telah lancang. Saya kasihan dengan tuan Bram. Sudah capek-capek pulang kerja, bukannya nyonya Naila membantu tuan Bram malah nyonya malas-malasan dan tuan Bram repot sendiri. Saya hanya membantu tuan, saya kasihan." ucap PRT janda anak satu itu.
Niat hati ingin mencari perhatian malah dapat murkanya kakek Nudin.
"Apa hakmu mengatakan menantuku malas?!" ucap kakek Nudin dengan geram.
"Tuan lihat sendiri mantu tuan bukannya membantu untuk masak tapi sibuk dengan anaknya. Jika boleh tuan, izinkan saya yang melayani kebutuhan tuan Bram. Mungkin nyonya Naila tidak bisa menjaganya." ucap PRT itu dengan sombongnya.
__ADS_1
Bram yang mendengar itu ingin marah. Begitu juga dengan Naila. Namun mereka mebiarkan saja karena sudah pasti Nudin yang akan mengurus pembantu tak tahu diri tersebut.