
Pagi bahagia ini keluarga Kusuma akan berlibur ke pantai yang terletak di kota B. Devan dan Aisyah beserta anak-anaknya juga ikutan liburan.
Dan alhamdulillah keluarga abah Aisyah dari pesantren juga ikutan seperti Fahmi dan tidak lupa pula mantan mertua Aisyah. Ya walaupun bukan menantu lagi, tapi mereka tetap kakek dan nenek dari anaknya Zila.
"Oma Zila cantik gak?" tanya Zila pada kedua neneknya sambil berputar memamerkan dress cantik miliknya.
"Cantik dong kan cucu oma yang tercantik, iya kan mbah?" puji Naila sambil bertanya kepada kakek kandung Zila lebih tepatnya kepada kedua orang tua Zakir.
"Iya oma, Zila cantik dan manis." ucap kakek Zila.
Zila kegirangan dan bahagia namanya juga anak-anak.
Saat sedang bersiap-siap, Ridwan datang bersama Fany. Juga tak lupa pula Nudin turut serta.
"Semuanya sudah siap?" tanya Bram pada semua orang.
"Alhamdulillah sudah." sahut semuanya serentak.
"Tia mana?" tanya Bram tak mendapati anak gadisnya.
"Aku di sini ayah." ucap Tia yang muncul tiba-tiba.
Ridwan yang melihat kecantikan Mutiara, jantungnya serasa mau loncat dari tubuhnya.
...****************...
Setelah menempuh waktu kurang lebih 1.5 jam, kini mereka sudah di pantai. Mereka semua duduk berlesehan di pasir pinggir pantai itu. Mereka menikmati suasana liburan di pantai di temani dengan deburan ombak dan pasir putih. Sedang asyik cerita-cerita, Nudin malah bertanya sesuatu.
"Besan, apa di pondok ada seseorang laki-laki yang gagah buat cucuku mutiara?"
"Uuhuk uhuk uhuk uhuk uhuk." tiba-tiba Ridwan terbatuk.
"Kakek Tia gak mau di jodohin." protes Tia.
"Ish kamu ini, mana tahu ada yang cocok. Biar nanti nikahnya barengan sama om mu itu!" ujar Nudin.
Ridwan langsung bangun.
"Mau kemana Ridwan?" tanya Nudin pada anak angkatnya itu.
"Ehm, aku mau ke kesana!" ucap Ridwan yang tak tahu akan kemana.
"Sini dulu, ada yang ayah mau tanyakan. Danis juga sini!" perintah Nudin.
__ADS_1
Sedangkan disisi lain, Bram, Devan dan lainnya hanya diam saja. Toh Nudin begini juga demi kebaikan anak-anaknya.
"Danis, kamu kan jomblo. Apa lagi Fahmi sepertinya sudah ada kandidat calon istrinya kan? Kamu pasti gigit jari. Begini saja, kamu aku nikah kan dengan Tia saja mau ya?!" jelas Nudin tanpa beban.
"Aah? Saya tuan sepuh? Apa tidak salah?" tanya Danis yang kaget dapat mandat macam itu.
"Lah iyaaa lah kamu, masak sama Ridwan? Kan Ridwan tidak suka sama Tia, iya kan Rid?"
"Tidaaaaaaaaaaaaaak." ucap Ridwan berteriak.
"Loh kamu kenapa Ridwan?" tanya Bram heran.
"Ayah, abang, biar Mutiara kuliah dulu! Kalian lihat dia itu masih kecil aku tidak setuju." ucap Ridwan tak terima.
"Kakek aku mau kok nikah sama kak Danis." ucap Tia spontan.
"Tiaaaa." panggil Ridwan geram.
"Kakek gimana boleh kan? Kak Danis mau kan nikah sama Tia?" ucap Tia dan mencuekan Ridwan.
"Aduh gimana ya? Kalau non bersedia, saya sih mau aja non hehehehe." jawab Danis sambil cengengesan.
"Tidak ya tidak! Apa kamu paham? Kamu paham gak?! Tidak Tia, tidaaaaaaaaaaaaaak om tidak setuju." racau Ridwan dengan marah.
Nudin tersenyum, semuanya juga tersenyum dalam hatinya. Fany yang melihat itu pun juga tersenyum.
"Ya udah kalian nikah minggu depan! Biar sama-sama ya kan Fan?" tanya Nudin sok-sok an serius.
"Iya ayah." sahut Fany santai.
Tiba-tiba Ridwan langsung berjalan ke arah Tia dan menarik tangan Mutiara lalu membawanya pergi.
Devan bangun bermaksud ingin mengejar bersama Danis dan Fahmi begitu juga dengan Bram. Tapi Nudin menahannya.
"Kalian di sini saja, Fany kamu mau jalan-jalan ke pantai? Biar Danis saja yang antar kamu mau gak?" suruh Nudin.
"Tentu mau yah," ucap Fany dengan senang hati.
Danis dan Fany beranjak pergi jalan-jalan di bibir pantai.
...----------------...
Sementara itu,
__ADS_1
"Om lepas gak!" Tia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ridwan.
"Gak!" ucap Ridwan dingin.
"Lepas om! Om maunya apa sih? Gak jelas tau!" ucap Tia kesal.
"Kamu yang gak jelas. Kenapa kamu terima ajakan ayah untuk nikahin laki-laki jadi-jadian itu hah?" ucap Ridwan marah.
"Om gila ya? Itu kan hak aku, ngapain om larang aku ah?!" protes Tia.
"Tidak Tia tidak!" Ridwan tak ingin mendengar alasan apapun.
"Masuk!" perintah Ridwan pada Tia untuk masuk ke dalam mobilnya.
Mereka berdua kini tengah berada di dalam mobil.
"Kamu pokoknya tidak boleh menikah dengan Danis titik!" entah kenapa Ridwan merasa emosi mendengar perkataan Tia tadi.
"Pokoknya aku mau nik mmm mmm." tiba-tiba bibir Tia langsung di bungkam oleh bibirnya Ridwan.
Tia kaget dan mencoba melawan namun salah semakin Tia berusaha melawan, semakin kuat Ridwan meng*hisap bibir lembut Tia. Akhirnya Tia menyerah dan pasrah.
Karena Tia sudah tidak melawan, Ridwan semakin menyesap bibir Tiara dengan lembut bahkan sangat lembut. Dua sejoli yang menyimpan perasaannya masing-masing itu terhanyut dalam hisa*pan-hisa*pan kecil di bibir mereka.
Ridwan semakin gencar melu*mat bibir ranum dan manis milik keponakannya.
Tia mencoba membalas berharap bisa mengimbangi permainan Ridwan walaupun masih terasa kaku.
Ridwan semakin lihai, hingga tidak terasa tangan Ridwan kini sudah berada di gunung kembar milik Tia.
Ridwan mere*mas pelan dua gundukan tersebut. Bibir Ridwan berhenti memanjakan bibir Tia dan mulai menc*umbu leher Tia yang mulus seperti jalan toll. Tia yang merasakan sensasi aneh pertama kalinya tanpa sengaja mengeluarkan desa*han kecil yang membuat naf*su Ridwan naik sampai ke ubun-ubun.
"Om aaaghh om." racau Tia.
Ridwan yang tengah di liputi oleh naf*su, tangannya tanpa di komando malah membuka baju Tia dan penutup gunung kembar milik Tia. Ridwan sejenak memandangi dua gundukan itu dan mere*masnya. Tanpa di duga Ridwan mulai meng*hisap puncak gunung tersebut secara bergantian.
"Om aagh iiisss," Tia mende*sah mendesis tatkala ujung gunungnya di kulum, di sesap, di jilat, dan di rem*as. Tia pasrah dan hanya mampu mere*mas rambut Ridwan menahan nikmat.
Ridwan tersadar dengan apa yang di lakukannya hingga Ridwan menghentikan kegiatannya dan langsung memeluk Tia erat.
"Sayang." panggil Ridwan manja.
Tia menundukkan kepalanya di dada Ridwan karena malu.
__ADS_1
Ridwan buru-buru mebenahi pakaian Tia dan kembali memeluk Tia. Saking lama mereka berpelukan akhirnya mereka malah tertidur dalam Mobil itu dalam posisi Tia berada di atas tubuh Ridwan sedangkan Ridwan berada di bawahnya sembari memeluk Tiara.