
Hari-hari telah berlalu, tidak terasa pertunangan Ridwan sudah memasuki 4 bulan. Di mana artinya akan ada acara pesta pernikahan.
Selama kurang lebih 4 bulan ini, Ridwan tidak pernah bertemu dengan Tia, lebih tepatnya Tia lah yang menghindari Ridwan. Karena Ridwan selalu ke rumah dan mencari Mutiara, namun ia pasti tak menjumpainya.
Tapi tidak dengan hari ini. Mutiara sedang menunggu supirnya. Karena Mutiara hendak pulang kuliah. Ya mutiara baru saja memasuki dunia perkuliahan sekitar dua bulan yang lalu.
Di saat sedang fokus menunggu tiba-tiba dia di kejutkan dengan kedatangan Fany.
"Tia." panggil Fany dengan tersenyum.
"Eh tante," ucap Tia agak kikuk.
"Kamu mau kemana mau? Mau pulang yaa?" tanya Fany lagi.
"Iya tante, ini lagi nunggu pak Johan untuk jemput." sahut Tia.
"Jangan pulang dulu yaa?! Bagaimana kalau kita makan siang sama-sama dulu?! Tante penasaran loh sama kamu, mau mau yaa!" ajak Fany sedikit memaksa.
Mutiara yang di ajak sebenarnya merasa enggan tapi juga tidak bisa menolak, sebab takut Fany akan tersinggung. Akhirnya mau tak mau Tia menyetujuinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini disinilah mereka sekarang, di restoran milik Ridwan.
Mutiara dan Fany sudah duduk dengan cantik.
Fany maupun Mutiara asik berbincang bahkan pembicangan mereka mengundang tawa.
Namun tawa mereka terhenti akibat satu orang yang tiba-tiba hadir disana.
"Kalian di sini? Kenapa gak bilang sama mas dek?!" ucap Ridwan tiba-tiba. Ya orang yang datang adalah Ridwan.
"Eeh mas, ha iya aku tadi tak sengaja bertemu Tia di depan kampusnya." ucap Fany menjelaskan.
"Oohh," respon singkat Ridwan.
"Tia apa kabar? Sudah lama loh kita gak berjumpa. Om dengar kamu sudah mulai kuliah ya?" tanya Ridwan beruntun.
"Iya om," sahut Tia singkat.
"Terus jurusan apa yang kamu ambil?" tanya Ridwan kembali.
__ADS_1
"Jurusan Desaigner om." jelas Tiara cuek.
"Mas aku ke kamar kecil dulu sebentar yaa." bisik Fany.
"Ooh iya, jangan lama-lama." ucap Ridwan.
Selama Fany ke toilet, Ridwan terus mencuri pandang ke arah Tia. Namun Tia hanya cuek bebek aja.
"Kamu sudah besar ya? Gimana kuliah mu? Kenapa selama ini tidak mau bertemu dengan om? Apa Tia marah sama om?" tanya Ridwan bertubi-tubi.
Tia bukannya menjawab, dia malah hanya diam saja entah lah dia merasa enggan untuk berbicara.
"Jawab Tia, om mohon!" pinta Ridwan yang reflek sambil menggenggam tangan kecil Tia.
Tanpa mereka sadari, Fany melihat semua kelakuan Ridwan yang sangat lembut kepada Tia.
Selama 4 bulan ini Fany tidak pernah merasakan itu. Fany tersenyum, tersadar calonnya itu suka dengan keponakannya sendiri tapi Ridwan belum menyadari itu.
...----------------...
"Huuh maaf aku lama di kamar mandi." ucap Fany tiba-tiba.
Ridwan terkaget dan langsung melepaskan tangannya dari tangan Mutiara.
"Iya mas." jawab Fany lembut.
"Permisi non Tia." sela seseorang yang hadir di tengah-tengah mereka. Dan orang itu adalah Danis.
"Eh kak Danis udah di sini? Kakak udah makan apa belum?" tanya Tia dengan sopan.
"Kebetulan belum non hehehe." jawan Danis dengan sumringah berharap dapat traktiran.
"Ya udah sini duduk bareng aja ya kak. Oh ya kak, kenalkan ini tante Fany, tante Fany ini kak Danis," ucap Tia memperkenalkan.
"Fanysyah." ucap Fany.
"Danis Kamil." ujar Danis.
"Apa kamu dari Medan?" tanya Fany tiba-tiba.
"Ah iya nona saya dari Medan" ucap Danis kikuk.
__ADS_1
"Pasti dari tembung yaa?" lanjut tebakan Fany lagi
"Iya loh kok nona tahu." heran Danish.
"Kamu anaknya tante Dina ya?" tanya Fany kembali.
"Yaa nona emak ku Dina namanya." terang Danis lagi.
"Ya ampun kak Danis ini Syah." kata Fany.
Danis langsung tertegun.
"Kamu Sya si buntek hitam dekil dan suka ingusan di saat bicara langsung hirup ingusnya dulu?" ucap Danis sembari menunjuk ke arah Fany.
Ridwan maupun Tia mereka hanya bengong dan juga merasa jijik mendengar perkataannya Danis namun mereka tahan.
"His kak Kamil! Kenapa yang di ingat pas jeleknya aja, baiknya gak." ucap Fany merajuk.
"Hahahahaha, habis jeleknya itu gampang di ingat daripada kebaikannya hahaha." tawa Danis bergema di seluruh ruangan.
Tiba-tiba dia teringat,
"Eeh maaf tuan Ridwan, non Tia, hampir aja lupa sama kalian di sini."
"Ah abaikan saja Danis, malah gak apa apa kok. Ternyata kalian udah lama kenal yaa." ucap Ridwan.
"Sudah tuan, Syah eh nona Fany tetangga saya dulu di Medan." ucap Danis lagi.
"Oohhh begitu." singkat Ridwan.
"Oh iya, nona mau pulang sekarang?" tanya Danis yang langsung teringat kalau dia kesini untuk menjemput Tia.
"Iya kak." jawab Tia.
"Aayoo kalau begitu!" ajak Danis.
"Kak Kamil, minta nomernya dong? Nanti aku mau menemui bibik Dina ya?!" ucap Fany bahagia.
"Iya, ini kartu namaku. Silahkan hubungin aku sesekali ya Syah!" ujar Danis.
Setelah itu Tia bergerak untuk bangun. Betapa kagetnya Ridwan melihat rok Tia yang pendek. Tanpa sengaja Ridwan melepaskan jasnya kemudian mengikatkan nya di pinggang Tia.
__ADS_1
Tia kaget dan langsung terdiam. Danis dan Fany malah tersenyum melihat tingkah dua anak manusia yang sama-sama gengsi ini.