
"Kamu Tia?" tanya sekaligus rasa senang Ridwan. Bahkan pelukannya itu belum juga lepas.
Jangan tanya gimana gugupnya tiara. Jantungnya sangatlah kencang berdetak. Dia hanya mampu menganggukan kepalanya tanpa bisa berkata-kata. Bibirnya tercekat tatkala mencium bau aroma tubuh milik Ridwan. Sungguh laki-laki yang memeluknya ini mampu membuat seorang Tiara tak berkutik.
"Ya ampun Tia, kamu sudah besar." ucap Ridwan.
Namun tiba-tiba seorang pengunjung yang hendak melewati jalan tersebut berkata,
"permisi mas, mbak bisa gak jangan berdiri di tengah jalan?! Dan kalau mau main mesra-mesraan jangan di depan toilet malu tahu." cibir pengunjung tersebut karena kesal jalannya terhalangi dengan adegan pembuat sakit mata.
Ridwan dan Tiara kaget, dan langsung melepaskan pelukan hangat itu.
"Ishh masih bocil, masih pakai seragam SMA udah suka sama om om." ucap pengunjung itu lagi dan berlalu meninggalkan mereka dengan rasa malunya.
Ridwan yang mendengar itu hendak membalas namun di tahan oleh Tiara.
"Sudahlah om, mereka kan tidak tahu siapa kita, dan mau mereka berbicara sampai berbusa juga tak akan mampu membuatku jatuh. Toh aku gak kenal tu orang." ucap Tiara bangga.
Sedangkan Ridwan seketika melihat ke arah Tiara. Dia merasa kalau Tiara kini sudah dewasa.
"Eh iya, om Tiara pemisi dulu," ucap Tiara sambil melangkah, namun saat akan menjauh Ridwan menahan tangan Tiara.
"Tia tunggu!" ucap Ridwan.
Tiara yang merasa di hentikan segera berhenti, "ada apa om?" tanya Tiara heran.
"Maaf itu kamu tembus." ucap Ridwan sambil menuju rok yang di pakek Tiara.
__ADS_1
Dengan cepat Tiara melihat ke belakang dan betul tamu bulanan Tiara datang.
"Ya ampun, aduh gimana ini." ucap Tiara panik.
"Apa kamu membawa pembalut Tia?" tanya Ridwan.
Tiara hanya mampu menggelengkan kepalanya.
"Oh tunggu sebentar!" Dengan tiba-tiba Ridwan menarik pinggang Tiara dan melilitkan jas yang di pakainya ke pinggang Tiara.
"Aku pergi beli, kamu tunggu di sini! Jangan kemana-mana okay?!" perintah Ridwan lembut pada Tiara.
Setelah berbicara itu, Ridwan segera berlari menuju ke swalayan terdekat. Sedangkan kawan Ridwan maupun kawannya Tiara tidak ada yang menyadarinya.
Setelah menunggu 15 menit Ridwan sudah kembali dan menyerahkan bungkusan ke arah Tiara.
"Ini pakai cepat!" ucap Ridwan.
"Dan ini obat nyeri, kamu pasti kaya biasa sakit kan?" Lagi-lagi Ridwan tahu Tiara kalau dapat bulanannya seperti apa.
Tiara yang sudah malu pakai banget segera menuju ke toilet lagi. Setelah berganti Tiara langsung keluar dan ternyata Ridwan masih ada disana. Akhirnya mau tak mau Tiara harus keluar dari tempat itu barengan dengan Ridwan. Dan dengan santainya Ridwan memegang tangan Tiara. Kawan-kawan Ridwan sampai kaget dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Apa lagi sahabatnya Tiara.
"Chika, Kiki gue pamit duluan ya?! Soalnya gue datang bulan."
Kedua sahabatnya Tiara hanya mampu menganggukan kepalanya tanda setuju tanpa mendapat penjelasan apapun dari Tiara.
Sedangkan Ridwan juga ikut pamit pada teman-temannya.
__ADS_1
"Bro gue pamit ya."
"Okay bro, sukses ya." jawab teman-teman Ridwan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Setelah berpamitan Tiara langsung di antar oleh Ridwan.
Tak berselang lama kepergian Tiara, kawannya tiara langsung kaget.
"Loh loh ini gimana kita kan gak bawa duit buat bayar makanannya" ucap Kiki panik.
"Buset Rara, waduh gimana ni Kiki." ucap Chika tak kalah paniknya.
Kiki hanya mampu menggelengkan kepalanya.
Kawan-kawan Ridwan yang mendengar celotehan fua gadis itu menoleh. Dan karena penasaran lantas mereka mendekat.
"Kalian kenapa tidak pulang?" tanya Inas.
"Anu om kami mau pulang tapi makanannya belum ada yang bayar, karena kami gak bawa uang. Ini tadi rencananya Tiara yang bayar om." ucap Chika sedikit sedih.
Inas dan Rasya tertawa terbahak mendengar penuturan gadis yang ada di depan mereka ini.
"Ya sudah ini kami yang bayar, lain kali jika mau makan harus ada uang," ucap Inas santai.
"Maaf om, sudah ngerepotin dan terimakasih" ucap Kiki dengan sedikit malu.
Dan dua laki-laki tersebut menganggukan kepalanya.
__ADS_1
NI RIDWAN PAKE BAJU JD HOTTY