JANJI AISYAH

JANJI AISYAH
part. 52


__ADS_3

"Tolong tuan ampuni saya!" mohon Vera pada orang suruhan Ridwan.


"Huh? Lepaskan? Mimpi!" salah satu anak buah milik Ridwan lantas menyeret Vera untuk di masukan ke dalam mobil.


Vera akan dikirim ke tempat terpencil yang tak berpenghuni. Pulau itu adalah milik keluarga Kusuma. Disana Vera akan di sekap sampai dia berharap akan kematian. Tentu saja disana dia tak akan mati karena kelaparan, semua kebutuhannya disana telah di siapkan seperti makan, pakaian, dan tempat tinggal. Tapi cuma dua yang tak ada, akses untuk internet/komunikasi dan akses untuknya keluar dari pulau itu. Kalau dia mencoba kabur, nyawa adalah taruhannya. Boleh kalian ketahui, pulau itu di kelilingi oleh lautan yang sangat dalam serta adanya buaya air asin yang berjejer di pinggir pantainya. Percuma saja kalau mau kabur yang ada akan mati tenggelam atau tidak akan mati dimakan buaya. Akses keluar masuk pulau itu hanyalah memakai helikopter.


Sesuai perintah dari Ridwan dan Bram, manusia-manusia jahanam itu harus di berikan hukuman yang setimpal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zakir di bawa ke kantor polisi dan di jebloskan ke penjara dengan tuduhan pembunuhan berencana, penculikan serta perbuatan tidak menyenangkan dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup. Zakir hanya bisa pasrah, hilang sudah semua impiannya karena kecerobohannya. Dia menyesali perbuatannya, menyesali dulu terpengaruh oleh wanita macam Vera.


"Andai saja bisa ku putar kembali waktu, sungguh aku tak akan menyakiti dirimu Aisyah, Humaira ku." Zakir menangis tersedu, tatkala ia mengingat Aisyah dan Zila anaknya.


"Zila, apakah kau membenci ayahmu ini?"


"Ayah bahkan belum meminta maaf darimu nak, maafkan ayah nak huhuhuuuu."

__ADS_1


Entah kenapa di balik jeruji besi ini Zakir menumpahkan segala tangisnya.


Zakir mengingat kembali perlakuan dirinya kepada Aisyah dan Zila. Kenangan pahit itu tiba-tiba saja melintas dari pikirannya sehingga membuat dadanya sakit.


"Ya Allah, masih bisakah hambamu ini bertobat?" sesal Zakir tiada guna.


"Ya Allah, izinkan hamba bertemu dengan anak hamba sekali saja, tolong kirimkan mukjizat-Mu ya Allah!"


Zakir hanya ingin bertemu Zila anaknya, anaknya satu-satunya yang ia sia-siakan.


...----------------...


Ya hukumannya hanya sedikit, yaitu Dimas di pecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Dan sudah dipastikan dia tidak akan di terima kerja di perusahaan manapun. Itu sesuai instruksi dari keluarga Kusuma yang notabene keluarga yang sangat berpengaruh. Dan gerak-geriknya di awasi 24 jam. Jadi kalau dia macam-macam atau ingin membalas dendam itu sama saja mengantarkan nyawanya.


Istri Dimas yang mengetahui perihal pemecatan suaminya menjadi murka.


"Apa abang? Abang di pecat? Tapi kenapa?" istri Dimas yang bernama Sekar terheran-heran.

__ADS_1


Dimas hanya diam tak menjawab. Tak mungkin juga dirinya mengatakan yang sebenarnya.


Dimas hanya menggelengkan kepalanya. Dan hal itu justru membuat Sekar semakin marah.


"Abang membuat kesalahan seperti apa hah? Kalau tak ada salah kenapa abang di pecat?" ujar Sekar berapi-api karena kesal tak mendapatkan jawaban yang pasti dari Dimas.


"Dek, nanti abang cari kerja yang lain untuk memenuhi semua kebutuhan kamu dan anak kita Zio." ujar Dimas meyakinkan Sekar.


"Kerja apa abang? Kerja apa? Aku baca dari group WA istri perusahaan itu, abang di pecat dengan tidak hormat. Dan abang gak akan mendapatkan pekerjaan di tempat lain!"


"Mereka bahkan membully diriku di group WA itu!" Sekar berteriak dengan keras.


"Pokoknya aku minta cerai, aku gak akan bisa abang ajak hidup miskin. Malam ini aku balik ke rumah kedua orang tuaku! Dan aku tunggu gugatan perceraian darimu bang!"


Setelah mengatakan hal itu, lantas Sekar masuk ke dalam kamar dan mulai bersiap. Tak lupa dia juga membawa serta anak semata wayangnya Zio yang baru berumur 2 tahun.


Dimas hanya bisa pasrah, tak bisa berbuat apa-apa lagi. Menyesal pun kini tiada guna.

__ADS_1


"Ya Allah, inikah hukuman yang harus aku terima?" monolog Dimas sambil menangis dan bersender pada tembok rumahnya.


__ADS_2