
Vera kebingungan menghubungi Raditya. Sudah setengah jam dia menghubungi Radit namun hasilnya nihil. Dia bolak balik menunggu HP nya berbunyi tanda balasan dari Raditya.
"Sial, kemana sih si Radit?!" galau Vera yang tak kunjung jua mendapatkan kabar dari Radit.
"Gimana sih ini? Aku belum bisa tenang kalau belum mendapatkan kabar dari Radit."
Vera sliwar-sliwer seperti setrikaan, entah kenapa dia malam ini gelisah.
Zakir yang baru saja datang dari kamar mandi keheranan melihat Vera mondar-mandir.
"Hei, kau ini sedang apa Vera? Kau bisa diam tidak?" sewot Zakir yang kesal melihat Vera tak bisa diam.
"Lah suka-suka ku dong mas, sana mas pergi tidur saja! Aku belum mengantuk." kata Vera yang langsung pergi meninggalkan Zakir di dalam kamar.
"Dasar wanita aneh!" umpat Zakir kesal.
"Jangan kau balik lagi ke kamar ini!" Zakir merasa akhir-akhir ini Vera telah berubah. Vera yang sekarang tak sehangat dulu.
"Bang*sat, menyesal aku menikahi wanita pembawa sial itu." ujar Zakir sembari membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Saat akan memejamkan matanya, Zakir malah memikirkan Aisyah. Zakir membayangkan dirinya saat masih bersama Aisyah.
__ADS_1
"Dulu kau begitu peduli padaku Aish, bahkan sebelum tidur kau selalu memijat kaki ku terlebih dahulu hingga aku terlelap."
"Ya Allah, aku sungguh menyesal. Bisakah Engkau mengembalikan Aisyah ku kembali?"
Zakir meneteskan air matanya. Ternyata Vera tak seindah bayangannya. Semua tak sesuai dengan harapannya.
"Ya Allah, kembalikan Aisyah padaku. Aku berjanji akan membahagiakan dia Ya Allah."
Memanglah penyesalan selalu datangnya belakangan. Ya kalau di awal mah namanya pendaftaran.
Zakir kembali memejamkan matanya, dia ingin memimpikan Aisyah malam ini dalam tidurnya.
>>>>>>>>>>>>>>>>>
Sedangkan di ruang tamu, Vera masih mencoba menghubungi Radit. Tak biasanya Radit mengabaikan panggilannya.
"Ini sudah yang ke 70 kalinya aku menghubungi Radit. Kenapa nomernya tidak aktif?"
"Apa dia tertangkap? Ah rasanya tidak mungkin. Radit seseorang yang pintar dan tak gampang di jebak." tutur Vera yang menghibur dirinya sendiri.
"Ya besok pagi aku akan pergi ke apartemen nya. Mungkin dia sengaja mematikan HPnya agar bisa leluasa melaksanakan rencananya." monolog Vera yang masih berada di dalam ruang tamu.
__ADS_1
>>>>>>>>>>>>>>>>
Di sisi lain, Radit masih menimbang apakah dia harus mau di ajak bekerja sama dengan keluarga Kusuma atau dia tak akan menghianati cinta pertamanya. Kebimbangan meliputi hatinya. Satu sisi dia masih ingin hidup dan menikmati keindahan dunia ini. Namun di sisi lain dia tak tega kalau melihat Vera hancur walaupun itu semua karena ulah nya sendiri.
"Ya Allah, aku bingung." ucap Radit sambil mengacak-acak rambutnya.
"Mana waktunya tinggal besok."
Radit nampak frustasi dan dilema. Saat kebingungan melandanya tiba-tiba pintu ruangan tempat ia di sekap terbuka. Menampilkan seorang yang sangat elegan tapi juga mematikan. Di lihat dari wajahnya seperti nya dia bukan orang sembarangan pikirnya Radit.
"Anda siapa?" Radit memberanikan diri untuk bertanya.
Orang itu mendekati Radit.
"Kenalkan saya adalah Ridwan Akmal, adik dari Albram Kusuma." jawab Ridwan dengan senyum yang bisa membuat nyali seseorang menciut.
"Gleekk," Radit hanya bisa menelan salivanya.
"Maaa maau apa tuan datang kesini? Tuan Albram memberikan waktu sampai besok untuk saya berfikir." ucap Radit yang ketakutan karena pikirnya dia akan di habisi saat ini juga.
"Kau tenang saja we need to talk!"
__ADS_1