
"Ting!" suara handphone milik tia berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk.
Tia yang sudah bangun dari tadi sedang duduk menghadap keluar jendela. Sampai jam 10 malam Ridwan belum juga kembali. Membuat hati Tia tak tenang. Mendengar ponselnya berbunyi buru-buru Tia merogoh handphonenya. Dia berharap pesan itu dari Ridwan suaminya.
Dengan gemetar Tia membuka pesan, ternyata pesan itu dari nomer yang tak di kenal.
Alangkah terkejutnya Tia melihat isi pesan tersebut. Air matanya langsung meluncur, hatinya remuk, serta kakinya tiba-tiba saja lemas.
"Breng*sek!" Tia melempar ponselnya ke bawah.
Tia menangis sejadi-jadinya. Hatinya sungguh-sungguh sangat terluka.
"F*uck, aku benci kamu baaang!" Tia mengumpat kesal.
"Sungguh bodoh aku menghawatirkan mu, nyatanya kau sedang asik bercumbu dengan perempuan gatal itu.."
"Iya aku emang bodoh! Bucinku yang salah tempat! Dari awal kamu memang tak pernah mencintai ku bang. Dari awal hanya aku yang terbuai, hanya aku yang mencinta. Harusnya aku menyadari itu. Harusnya aku ga mau saat kau ajak kembali. Harusnya aku pergi jauh dari hidupmu, huuuu huuuu jahat kau bang sungguh jahat!" Tia menangis sambil menumpahkan isi hatinya. Siapapun yang mendengar tangisan Tia pasti akan ikut terluka.
__ADS_1
"Baik, kalau itu mau mu aku akan pergi!"
Tia segera mengemas pakaiannya. Tak lupa ia memungut handphone yang tadi ia lempar. Ia memesan taxi untuk ke bandara. Tak lupa ia juga memesan tiket penerbangan paling awal malam itu. Dia akan pergi meninggalkan pulau Bali dan bertolak ke Jakarta ke Apartemen miliknya yang di berikan oleh kakeknya Nudin sebagai hadiah ulang tahun Tia yang ke-20. Dan tak satupun orang yang tahu tempat itu kecuali Tia dan Nudin.
...****************...
Ridwan kebingungan, kenapa kepalanya pusing dan yang paling mencengangkan dirinya berada di atas kasur dengan bertelanjang dada.
"Damn!" tiba-tiba Ridwan ingat dengan istrinya Tia yang sudah pasti menunggu nya di hotel.
"Kau sudah bangun?!" tanya Natty tiba-tiba.
"Fu*ck! Apa yang sudah kau lakukan Nat? And apa ini? Kenapa aku bisa berada di atas tempat tidur seperti ini?" Ridwan bertanya-tanya apa yang sudah terjadi.
"Apakah kau tak ingat dengan apa yang sudah terjadi Ridson?" tanya Natty dalam kepura-puraan nya.
"Aku mau pergi!" ucap tak Ridwan yang tak membalas pertanyaan Natty dan bergegas mencari dimana pakaiannya. Pikirannya kini hanya tertuju pada istrinya. Hatinya sungguh gelisah tak karuan.
__ADS_1
"Silahkan, karena urusanku sudah selesai." kata Natty dengan senyum membuncah dari bibirnya.
Ridwan memaksa dirinya untuk bangun dan segera berpakaian. Namun sebelum ia pergi dia berkata pada Natty.
"Aku tak tahu apa rencanamu, namun yang pasti kalau terjadi sesuatu yang tak ku inginkan aku tahu pada siapa aku harus membuat perhitungan. Silahkan kau bersorak hari ini, karena setelahnya aku akan membuat kau berduka Natty. Camkan perkataan ku!" setelah mengatakan itu Ridwan segera pergi dari tempat terkutuk itu.
Natty hanya tersenyum, sambil menelan ludah. Ada sedikit rasa khawatir dengan ancaman Ridwan.
...----------------...
Sesampainya di basement hotel tersebut, dengan buru-buru Ridwan mencari dimana mobilnya. Setelah menemukan mobilnya segera ia membanting setir dan berlalu dari tempat itu.
"Sia*lan, apa yang sudah ku perbuat?!" umpat Ridwan kesal.
Handphonenya saat ini mati kehabisan daya sehingga dia tak bisa menghubungi istrinya.
"Damn, baby tunggu aku. Jangan marah padaku." entah kenapa Ridwan merasa tak tenang. Seperti akan ada hal besar yang akan terjadi.
__ADS_1