
Kembali ke Ridwan dan Tiara...
Saat perjalanan menuju rumah, di dalam mobil
Tiara lagi mode ngambek.
"Om kapan pulangnya? Kok gak langsung datang kerumah sih?!" ucap Tiara kesal.
"Maaf Tia, hehehhe om pulang baru 2 hari yang lalu. Niat om mau pergi ke rumah nanti malam." ucap Ridwan sambil mengelus rambut Tiara pelan.
"Hhm hmm alesan! Bilang aja lupa. Oh ya apa ayah tahu om di Indonesia?" tanya Tiara sambil menautkan kedua alisnya.
"Kayaknya ayah mu tahu deh. Masak kedatangan adiknya sendiri gak tahu kan lucu Tia" ucap Ridwan terkikik geli.
"Wah ayah sama aja deh, pasti ini Tia doang yang gak tahu." Tiara merajuk dan membuang mukanya.
"Jangan ngambek Tia, nanti nambah jelek." goda Ridwan yang malah menambah mood Tiara anjlok.
"Iya iya Tia tahu Tia emang jelek!" terjadi sudah perang dingin antara mereka. Yang satu ngambek gak jelas, yang satu senyam senyum kayak orang kesurupan.
Ridwan membiarkan Tia dengan kekesalannya, karena dia suka melihat Tiara yang ngambek seperti itu. Tiara akan terlihat cantik kalau lagi mode ngambek on.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka telah sampai.
"Nah udah sampai, ayo turun apa perlu om gendong hm?" ucap Ridwan yang kembali menggoda Tia.
"Iiis Tia bukan bocah ya om." ucap Tia sewot.
__ADS_1
"Iya bukan bocah tapi bocil." ucap Ridwan yang langsung turun dari mobil dan segera berlari setelah puas mengerjai Tiara.
"Dassar duda gajeeee!!" teriak Tiara kesal dari dalam mobil.
Ridwan tertawa sambil berlari, namun setelah sampai. di depan pintu rumah dia mengontrol tertawanya. Jatuh nanti wibawa seorang Ridwan pikirnya.
"Assalamu'alaikum" salam Ridwan sesampainya di depan ruang tamu.
Sedangkan Tiara yang mengekor dari belakang sebenarnya kesal tapi juga senang, karena om kecilnya kembali.
"Wa'alaikumussalam, ya Allah tuan Ridwan sudah kembali. Aduh bibi kangen tahu sama tuan." ucap bik Nun, ART rumah itu yang telah mengabdi puluhan tahun.
"Ridwan juga kangen bik, wah bibik udah sukses ya." ucap Ridwan jail.
"Sukses apa tuan?" tanya bik Nun heran.
"Walah tuan dateng-dateng malah ngeledekin aja" ucap bibik yang pura-pura kesal.
"Loh non Tia, kenapa berdiri disitu? Apa gak mau masuk?" Tanya bik Nun yang melihat Tiara bengong di depan pintu.
"Paling mau di gendong kali bik sama saya." lagi dan lagi Ridwan menjahili Tiara.
Bibi yang mendengar itu langsung tertegun,
"kasihan non Tiara betapa cintanya dia ke tuan Ridwan namun tuan tidak tahu. Andai saja tuan Ridwan tahu, kalau hati non Tia telah terpaku dengan duda ini." ucap bik Nun dalam hatinya.
"Aah iya bik ini juga mau masuk." ucap Tiara yang tersadar dan langsung naik ke atas menuju kamarnya.
__ADS_1
Dari arah yang berlawanan, ada Bram yang baru keluar dari kamarnya bersama Naila.
"Rid, abang kira kamu gak jadi kemari." kata Bram yang juga kaget adik angkatnya datang.
" Loh kamu kapan pulang Rid?" tanya Naila yang langsung mendatangi adik angkat suaminya itu.
"Hehehe, aku baru sampei 2 hari yang lalu kak." jawab Ridwan yang langsung mencium tangan Naila.
"Tadi aku jumpa bontot di caffe jadi sekalian aja kesini bang." ucap Ridwan kembali sambil meraih tangan Bram untuk di salim.
"Oh kamu sudah jumpa Tia." ujar Naila sambil melirik ke arah ayah Bram, karena ayah Bram sangatlah tahu isi hati anak gadisnya tersebut.
"Iya tadi, tuh orangnya udah naik ke atas." ucap Ridwan cuek.
"Hhm ya sudah." ucap Bram salting.
"Oh ya bang, Devan mana?" tanya Ridwan mencari keberadaan keponakan kesayangan nya itu.
"Lah dia di rumahnya lah." jawab Naila asal.
"What rumahnya? Apa Devan sudah pindah? Cepet sekali." kata Ridwan sedikit lesu karena tak mendapati Devan di rumah itu.
"Itu karena dia udah nikah Rid, mending kesana aja deket pun dari sini." ucap Bram yang heran dengan tingkah adik angkatnya ini.
"Ya deh, aku nanti kesana sekalian mau kenalan sama istrinya Devan. BTW, aku masih laper kak hehehehe."
Bram dan Naila hanya bisa geleng-geleng kepala, kelakuan Ridwan tidak ada yang berubah masih tetap sama dengan Ridwan saat pertama kali mereka kenal.
__ADS_1