
3 bulan telah berlalu, Nudin memenuhi janjinya pada Aisyah dan datang kembali dengan banyak hadiah. Malam ini mereka sedang berkumpul dan tiba-tiba pada malam itu juga kakek Nudin meminta satu permintaan pada Ridwan.
"Ridwan!" panggil Nudin pada anak angkatnya itu.
"Iya ayah." jawab Ridwan.
"Ayah mau kau menikahi anak teman ayah nak." ucap Nudin tiba-tiba.
Para anggota keluarga yang berada di dalam rumah tersebut semuanya nampak kaget termasuk Tia.
"Tapi ayah aku belum mengenal wanita itu?!" ucap Ridwan.
"Besok kau temuilah dia di caffe xx jam 11.00 siang. Besok dia akan ke sana, ayah harap kau setuju dengan pilihan ayah nak." ucap Nudin lagi.
Ridwan yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Semuanya terdiam, namun di dalam keterdiaman itu ada hati yang terluka.
Setelah perbincangan itu, Tiara langsung naik ke atas menuju kamarnya.
Bram yang melihat anak gadisnya itu berlalu merasa sedih namun bukan tak mau membantu, tapi dia juga tidak bisa membantah soalnya perintah paduka.
__ADS_1
Sampai pukul 12.00 malam Tia tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan apa di katakan kakeknya tadi. Akhirnya dia memutuskan besok dia akan pergi menemui Ridwan ke apartemennya guna membicarakan tentang hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Tia buru-buru keluar rumah dan menuju ke apartemen milik omnya itu. Tepat jam 8.00 pagi Tia sudah berdiri di depan pintu apartemen Ridwan.
Setelah memencet bell beberapa kali, Ridwan akhirnya membuka pintu.
Betapa kagetnya ia, ternyata yang datang adalah keponakannya.
"Loh Tia ngapain pagi-pagi sudah kesini?" tanya Ridwan yang baru habis olahraga.
"Om Tia mau bicara!" ucap Tia serius.
"Yuk masuk dulu!" ajak Ridwan.
Belum di persilahkan untuk duduk tiba-tiba Tia berkata,
"om Tia, Tia, Tia suka sama om! DanTia cinta sama om, om tolong tolak perjodohan itu Tia mohon!" ucap Tia dengan gugup dan juga memohon.
"Buahahhahahahaha." Ridwan langsung tertawa, dia tak habis pikir keponakannya ini masih seperti dulu.
__ADS_1
"Om kenapa malah tertawa? Tia sungguh-sungguh om." ucap Tia dengan menyakinkan Ridwan.
"Tia Tia, maafin om tapi om tidak cinta sama kamu dan om tetap menerima perjodohan ini. Lagian om tidak suka sama bocah ingusan kaya kamu!" candaan Ridwan.
"Om." panggil Tia dengan hati sakit sangat sakit.
"Sana pulang om mau siap-siap mau berjumpa dengan calon om!" usir Ridwan pada Tia.
"Om tolong om pertimbangkan perasaan Tia!" mohon Tia sekali lagi dengan air matanya yang telah menetes.
Ridwan yang membelakangi Tia, tidak tau kalau Tia sedang menangis.
"Om tetap sama, om akan menikahi Fany dan om tetap menolak cintamu." ucap Ridwan sambil berlalu pergi.
Ridwan langsung masuk ke kamarnya. Entah kenapa setelah mengatakan hal itu hatinya sangat sakit. Tapi kenapa? Ada apa dengannya? Kenapa dia berbicara seperti itu pada Tia? Apa Tia marah? Terjadi pergulatan batin di diri Ridwan.
Karena takut Tia marah Ridwan cepat-cepat keluar tapi malah tidak menemukan Tia. Pikir Ridwan mungkin Tia sudah pulang ke rumahnya.
...----------------...
Sedangkan Tia menangis di pinggir jalan. Hancur hatinya namun dia sadar dia emang bocah. Hingga dia berpikir untuk menyerah saja.
__ADS_1
"Tuhan, apa aku harus menyerah? Dan apa ini Ya Allah? Kenapa, kenapa hati ini sakit banget? Kenapa aku harus jatuh hati pada laki-laki yang tak pernah memandangku?" monolog Tia dengan suara bergetar.