
Mereka semua memasuki rumah yang megah tersebut. Zakir masih setia menggendong Aisyah dalam dekapannya.
"Zakir, kau taruh Aisyah dalam kamar itu!" suruh Raditya agar rencananya berjalan mulus.
"Apa tak bisa aku saja yang menjaga Aisyah?" tanya Zakir yang ingin selalu berada di dekat mantan istrinya itu.
"Jangan macam-macam ya mas!" Vera mendadak panas mendengar Zakir yang ingin menjaga Aisyah.
Dengan pertimbangan yang berat hati, Zakir akhirnya mau membawa Aisyah ke dalam kamar setelah melihat Vera berdecak pinggang.
Raditya lantas membagi beberapa kamar untuk mereka beristirahat, satu kamar untuknya, satu lagi untuk Dimas, dan satu lagi untuk Vera dan Zakir karena mereka suami istri.
Setelah mereka ketiduran semuanya,Radit langsung bangun.
"Hhuuf selesai juga." ucap Raditya yang lega karena misinya berjalan sesuai rencana.
"Halo boss, semuanya sudah siap." ucap Raditya sambil menelpon Ridwan.
"Baiklah kami akan kesana." kata Ridwan.
Setelah mengangkat telepon dari Radit, Ridwan segera menelpon Devan dan Bram.
"Assalamu'alaikum Rid ada apa?" tanya Devan.
"Bisa ikut aku sebentar? Aku mau kasih tahu sesuatu!" tutur Ridwan dengan serius.
"Okay baiklah." jawab Devan cepat dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Loh mas mau kemana?" tanya Aisyah bingung melihat suaminya buru-buru.
"Mas mau bertemu dengan Ridwan dulu sayang." jawab Devan lembut sembari mencium kening Aisyah.
"Mas apa boleh aku ikut?" ucap Aisyah dengan wajah memelas.
Devan sejenak berfikir, lalu kemudian mengiyakan permintaan istrinya.
"Ya sudah jika mau ikut ayo." ucap Devan mengajak istrinya turut serta.
Setelah bersiap-siap mereka langsung menuju tempat di mana Ridwan mengirimkan alamatnya.
Sesampainya di sana ternyata bukan hanya ada Ridwan saja tapi ternyata ada Bram juga.
"Ada apa ini kok ayah ada di sini juga?" gumam Devan yang sedikit bingung.
__ADS_1
"Kok ada ayah ya mas?" tanya Aisyah pada Devan.
"Hm entahlah sayang." ucap Devan.
"Dev, kenapa kamu bawa Aisyah kesini?!" tanya Ridwan kaget.
"Iya dia minta ikut." ucap Devan santai.
"Kalau gitu ayok ikut ayah!" ajak Bram.
Dengan segera mereka berangkat, di dalam perjalanan Ridwan sudah menceritakan semuanya hingga membuat Aisyah dan Devan sangat marah.
Sesampainya di sana ternyata mereka sudah dalam keadaan terikat dan dalam keadaan tidur bahkan belum sadar. Karena ternyata sebelum mereka tidur Raditya sengaja memberi mereka makan dan minum yang sudah di isi obat penenang.
"Itu di tempat tidur siapa mas?" tanya Aisyah penasaran ada seseorang berperawakan seperti dirinya bahkan memakai pakaiannya. Bedanya orang itu memakai cadar.
"Entah sayang, mas juga tidak tahu." jawab Devan sekenanya.
"Coba aku buka ya mas?!" Aisyah maju dan membuka cadar orang tersebut, begitu dibuka betapa kagetnya Aisyah.
"Astagfirullahalazim kenapa ada makhluk jadi-jadian di sini?!" ucap Aisyah spontan karena kaget melihat bentukan model penggantinya.
Sedangkan orang yang di omongin malah terkekeh.
"Ekeehmmm." dehem Devan sengaja.
Danis yang mendengar itu lantas memutar kepalanya.
"Eh ada boss maaf boss." ucap Danis tegas bahkan hilang ngondeknya.
.
.
.
Mereka memulai menjalankan rencananya dan ternyata Vera sadar duluan.
"Apa-apaan ini." ucap Vera pertama bangun.
"Ooh udah bangun rupanya." kata Aisyah dengan senyumnya.
"Kka kamu?!" ucap Vera kaget. Bagaimana tidak Aisyah tengah duduk di atas kursi dengan kerennya.
__ADS_1
"Oh mbak Vera yang manis, kenapa kaget? Apa mbak belum sadar yaa? Aku tahu jika saat ini mbak mau aku di bunuh kan?!" ucap Aisyah santai.
Sedangkan di ruangan yang lainnya, 4 orang itu langsung bersembunyi dan mengintip bagaimana Aisyah.
"Aisyah!" ucap Zakir dan Dimas bersamaan.
"Wah kalian berdua juga sama-sama kaget ya? Ayo dong jangan kaget begitu." ucap Aisyah sembari tersenyum.
"Sia*lan kau, lepaskan aku Aisyah. Kalau tidak aku bunuh kau!" ucap Vera membabi buta.
Dan Aisyah yang geram segera maju lalu,
"Plak, plak, plak, plak!"
Vera langsung bungkam. Karena 4 kali tamparan mendarat di pipi mulusnya. Yang lebih sedih tamparan itu bukan berasal dari tangan Aisyah tapi lebih tepatnya dari sepatu mahal milik Ridwan.
"Aduh sepatu mahalku." ujar Ridwan sambil mengintip.
Ayah Bram cekikikan, puas melihat sepatu adeknya lecet di pakai memukul orang.
"Aisyah kenapa kamu begitu?" tanya Zakir heran.
Dan,
"Dduukkkk", Zakir tersungkur menahan sakit.
"Kamu!!" ucap Zakir sebelum habis kata-kata Zakir, kembali dia menjerit.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak Zakir kesakitan.
Bagaimana tidak, burung perkutut milik Zakir di tendang oleh Aisyah. Sedangkan Dimas hanya bisa menelan ludah.
4 orang di belakang sana reflek memegang senjatanya masing-masing.
"Aw aw aw aw sadisnya." ucap Ridwan bergidik ngeri.
"Kamu tahu mas, kenapa aku lakukan ini? Ini agar kamu sadar wanita ini yang telah buat aku hancur. Wanita ini yang buat aku seperti ini. Dan kamu telah bersekongkol dengannya. Apa belum puas ahhhh kau hancurkan aku? Dan kau Dimas aku tahu semuanya ini ulahmu. Kau menyuruh wanita gatal ini untuk menggoda mas Zakir. Selamat rencanamu berhasil." ujar Aisyah dengan menggebu-gebu.
"Hahahah lalu kau mau apa?" tantang Dimas dengan sombongnya.
"Oh tentu aku ucapkan terimakasih. Karena kamu telah membuat aku sadar, bahwa aku harus membuang laki-laki bodoh seperti Zakir." ucap Aisyah lagi.
"Breng*sek kau!" umpat Dimas pada Aisyah.
__ADS_1