
Pukul 12.00 siang kini Ridwan telah berdua bersama calon istrinya makan siang. Wanita bernama Fany ini wanita yang sangat cantik dan juga baik hati. Fany kini duduk tepat di depan Ridwan.
"Mas mau pesan apa?" tanya Fany dengan lembut.
"Aku makan soto saja dan🍹jus jeruk." jawab Ridwan tak menyadari bahwa yang di pesan adalah makanan kesukaan Tia.
"Oh okay."
Fany langsung memanggil pelayan restoran tersebut.
...----------------...
Setelah habis memakan makan siang mereka, Fany dan Ridwan berbincang sedikit karena mereka akan menikah 4 bulan lagi, karena Fany masih harus mengurus bisnisnya yang berada di luar negeri.
Sedangkan Ridwan hanya bisa menyetujuinya. Dan mereka sepakat untuk bertunangan dulu minggu depan.
Fany dan Ridwan setelah perbincangan itu memilih pergi dengan kendaraan masing-masing.
...----------------...
Karena sudah sepakat, setelah acara makan siang itu Ridwan mendatangi kediaman Bram untuk bertemu dengan ayah angkatnya.
Sesampainya di sana Ridwan celingak-celinguk mencari seseorang.
"Eh tuan Ridwan, baru sampai ya? Ayo masuk! Nyonya Naila, tuan Bram juga kakek sepuh ada di dalam. Dan ada tuan muda Devan juga." ucap bibik Nun.
"Iya bik." ucap Ridwan mulai memasuki rumah itu.
"Haloooo semuanya." kata Ridwan.
__ADS_1
Namun hanya Nudin yang menyahut. Entah kenapa Bram merasa kecewa terhadap Ridwan.
"Bagaimana bagaimana apa Fany setuju nak?" tanya Nudin kepo.
"Iya dong yah, anak ayah kan ganteng." jawan Ridwan asal sambil melihat sekeliling untuk mencari Tia.
"Tia belum pulang bang?" tanya Ridwan bingung.
"Belum Rid, entah kemana dia." ucap Bram sedikit khawatir.
"Ah belum pulang? Padahal mau hujan ini. Dia kan paling takut petir." ucap Ridwan tiba-tiba.
"Mungkin sebentar lagi." ujar Bram pura-pura tenang padahal dia sendiri merasa was-was.
"Kalau gitu biar aku cari saja dia." tutur Ridwan.
"Tidak usah! Kamu selesai kan dulu apa yang mau kamu bicarakan." beo Bram.
Mendengar hal itu, Bram merasa kecewa yang teramat sangat.
...****************...
Di sisi lain, Tia sudah mandi hujan hingga kondisinya basah kuyup. Dengan badan menggigil dan bergetar dia masuk dalam rumahnya.
"Tia!" panggil Naila pada putrinya yang basah kuyup itu.
Aisyah kaget melihat Tia sangat pucat.
"Tia eh Tia kamu kenapa nak? Tia sayang!" tanya Bram khawatir.
__ADS_1
Tia tidak sanggup berbicara hingga akhirnya dia pingsan.
Ridwan yang melihat itu buru-buru mendekat ke arah Tia. Namun Bram langsung melarangnya.
"Stopp Ridwan, kamu tetap di situ! Anak saya baik-baik saja. Tolong jangan maju, aku tak mau menambahkan lukanya." ucap Bram lantang.
Ridwan beserta kakek Nudin terkejut mendengar ucapan Bram yang sangat tegas.
Lantas Bram mengangkat putrinya itu dan segera membawanya ke dalam kamar. Aisyah dan Devan nampak kebingungan sebenarnya apa yang telah terjadi.
"Bro, adik gue kenapa dia?" tanya Devan heran.
"Iya om, kenapa dengan Tia?" kini Aisyah yang bertanya.
Ridwan tercekat, lidahnya terasa berat untuk berbicara. Ini saja dia sedang berfikir apakah Tia seperti itu karena dirinya?!
"Entah, om juga kurang tahu!" kilah Ridwan dengan sejuta pikirannya.
"Rid, panggil dokter keluarga suruh datang kesini!" suruh Nudian.
"Iya ayah." jawab Ridwan cepat yang sebenarnya ia sendiripun khawatir dengan keadaan Tia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar, Bram dan Naila memperhatikan Tia yang terlelap. Bik Nun sudah mengganti pakaian yang basah dari tubuh Tia.
"Yah, Tia kenapa jadi begini?" Naila terisak melihat kondisi putri semata wayangnya.
Bram hanya terdiam, dia tahu apa yang terjadi pada putrinya. Dan ini di luar kuasanya. Bram memejamkan matanya, dia merasa menjadi seorang ayah yang gagal untuk putrinya tersebut.
__ADS_1
"Maafkan ayah Tia, maafkan atas ketidakmampuan ayah dalam hal perasaanmu." monolog Bram dalam hatinya.