
Pagi-pagi Tia sudah bangun. Saat di kamar mandi dia senyum-senyum sendiri menatap jejak-jejak kecupan milik Ridwan di leher, pundak, dada sampai ke perutnya.
"Ish babang buas banget!" keluh Tia ketika merasakan nyeri di bawah sana.
"Kayaknya berendam enak kali ya?!" Tia ingin merilekskan badannya dari rasa sisa-sisa kegiatan malam tadi.
Dengan tertatih Tia menuju bathup yang sangat luas itu. Di isinya penuh dengan air, tak lupa juga dia menambahkan sedikit sabun cair beraroma menenangkan. Busanya sampai meluap memenuhi isi bath up itu.
Setelah di rasa cukup, Tia pelan-pelan membaringkan tubuhnya di dalam bath up yang sudah terisi itu.
"Aaahhh enaknya!" lenguh Tia sambil memejamkan matanya.
Karena saking keenakan Tia sampai tertidur di dalam bath up.
...****************...
Di sisi lain Ridwan terbangun tak mendapati Tia di sampingnya.
"Kemana sayangku pagi-pagi?!" tanya Ridwan pada dirinya sendiri.
Karena tak mendapati istrinya di sampingnya lantas Ridwan beranjak mencari keberadaan Tia.
Entah kenapa feelingnya mengatakan kalau istrinya berada di kamar mandi. Saat membuka pintu kamar mandi Ridwan terkejut melihat istrinya tertidur pulas di dalam bath up yang di penuhi dengan busa.
"Astaghfirullah istriku malah tidur disini."
__ADS_1
Ridwan memasuki kamar mandi tersebut dan terukir senyum nakal di bibirnya. Ia melihat Tia tertidur dengan bibir terbuka, dan dadanya nampak sedikit. Itu malah membuat libido nya naik dan si otong di bawah sana malah menjadi turn on.
Dengan perlahan Ridwan masuk ke dalam bath up itu menyusul Tia yang tengah terlelap.
"Istriku tersayang, jangan salahkan babang ya! Habisnya tubuhmu membuat candu untuk diriku." kata Ridwan yang mulai mendekati Tia.
Di rabanya pipi Tia yang lembut secara perlahan, dan jari-jari Ridwan dengan ahlinya meraba dari wajah hingga turun ke dua gundukan yang menantang untuk di jamah.
Tia yang merasa ada yang meraba, tiba-tiba matanya terbuka dan terkejut.
"Astaghfirullah, babang!" pekik Tia terkaget.
"Ini babang mau ngapain?" tanya Tia keheranan.
"Mau menikmati suasana baru loh baby." ucap Ridwan penuh makna.
"Bagaimana kalau kita coba sensasi bercinta di dalam sini, di tempat ini?!" tawar Ridwan yang sudah tak sabaran.
Tia hanya bisa menganggukkan kepala tanda setuju. Dia juga ingin merasakan. Tanpa basa-basi lagi Ridwan mulai melakukan aksinya. Ridwan mencium ganas bibir Tia, menekan rongga mulut Tia hingga mereka bertukar saliva. Tak mau menganggur, tangan Ridwan juga ikut bekerja. Di re*masnya gunung kembar milik Tia sedikit kasar. Tapi justru itu menambah lonjakan bira'hi yang ada di dalam tubuh Tia.
"Hhiisss, babang." Tia mendesis nikmat.
"Do you like it honey?" goda Ridwan yang melihat Tia menikmati setiap sentuhannya.
"Yes i like it so much!" jawab Tia dengan suaranya yang serak menahan naf*su.
__ADS_1
Kembali Ridwan mencium bibir Tia namun kali ini dengan lembut. Sementara itu, tangan Ridwan mulai nakal dengan mengobok-ngobok padang rumput milik Tia di bawah sana.
Tia bergeliat menahan geli bercampur nikmat.
"Yess babang, seperti itu!" racau Tia tanpa sadar.
"As you wish beb!" ucap Ridwan puas.
Lama Ridwan bermain di sana hingga Tia bergetar hebat tanda pelepasannya yang pertama.
Nafas Tia memburu, dadanya naik turun.
"Babang gila!" ujar Tia yang pertama kali merasakan sensasi ini.
"Hahahaha, ini belum berakhir, now it's my turn!" dengan cepat Ridwan membalikan tubuh Tia hingga posisinya menungging.
Dengan perlahan tapi pasti Ridwan memasukkan pusaka abadinya ke dalam gua kenikmatan milik Tia.
"Aaghhh," tia mende*sah kala terong Ridwan masuk penuh ke dalam guanya.
Perlahan Ridwan menggerakkan tubuhnya maju dan mundur mengikuti ritme pergerakan tubuh Tia di depan sana.
"Oh my God, kau sangat nikmat dan sempit sayang!" ucap Ridwan yang begitu menikmati posisi dari belakang ini.
"Harder babang!" ternyata Tia menyukai posisi seperti ini.
__ADS_1
Keduanya larut dalam kegiatan pagi hari yang penuh dengan kenikmatan. Berjam-jam mereka disana sampai-sampai air di dalam bath up berkurang. Keduanya mereguk manisnya bercinta hingga lupa waktu. Tak tahu apa di bawah sana seluruh keluarga kusuma sedang menanti mereka.