
Seminggu telah berlalu, pernikahan Devan dan Aisyah semakin hangat. Semalam Devan berfikir kalau dia mau memulai kehidupan baru bersama Aisyah. Devan telah memutuskan untuk pindah rumah.
"Bunda ayah, Devan mau meminta izin. Devan dan Aisyah ingin pindah ke rumah baru kita." Ucap Devan serius.
"Apa harus sekarang ya Dev? Kamu tahu bunda masih pengen main sama Zila." Kata bunda dengan sedih.
"Bun, biarkan Devan pindah ke rumah barunya. Toh rumah barunya kan dekat bun." Ujar ayah Bram yang merasa lucu dengan istrinya. Rumah hanya itungan langkah malah bikin istrinya sedih.
"Ya sudah, tapi bimbing Aisyah dengan baik. Sayangi Aisyah seperti kamu sayang ke bunda dan Tiara." Pesan bunda pada Devan.
"Iya bunda itu pasti, Devan akan menjaga martabat Aisyah dan membahagiakan Aisyah segenap hati devan." Balas Devan yakin.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Keesokan harinya,
Devan kini sudah tiba di depan rumah barunya. Rumahnya tidak jauh dari rumah orang tuanya. Bisa di bilang hanya berjarak 1 meter dari kediaman orang tuanya.
Aisyah terkaget melihat rumah mewah di depannya.
"Ini rumah kita mas?" Ucap Aisyah sambil memandang kagum pada bangunan megah di depannya.
"Iya ini rumah kita sayang, surga kita, rumah impian kita." Beo Devan sambil memeluk Aisyah.
"Terima kasih mas, rumahnya bagus sekali. Aisyah tidak menyangka mas selalu manjain Aisyah." Kata Aisyah dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Hush, ga usah berterimakasih. Tapi kamu suka kan sayang dengan rumahnya?" Tanya Devan.
"Suka mas, suka banget," ucap Aisyah sambil memeluk Devan karena merasakan bahagia.
Devan membawa Aisyah masuk dalam rumah barunya,
"Ceklek......"
"Assalamu'alaikum," ucap keduanya.
Aisyah masuk ke dalam rumahnya. Pertama yang di lihat Aisyah adalah ruang tamu super indah.
Setelah itu, Devan membawa Aisyah ke ruangan keluarga. Disana sudah lengkap semuanya.
Setelah puas berkelana keliling ruangan, akhirnya Devan membawa Aisyah ke lantai atas menuju ke kamar mereka. Di lantai atas terdapat 6 kamar.
Masing-masing sudah lengkap berisi kelengkapan. Ada juga ruangan untuk tamu dan kamar buat saudara yang kali saja mau menginap.
Begitu masuk ke kamar utama milik Devan dan Aisyah, Aisyah sampai ternganga. Aisyah sangat kagum dengan dekorasi ruangannya. Tempat tidurnya sangat luas, apalagi kamar mandinya yang super mewah. Bahkan tempat pakaiannya pun sangat istimewa.
__ADS_1
KAMAR AISYAH DAN DEVAN
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Di saat Aisyah sedang merasakan bahagia, lain pula halnya dengan si Zakir.
Zakir semakin hari semakin jengah dengan sifat nya Vera. Vera yang dia kenal dulu baik dan lemah lembut tapi sekarang berubah otal. Bahkan Vera yang sekarang bagaikan bukan dia.
"Vera bisa gak sih kamu ini masak? Lihat sekarang kita makan apa Vera?" Kata Zakir kesal.
"Mas ini bikin repot ya, kan bisa pesan makan lewat aplikasi online." Ucap Vera dengan ketus.
"Kamu tahu kan kita baru pindah, sedangkan kita harus berhemat. Uang kita menipis, jadi kita harus hemat Vera." Marah Zakir yang kesal dengan tingkah Vera.
"Hemat, hemat kamu tahu gak aku capek hemat terus."
Vera berteriak kesal.
"Kamu betul-betul ya, kamu tidak seperti Aisyah yang selalu mementingkan aku." Mulai Zakir membandingkan Vera dan Aisyah.
"Aisyah lagi Aisyah lagi, aku bukan Aisyah! Jangan samakan aku dengan wanita rendahan itu aku tidak sebodoh Aisyah." Luap amarah Vera dan langsung membanting gelas yang ada di atas meja.
Zakir sangat syok,
"astagfirullahaladzim kenapa jadi begini." Zakir hanya bisa beristighfar.
Zakir duduk termenung sambil mengingat Aisyah.
__ADS_1
Jika saja dulu dia tidak bercerai dengan Aisyah, mungkin mereka akan bahagia. Namun apa daya dia tidak mencintai Aisyah, dia tidak suka dengan Aisyah yang tak pandai berhias. Aisyah selalu berpakaian tertutup. Sehingga dia malu pada teman-teman kantornya yang mengatakan Aisyah sok muslim.