
Keringatnya mengucur, nafas ngos-ngosan. Seperti itulah Ridwan saat ini. Dia berlari dari mobil menuju lift, dari lift menuju kamarnya. Di ketuknya pelan pintu kamar 404, kamar saksi percumbuan mereka pada malam-malam lalu.
Lama pintu itu tidak terbuka. Dengan tak sabaran Ridwan membuka pintu kamar itu, namun terkunci. Tak putus akal, Ridwan berlari lagi menuju lift untuk ke lantai bawah menemui receptionist hotel tersebut.
"Permisi mbak, tamu yang menginap di kamar 404 atas nama Tiara apakah masih berada di hotel ini?" tanya Ridwan dengan muka yang bisa di bilang tak baik, ada gurat ketakutan di dalamnya.
"Sebentar bapak, kami akan mengeceknya terlebih dahulu." jawab receptionist nya dengan sopan.
Hanya menunggu waktu sebentar, sudah ada hasil dari pengecekan itu.
"Mohon maaf bapak, tamu atas nama Tiara yang stay di kamar 404 sudah check-out kemarin malam pak." ujar receptionist itu.
Bak di sambar petir, jantung Ridwan berdetak kencang. Gurat kesedihan membuat dirinya terlihat sangat tak beraturan.
"Terimakasih atas bantuannya mbak." ucap Ridwan dengan bibir bergetar.
__ADS_1
Ridwan berjalan lunglai menuju mobilnya. Sebongkah penyesalan kini meliputi hati dan pikiran nya.
"Bang*sat kau Natty! Kau sudah bermain-main denganku. Kau salah mencari musuh!" ucap Ridwan dengan menahan amarah.
"Kemana kau sayang? Tolong jangan hukum aku seperti ini." pinta Ridwan sambil memandangi foto Tia yang ada di dashboard mobilnya.
Ridwan nampak putus asa, dia telah mengerahkan seluruh anak buahnya namun hasilnya masih nihil. Handphone milik Tia tak bisa di hubungi. Ingin rasanya Ridwan memberi tahu Devan perihal ini namun nyalinya menciut sudah pasti dia akan di amuk oleh Devan. Apalagi kalau sampai Nudin, Bram dan Nilla tahu bisa tamat riwayat nya.
"Araaagghhhh sial! Dasar kau laki-laki tak berguna Rid!" Ridwan memgumpati dirinya sendiri akan keteledoran nya hingga membuat wanita yang paling di cintainya terluka.
Belum usai kesialan Ridwan kini telah hadir kesialan lagi. Bagaikan pepatah mengatakan, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ponsel Ridwan berbunyi dan tertera nama Bram disana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain.........
__ADS_1
Tia mengurung dirinya di kamar apartement rahasianya. Nomer handphone miliknya telah berganti. Tia sengaja melakukan nya agar tak satupun yang bisa melacak keberadaannya.
Matanya sembab, rambutnya acak-acakan. Tangisnya tek berhenti. Rasa sakit hatinya semakin menjadi-jadi.
"Hikssss babang kau sungguh tega! Harusnya kau katakan saja kalau kau tak mencintaiku! Harusnya kau tak terima pernikahan ini! Sungguh kejam kau melukai hatiku sedemikian rupa!"
"Apa karena kau tahu aku sangat mencintaimu makanya kau tega menyakiti perasaanku?"
"Apa salah aku mencintaimu? Apa salah aku menyayangimu? Apa salah aku menyukai semua yang ada di dirimu?"
"Aku terlanjur mencintaimu dan telah kuserahkan semua hidupku padamu. Tapi jangan kau jadikan semua itu alasanmu untuk menyakiti ku!"
"Huuuuuuu,, huuuuuu..."
Tia menumpahkan segala rasa yang ada di hatinya. Hatinya benar-benar kecewa. Dia merasa cintanya dari dulu hanya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
"Bodooh kau Tiara! Boddohhhhh! Kau bodoh karena cinta. Kau bodoh karena laki-laki macam dia!
Tia menangis sejadi-jadinya hingga Tia pingsan dan tak sadarkan...