JANJI AISYAH

JANJI AISYAH
78


__ADS_3

Sudah seharian Bram dan Ridwan mencari keberadaan Tia. Hasilnya tetap nihil dan Tia masih menjadi misteri keberadaan nya. Entah dimana Tia saat ini.


Tiba-tiba Bram ingat akan ayahnya Nudin. Terbesit keinginan untuk meminta tolong pada ayahnya itu yang notabene memiliki kekuasaan lebih besar daripada dirinya maupun Devan bahkan Ridwan pun masih kalah jauh.


Bram merogoh kantong celananya untuk mengambil handphone. Dan dengan segera menghubungi Nudin.


Sementara itu, di seberang sana Nudin sedang menikmati keindahan alam yang ada di Swiss terganggu dengan nada dering handphone nya yang terus berbunyi. Karena kesal dia segera mengambil handphone nya. Kaget, tertera nama anaknya Bram yang menelpon. Buru-buru Nudin mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum Bram." sapa Nudin pada anaknya.


"Kenapa? Apa yang terjadi? Bicara yang jelas Bram ayah tak mengerti!" pinta Nudin yang penasaran.


"Hah? Apa kau bilang? Seserius itu?" tanya Nudin lagi.


"Baik, tunggu ayah datang. Jangan ada yang bergerak sebelum ayah beri perintah!" tegas Nudin.


Setelah mematikan telepon, Nudin bergegas menyuruh anak buahnya untuk membereskan barang-barangnya guna bertolak ke Indonesia sekarang juga. Tak lupa juga dia memerintahkan bawahannya untuk mempersiapkan jet pribadinya.


"Tia cucuku sayang, tunggu kakek! Kakek tahu dimana kau berada." ucap Nudin penuh keyakinan.

__ADS_1


"Kita akan beri pelajaran pada wanita sia*lan itu dan juga pada suamimu yang bodoh itu!" monolog Nudin.


...****************...


Di sisi lain, Bram dan Ridwan sudah pasrah. Anak buahnya pun tak mampu menemukan keberadaan Tia.


"Rid, kita tunggu ayah datang saja. Kita tak di ijinkan bergerak sebelum ayah sampai." kata Bram memberi tahu.


"Mati aku bang, sudah pasti aku di amuk sama ayah!" tiba-tiba Ridwan merinding.


"Urusan kau lah! Terima nasib aja, salahmu juga Rid teledor!" ujar Bram tanpa dosa.


"Terima resiko lah kau sudah berani menyakiti cucu kesayangannya!" lagi-lagi Bram menakut-nakuti adik sekaligus menantunya itu.


"Ya Allah, aku serahkan semuanya pada-Mu. Aku rela di amuk ayah asal Tiaku kembali." Ridwan memohon dalam doanya.


"Aamiin." singkat Bram membalas doa adiknya itu.


...----------------...

__ADS_1


Di apartemen rahasia, Tia dan Rina sedang duduk berdua. Tia masih saja belum enak makan, bahkan tidurnya pun tak lagi nyenyak seperti biasanya. Tia terus saja menangis, dan terus menangis. Rina yang tak tega sudah berusaha menghibur Tia tapi tetap saja Tia bersedih.


"Non, sudah atuh nangisnya. Jelek tahu." ucap Rina membuka obrolan.


"Sudah seminggu non ga doyan makan, lihat nih tubuh non kurusan." Rina masih mencoba membujuk Tia untuk makan.


"Sudah, biarkan saja Rin. Aku mau sendiri dulu dan tolong jangan ganggu aku!" usir Tia namun masih tetap halus.


Belum Rina menjawab, bel pintu apartemen berbunyi. Rina dan Tia saling pandang, seingatnya mereka tidak ada memesan makanan ataupun minuman. Terlebih lagi tempat ini rahasia, tidak ada yang tahu.


Tia buru-buru bangkit dan di ikuti oleh Rina...


"Siapa non?!" tanya Rina sambil ikut mengintip.


"Gak tahu, ayok kita cek!" ajak Tia.


Dengan hati-hati Tia mengendap berjalan ke arah pintu. Sesampainya di depan pintu, Tia mengintip dari lobang pintu dan anehnya tak ada siapa-siapa di depan. Karena penasaran akhirnya Tia membuka pintu perlahan, belum terbuka sempurna sudah ada tangan yang menggenggam nya.


"Kaaaa... kaaa... kaakkeeek.!" ucap Tia terbata...

__ADS_1


__ADS_2