JANJI AISYAH

JANJI AISYAH
S2 JA. Kemarahan Bram


__ADS_3

"Kenapa sudah dua hari ini Ridwan dan Tia ga ada yang mau angkat telpon dari kita ya pah?" tanya Nilla yang keheranan karena beberapa hari ini telpon dari dirinya maupun Bram tak ada yang tersambung.


"Entah bun, ayah juga gak mengerti." jawab Bram yang juga keheranan.


"Gak biasanya mereka seperti ini." imbuh Devan yang juga ikutan panik karena telpon nya juga tidak tersambung.


"Sabar ayah, bunda, mas Devan kali aja mereka beneran ga mau di ganggu secara kan lagi honeymoon." timpal Aisyah yang berusaha menenangkan mertua dan suaminya itu.


"Ya sudah, kita tunggu saja ya beberapa hari ini. Tapi ayah akan mengerahkan anak buah ayah buat mengecek situasi di Bali."


"Ayah takut terjadi sesuatu dengan mereka." ujar Bram lagi.


Bram segera menelpon salah satu anak buahnya dan menyuruh mereka segera bertolak ke Bali guna mencari informasi keadaan Ridwan dan Tia.


...----------------...


Sementara itu di apartemen rahasia milik Tia, Tia sedang tergolek lemas. Semalaman dia pingsan, setelah sadar dirinya menelpon orang kepercayaannya untuk datang membawa dokter.


"Non Tia, kenapa tidak menghubungi tuan Bram dan Nyonya Nilla?" tanya Rina orang kepercayaan Tia yang selama ini sering membantu Tia.

__ADS_1


"Tolong Rin, aku masih mau sendiri. Dan tolong jaga rahasia ya. Jangan katakan aku disini pada siapapun. Berjanjilah atas nyawamu!" pinta Tia sungguh-sungguh.


"Baik non, saya berjanji dengan nyawa saya." ucap Rina mantap.


"Non Tia istirahatlah, kata dokter non Tia terlalu banyak pikiran dan stress makanya kondisinya jadi drop." kata Rina pada Tia.


"Iya Rin, aku ingin tidur sebentar saja."


Tia segera menutup matanya, rasanya dia lelah sekali. Dia ingin sejenak melupakan penghianatan yang di lakukan Ridwan.


...****************...


Di sisi lain, Ridwan panik mencari Tia kesana kemari namun nihil.


Nasi sudah menjadi bubur, semua tak bisa di balikan lagi.


...----------------...


Bram terkejut dengan informasi yang di berikan oleh anak buahnya.

__ADS_1


"Kurang ajar kau Ridwan!"


"Kau tak mengindahkan peringatanku, jadi terjadi sudah yang ku takutkan!" marah Bram yang geram dengan adiknya itu.


"Ayah kenapa?!" tanya Nilla yang melihat suaminya itu menahan amarah.


"Ah itu, tidak apa-apa bun. Ada sedikit problem di kantor. Ayah jadi pusing."


Bram berusaha tenang, agar istrinya tidak curiga. Bram ingin segera menyelesaikan permasalahan yang menimpa anak dan adik sekaligus menantu nya.


"Oh ya bun, besok ayah akan pergi ke Amsterdam. Mega proyek yang waktu ini ayah bicarakan sama bunda akan di adakan rapat pemegang saham dua hari lagi. Jadwalnya maju entah kenapa ayah juga bingung. Jadi ayah akan kesana besok supaya tidak buru-buru." dusta Bram yang tak ingin istrinya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Lagipula kalau sampai Nilla tahu akan berabe urusannya.


"Mendadak sekali, kata ayah minggu depan." Nilla nampak sedikit curiga dengan gerak gerik suaminya.


"Astaghfirullah bun, ayah tadi kan sudah bilang dimajukan. Ayah bisa apa? Karena yang pegang saham kan banyak." kelit Bram.


"Iya ayah bunda cuma bertanya ish! Nanti bunda siapkan segala sesuatunya." ujar Nilla.


"Terimakasih istriku sayang." balas Bram sembari mencium kening istrinya itu.

__ADS_1


......................


"Maafkan aku istriku, bukan maksud ku membohongi mu, aku akan segera kembali membawa anak dan menantu kita. Dan aku akan menghukum wanita ja*lang tersebut karena telah berani mengusik keluarga Kusuma." monolog Bram dalam hati.


__ADS_2