JANJI AISYAH

JANJI AISYAH
Di amuk abah


__ADS_3

Saat sedang asyik bercembu, tanpa mereka sadari keluarga Aisyah dan keluarga Zakir datang. Mereka terkejut dan kaget melihat kelakuan anak menantunya itu. Dan mereka juga tambah kaget yang melihat Aisyah bersimbah darah dan sedang tak sadarkan diri.


Apa lagi mereka mendengar teriakan Zila dari dalam kamar.


"Zakiiirrrr!!!" Teriak abahnya Zakir dengan murka, dan tanpa ampun Zakir di amuk oleh bapaknya. Sedangkan abah Aisyah langsung menggotong Aisyah dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.


Terrnyata Zila juga parah, dia terluka dan kepalanya berdarah karena di pukul oleh Vera.


"Aa..aabah," kaget Zakir yang mendapat amukan tiba-tiba dari abahnya.


Dengan membabi buta abah Zakir terus memukul anak laki-laki nya itu. Jangan salah, walaupun sudah berumur abanhnya Zakir masih kuat untuk mengahajar tiga preman sekaligus, karena abahnya dulu adalah jawara kampung.


Sedangkan Vera juga tak luput dari amukan, dia di tarik dan di tampar oleh umanya Zakir.


"Uma jangan pukul Vera, Vera sedang mengandung anak Zakir umma." Mohon Zakir pada ibunya.


"Astagfirullahalazim, kamu betul-betul laki laki-laki iblis Zakirr!!" Murka umanya Zakir.


Sementara itu Aisyah telah tiba di Rumah sakit terdekat. Setelah sampai di rumah sakit Aisyah langsung di bawa ke UGD untuk mendapat tindakan pertama.


Aisyah langsung di tangani oleh dokter dan perawat jaga yang ada di ruangan UGD itu. Abah dan umma Aisyah terus menangis meratapi nasib putri tercinta mereka. Tak habis pikir, kenapa Zakir yang selama ini baik menjadi gelap mata seperti itu.

__ADS_1


"Abah kenapa dengan anak kita?" Tanya umma Hawa, ibu dari Aisyah.


Abah juga tidak tahu umma apa yang terjadi. Semoga putri dan cucu kita baik-baik saja ya uma," ucap abah Azwar, ayah dari Aisyah.


"Abah coba telpon besan kita untuk mengabari kalau Aisyah sudah sampai di RS." Kata umma Hawa kepada suaminya


"Iya umma sebentar abah telpon dulu besan kita." Abah merogoh handphone nya dan nengabari besannya di seberang sana.


Setelah menelepon besannya, abah dengan cepat menelepon anak laki laki-laki nya.


"Fahmi, kamu ke Bandung ya nak segera! Kakak kamu terluka." Suruh abah Azwar.


Fahmi yang notabe anak sholeh dan penurut tanpa banyak bicara langsung berangkat ke Bandung untuk menemui kakak nya. Pikirnya pasti ada sesuatu yang telah terjadi karena abahnya jarang menyuruhnya pulang kalau tidak ada masalah.


"Dan kamu!!!" Tunjuk bapak Zakir kepada Vera.


"Jangan pernah kamu bermain api dengan keluarga saya atau kamu akan merasakan akibatnya. Pergi kalian dari sini!" Peringatan dan ancaman buat Vera dan Zakir.


"Tidak bapak, ini rumah mas Zakir bukan rumah bapak. Bapak yang harus pergi!" Beo Vera dengan nada sesedih mungkin alias dengan air mata buaya.


🍆🍆🍆🍆🍆🍆🍆🍆🍆🍆

__ADS_1


Seperti burung yang terbang dengan satu sayap


Mampu melintas awan. tapi dengan rasa sakit yang tak tertahan


Seperti gelap malam yang hanya di temani bulan, tanpa bintang.


Tanpa rasi yang membentuk gugusan-gugusan indah


Mampu temani jiwa-jiwa sepi meski tanpa keindahan sempurna


Seperti mentari yang kekurangan cahaya


Tak mampu menghangatkan meski mampu tuk sedikit menerangi


Seperti aku yang kehilangan setengah nyawa


Masih mampu berdiri meski raga terlalu rapuh


Terselip segumpal luka dalam senyumku


Kehilangan yang teramat perih, perih, sangat perih

__ADS_1


Tersiksa batin, tersiksa hati, tersiksa seluruh jiwa-jiwaku.


__ADS_2