
"Aisyah." panggil Zakir dengan mata berkaca-kaca.
"Maas" sahut Aisyah.
"Aiss maafkan mas, maafkan mas sayang." ucap Zakir menyesal.
"Mas," ucap Aisyah dengan berlinang air mata.
"Ayo Aiss kita pergi! Kita buat hidup kita penuh dengan makna dan bahagia. Tinggalkan Devan, kita mulai lagi ya dari awal sayang." ucap Zakir sambil menggenggam tangan Aisyah.
Aisyah langsung mengganggukan kepalanya tanda setuju.
Setelah itu mereka kabur ke pulau terpencil, mereka hidup sangat bahagia.
"Sayang," panggil Zakir.
"Iya mas." ujar Aisyah sambil tersenyum manis.
"Kangen," ucap Zakir manja dan Zakir langsung meng*hisap bibir manis Aisyah.
Zakir terus menjelajahi tubuh molek Aisyah. Aisyah yang di perlakukan begitu sangat bahagia.
"Aah Aisyah kamu nikmat!"
Setelah melakukan hubungan badan, Zakir sangat puas.
"Terimakasih sayang, terimakasih." ucap Zakir sambil mencium kening Aisyah lembut lalu memeluknya erat.
"Mas mas mas bangun, kenapa si meluk aku kayak gini sesak tahu." ucap Vera dengan marah.
Zakir lantas tersadar setelah Vera menepuk pipinya dengan keras.
"Astagfirullahalazim, ternyata hanya mimpi," gumam Zakir lemas.
"Mas kenapa sih?" tanya Vera heran.
"Aku tidak apa-apa Vera, aku mau lanjut tidur lagi." tutur Zakir sembari membalikkan badannya.
__ADS_1
"Iya." ucap Vera cuek.
"Sial ternyata semua itu hanya mimpi. Aah semoga besok aku bisa kembali lagi bersama Aisyahku." oceh Zakir dalam hati sambil berusaha menutup matanya.
**********************
Keesokan harinya,
Sesuai rencana awal kini Vera, Radit , dan Zakir dan temannya Vera yang bernama Dimas yang dulu punya dendam dengan Aisyah pun ikut dalam misi penculikan ini.
Sebelum menculik Aisyah, Radit telah menelepon Ridwan. Bahwa mereka hari ini akan melakukan apa mereka telah rencanakan. Sebelum bergerak Radit meminta tolong dengan Ema dan anak buahnya yang lain untuk membantu keadaan.
"Ema bagaimana? Apa pas sesuai rencana yang di katakan oleh Raditya?" ucap Bram di seberang sana.
"Aah iya tuan, saat ini kami sudah menjalankan apa yang tuan perintahkan." tutur Ema.
"Baik lakukanlah dengan baik, agar menantuku tidak syok dan kaget." ucap Bram dengan senyum kebahagiaan.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>
"Hey, apa itu Aisyah?" tanya Raditya dengan pura-pura.
"Hmm, apa itu Aisyah? Tapi dari belakang iya sih, tapi kenapa Aisyah memakai cadar?!" ujar Zakir heran.
"Mungkin dia menutup wajahnya agar kita tdk mengenalinya." ucap Dimas.
"Hahahahhaha dia pikir kita akan tertipu, jangan mimpi kamu Aisyah karena sebentar lagi kamu akan merasakan apa kami rasakan." ucap Vera sembari tertawa sangat lebar.
"Vera bisa gak tutup mulut mu?! Bauk tahu." ucap Dimas asal.
"Kamu, aarraagh." geram Vera.
"Sudah udah jangan pada berantem. Lihat itu Aisyah sudah keluar dari supermaket." ucap Raditya.
"Okey, kalau begitu biar aku yang bergerak" ucap Zakir cepat.
"Tidak jangan kamu Zakir, biar aku saja." ucap Raditya.
__ADS_1
"Tapi kan." ucap Zakir terpotong.
"Mas jika kamu yang maju yang ada Aisyah jadi takut." ucap Vera menimpali.
"Hhm ya sudah baiklah." ucap Zakir lemas.
Setelah itu Raditya langsung mencegat Aisyah dan Aisyah yang melihat Raditya menjadi ketakutan. Tanpa banyak bicara, dengan cepat Aisyah di bawa oleh Raditya ke dalam mobil yang telah menunggu.
"Akhirnya kamu bersamaku." gumam Zakir senang karena saat ini Aisyah ditempatkan tepat sampingnya.
"Buka aja cadar nya." ucap Vera sambil menggerakkan tangannya siap membuka cadar Aisyah.
"Hey jangan! Jika kamu buka aku takut ada polisi di jalan atau ada anak buah keluarga Kusuma yang akan mengenali dia. Kamu tahu kan keluarga Kusuma bagaimana?" tutur Raditya dengan gugup.
"Issh baiklah." ucap Vera sedikit kesal.
"Oh ya Radit, kita kemana ini?" tanya Vera.
Kamu tenang saja Vera, hari ini kita tak mungkin bergerak langsung ke pulau itu. Jadi sebelum itu, aku akan bawa Aisyah ke tempat dimana aku menyekap musuhku." ucap Raditya meyakinkan.
"Apa kamu ada gudang gitu?" tanya Zakir.
"Iya Zakir, jadi kita akan bermalam di sana." sahut Raditya cepat.
Setelah beberapa puluh menit akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan mereka.
"Apa ini hutan ya?" tanya Dimas celingukan.
"Iyaaa, dan tidak ada yang bisa melacak kita walaupun seekor singa sekali pun." ucap Raditya ambigu.
Sesampainya di sana Zakir, Vera dan Dimas ternganga karena tidak percaya bahwa mereka berdiri di depan gedung yang besar.
"Ayok cepat!" seru Raditya sambil menggendong Aisyah.
"Sini biar aku saja." ucap Zakir sambil merebut Aisyah di gendongan Raditya.
Vera dan Dimas hanya bisa melongo melihat Zakir seperti itu.
__ADS_1