
Beberapa bulan kemudian,
akhirnya Zakir telah resmi berpisah dengan Aisyah.
Rumah yang di tempati Aisyah jatuh ke tangan Zakir, karena Zakir mengancam kalau rumah itu tak diberikan kepadanya, Zakir akan membawa kabur Zila dan dipastikan Aisyah tidak akan bisa menemui Zila. Aisyah tak ingin hal itu terjadi. Dan pada akhirnya walau dengan berat hati keluarga Aisyah menerimanya.
Sejak Zakir berpisah dengan Aisyah, hidupnya bagaikan air laut yang pasang surut.
Yang biasanya Zakir selalu disediakan makanan di atas meja, dan apapun yang dia mau semua ada, kini jangankan makanan air putih saja tidak ada.
Bahkan bajupun kini Zakir yang mencucinya sendiri. Jika meminta Vera yang melakukannya pasti dia beralasan karena mengandung.
Sedangkan orang tua Vera juga ikut tinggal bersama Zakir. Anak Vera yang bernama Vero juga ikutan tinggal di rumah itu.
Ternyata Zakir tidak baik-baik saja, setiap pulang kerja dia harus menerima perkataan pedas dari mertuanya,
Zakir ini lah, Zakir itu lah. Bahkan Zakir bagaikan pembantu untuk keluarganya Vera.
Lain halnya dengan Aisyah,
Aisyah kini mengajarkan anak-anak mengaji di pondok pesantren abah nya.
Aisyah selalu menyibukkan diri dengan apapun, agar dia bisa melupakan Zakir. Sedangkan Zila kini sudah masuk TK.
******°°°°*********
Aisyah sedang duduk di taman, ketika handphonenya berbunyi yang ternyata dari Vera mantan madunya itu.
"Ada apa ya Vera telpon aku?" Monolog Aisyah dalam hati.
__ADS_1
Dengan penuh pertimbangan Aisyah mengangkat nya.
"Assalamu'alaikum Vera." Salam Aisyah.
"Aisyah, kamu kirim uang buat saya." Jawab Vera di seberang sana tanpa mau menjawab salam dari Aisyah.
"Uang?" Tanya Aisyah bingung.
"Iya uang, kamu selama disini kan makan pake uang mas Zakir, jadi mulai bulan depan kau bayar uang yang kau pakai makan itu. Jika tidaaakkk..." Gertak Vera.
"Jika tidak apa?" Tanya Aisyah takut.
"Zila aku akan culik dan ku bawa kesini dan akan aku jadikan dia pembantu hahahaha." Ucap Vera sambil tertawa sinis.
"Oh ya, satu bulan 5 juta awas jika gak ada!" Ancam Vera lagi dan langsung mematikan HP nya.
Sedangkan Aisyah sangatlah takut. Aisyah takut anaknya di ambil oleh wanita jahat itu. Aisyah juga takut kalau ancaman itu nyata.
Karena abahnya tahu sejak perceraian itu, Zakir sering menteror Aisyah. Bahkan Zakir sering mengancam Aisyah.
Setelah berfikir matang, Aisyah siap menemui abahnya.
"Abah," panggil Aisyah.
"Iya Aish, ada apa?" Tanya abah.
"Abah, Aisyah mau ikut saran abah untuk tinggal di Jakarta bersama bibi. Boleh besok Aisyah berangkat ke sana abah? Tanya Aisyah lagi dan kali ini hatinya sudah mantap.
" Tentu bisa dong, jika kamu mau malam ini juga boleh nak, biar abah telpon bibimu dulu yaa." Ujar abahnya sambil merogoh handphone yang ada di sakunya.
__ADS_1
Setelah menelepon bibinya Aisyah,
abah menyuruh Aisyah untuk bersiap,
bahkan Zila sudah siap bersama umma. Karena abah langsung yang akan mengantar mereka ke sana.
Handphone Aisyah di sita oleh abah.
Bahkan nomer handphonenya pun sudah di ganti yang baru. Abah kaget saat Aisyah bilang kalau Vera mengancam dan meminta uang pada Aisyah.
Sementara itu di sisi lain Devan sedang berbincang dengan keluarganya.
"Devan kamu ini sudah berumur 34 tahun, tapi kamu belum menikah juga." Oceh bunda Devan.
"Bun, Devan belum ingin menikah. Hati Devan sudah di curi oleh orang hahahha." Ujar Devan kepada bundanya sambil tertawa.
Sedangkan bundanya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Bunda Devan tahu siapa maksud dari anaknya itu. Karena Devan sudah bercerita sosok wanita yang telah berhasil mencuri hati anaknya itu.
"Dev, papa harap kamu cepat menikah atau mau papa jodohkan sama anak rekan bisnis papa?" Tanya papa Devan dengan jahilnya.
Papa Devan tahu, kalau anak laki-laki satu-satunya itu tidak mau menikah dengan wanita yang notabe auratnya terbuka apa lagi dandanannya seperti badut ancol.
Ahmad Zakir 30 tahun.
__ADS_1
VERANA 26 TAHUN