
Tia berkeringat dingin, tangannya saling menaut. Duduknya gusar, saat ini kakeknya sedang menatap dengan tajam.
"Kakek, maaf." hanya itu yang keluar dari mulut mungil Tia.
"Heemm," begitu pula Nudin hanya berdehem saja menjawab maaf dari Tia.
Rina pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia juga sedang tidak baik-baik saja. Sudah pasti tuan besar Nudin akan marah padanya juga karena telah membantu menyembunyikan keberadaan Tia.
"Rin, aku tahu kau itu royal kepada keluarga kami, tapi kau seharusnya bisa melaporkan yang terjadi kepadaku!" tukas Nudin geram.
"Maa maa maaf tuan besar, saya saya bersalah." ujar Rina terbata-bata.
"Ah sudahlah, bukan salahmu sepenuhnya." ujar Nudin lagi.
"Dan kamu Tia, kenapa?" Nudin bertanya sambil menatap tajam kepada Tia.
"Kau ingat kan sebelum kau menikah apa yang kakek katakan? Tapi kenapa kau jadi lemah begini?" lagi dan lagi Nudin mengintimidasi.
Tiba-tiba Tia bangkit dan langsung bersimpuh kehadapan Nudin.
"Huuuuu.. huuuu.. huuu, kakek kakek." bukannya menjelaskan, Tia menangis tersedu.
"Sudah, sudah tenang tenangkan dirimu dulu sayang." ucap Nudin sambil mengelus kepala cucunya.
"Ayo bangun dulu, duduklah disamping kakek!" ajak Nudin.
__ADS_1
Tia bangkit dan duduk sejajar dengan kakeknya.
"Kek, bang Ridwan selingkuh!" kata Tia tiba-tiba.
"Dia bukan selingkuh Tia, dia cuma bodoh! Mau di perdaya oleh mantan istrinya." jelas Nudin yang membuat Tia terkejut.
"Apa maksud kakek? Wanita itu mantan istrinya?!" ucap Tia tak percaya.
"Iya, dia Natty mantan istrinya dulu yang mengkhianati suamimu. Dulu Ridwan sedang merintis, jadi si ******* itu jadi kesepian makanya berselingkuh. Padahal Ridwan sedang mati-matian membangun kerajaan-kerajaan bisnisnya."
"Naasnya, Ridwan mengetahui kebusukan istrinya itu makanya wanita itu di ceraikan tanpa harta sedikitpun." jelas Nudin lagi.
"Tapi kenapa dia kembali?" tanya Tia penasaran.
"Kakekmu ini mengenal suamimu dengan baik Tia, dia tidak akan berani macam-macam."
"Tapi kakek mau buat dia bingung dulu biar tahu rasa karena telah berani membuat kamu seperti ini." timbul kejahilan Nudin untuk Ridwan.
"Apa yang kakek akan lakukan?" tanya Tia penasaran.
"Kita buat suamimu menderita sedikit saja, sedikit ga usah banyak-banyak." jawab Nudin dengan senyum smirknya.
"Sekarang ayok kita makan, kakek membeli banyak makanan."
"Rina, tolong ambilkan makanan kesukaan Tia. Aku rasa anak buahku sudah sampai di depan pintu membawa pesananku!" perintah Nudin pada Rina.
__ADS_1
"Siap tuan besar." jawab Rina cepat dan segera berlalu.
...****************...
Di seberang sana, Bram dan Ridwan risau menunggu kedatangan Nudin.
"Bang, katanya ayah datang hari ini?" tanya Ridwan.
"Harusnya hari ini, kan kemarin ayah sudah berangkat." jawab Bram singkat karena sibuk membalas pesan dari handphone nya.
"Tapi kok belum datang juga?" Ridwan bertanya lagi bak bocah yang lagi nunggu emaknya datang.
"Yaelah Rid, sabar napa." lama-lama Bram kesal dengan adiknya itu.
"Pegang nih bang dadaku, deg-degan, kayak mau loncat nih jantung." ujar Ridwan yang makin mirip kayak bocah.
Bram tertawa terbahak, dia tahu adiknya itu sedang ketakutan. Nudin cuma satu-satunya yang paling ditakutkan oleh Ridwan.
"Jangan ketawa ya bang!" Ridwan malah merajuk.
"Derita Loe." ejek Bram.
Sore itu Bram dan Ridwan hanya bisa menunggu kedatangan Nudin. Deg-degan sudah pasti sampai makanpun mereka tak selera.
"Terima nasib aja lah." ujar Ridwan pasrah....
__ADS_1