JANJI AISYAH

JANJI AISYAH
part. 50


__ADS_3

Devan yang sedang pingsan di bopong menuju kursi panjang tempat menunggu untuk di baringkan.


Dan Bram merasa bak tersebar petir. Jantungnya berdetak tak karuan saat ia mendengar perkataan dokter.


Dengan tangan bergetar, Bram merogoh handphone untuk menelpon besan dan juga menelpon istrinya Naila.


"Assalamu'alaikum besan." salam Bram pada abahnya Aisyah.


"Wa'alaikumussalam besan," jawab abah Aisyah.


"Besan, Aisyah kita masuk rumah sakit dan dia masih kritis di dalam sana." ucap Bram dengan mulut bergetar.


"Astaghfirullah, bagaimana bisa? Ada apa dengan Aisyah besan?" abah Aisyah bertanya dengan beruntun.


"Ceritanya panjang, dan Aisyah masih di ruangan operasi." sahut Bram sedih.


"Baik besan kami akan segera berangkat sekarang juga kesana." kata abahnya Aisyah.


Sambungan telepon telah terputus, dengan panik abah memanggil istrinya.


"Umi, umi, Fahmi." panggil abah pada istri dan anaknya.


"Iya abah ada apa? Kenapa berteriak?" umi Hawa yang mendengar teriakan suaminya buru-buru menghampiri.


"Ada apa abah?" Fahmi yang mendengar abahnya memanggilnya dengan suara yang keras juga segera menghampiri.


"Aisyah masuk rumah sakit. Kita malam ini berangkat ke sana! Kalian cepat bersiap-siap sekarang biar abah pesan tiket persawat penerbangan tercepat." ucap abah.


Setelah bersiap-siap, mereka segera berangkat menuju ke bandara dengan di antar oleh supir.


.


.


.

__ADS_1


Di sisi lain, di kediaman Bram.


"Omaa kok Zila mimpi kalau umi sama adek kecil mau pergi ninggalin zila." ucap Zila dengan polosnya.


"Astaghfirullah kok Zila bilang gitu sayang?!" sahut Naila heran.


"Gak tahu oma. Zila mau sama umi." ucap Zila seketika menangis ingat dengan uminya.


"Bundaaaaaaaaa." panggil Tiara dengan panik.


"Ada apa Tia kamu kok berteriak begitu?" ucap bunda.


"Bunda kak Aisyah, kak Aisyah masuk rumah sakit." tutur Tiara.


"Aapaaaa astaghfirullah, ya Allah Tia, terus sekarang bagaimana kakak ipar mu?" tanya bunda dengan lemas.


"Tia belum tahu bunda. Karena om Ridwan yang menghubungi Tia." ucap Tia sebenarnya.


"Oma apa umi bakal ninggalin Zila?" tanya Zila dengan sedih.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang bunda!" ajak Tiara.


"Zila ikut ya oma." ucap Zila.


"Ayo kita ke sana!" seru Naila.


...****************...


Sedangkan di rumah sakit.


"Ayah" panggil Devan dengan air mata yang berlinang.


"Dev, Aisyah masih kritis. Tapi alhamdulillah kandungannya kuat Dev. Berdoa saja agar aisyah cepat sadar." terang Bram pada Devan, saat Devan pingsan dokter keluar dari ruangan operasi dan menyampaikan berita baik tersebut.


"Alhamdulillah, ayah Devan mau kesana." pinta Devan dengan mata memelas.

__ADS_1


"Ayo anak temui istrimu!" suruh ayah Bram.


"Bang bagaimana dengan Devan?" tanya Ridwan.


"Alhamdulillah dia udah sadar dan membaik."


"Oh ya apa istri ku sudah sampai sini?" tanya ayah Bram.


"Sudah bang dan mereka lagi di ruangan Aisyah karena Aisyah sudah sadar." tutur Ridwan menjelaskan.


"Alhamdulillah, Aisyah sudah sadar. Kalau begitu mari kita kesana!" ajak Bram.


...----------------...


Sementara itu, abah Aisyah sudah sampai di rumah sakit tersebut dan langsung buru-buru ke ruangan anaknya.


Sedangkan Fahmi sedang sibuk membayarkan ongkos taksi yang mereka tumpangi.


Dan Tiara saat ini sedang membeli sarapan pagi karena sudah pagi.


Dan keluarga Aisyah mereka baru datang pagi hari.


"Tia," panggil Fahmi.


"Kak Fahmi, apa kakak udah ke ruangan kak Aisyah?" tanya Tia.


"Belum ini baru sampai barusan. Mungkin abah udah di sana. Ini kakak mau kesana, kamu mau kemana?" tanya Fahmi.


"Mau balik ke ruangan kakak. Ayo sama-sama aja kak." ajak Tia sopan.


"Ayo, sini kakak bawakan bawaanmu Tia." tawar Fahmi.


Dalam perjalanan itu mereka asik bercanda dan bergurau.


Hingga mereka tidak sadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka dengan tatapan mata yang sangat tajam.

__ADS_1


Ayoooo siapaaakkaahhh dia?????


__ADS_2