
Dengan pelan tapi pasti Danis mencoba sensasi meminum susu langsung dari sumbernya.
Hal pertama yang ia lakukan adalah mencicipi dua buah gundukan segar menyejukkan mata. Danis
terus meminum susunya bagai bayi yang baru lahir. Walaupun belum bisa yang lain, setidaknya dia bisa mencicil dulu untuk menggarap istrinya ya kan?! (kaya emak aku cicil panci setiap bulan).
Malam ini Danis hanya bisa bermain up side sampai 4 hari kedepan, ya ini karena Fany sedang datang tamu dari bulan.
"Aaahh." tanpa sadar Fany mend*esah.
Danis yang mendengar Fany mend*esah segera menghentikan kegiatannya.
"Dek, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Danis panik.
"Bukan Aa, tapi enak." ucap Fany malu-malu.
"Ooh boleh lagi gak?" pinta Danis dengan mata berbinar.
"Boleh A, tapi itu terong Aa bangun loh." ucap Fany sambil menunjuk ke arah benda pusaka milik Danis.
"Gak apa-apa kan udah ada yang bantu." ucap Danis sambil menaik turunkan alisnya.
"Iiisss nakal ya." ucap Fany manja.
__ADS_1
"Aku ngelakuinnya bakal hanya sama istri ku kok." ujar Danis yakin.
...----------------...
Sedangkan di kamar yang berbeda, Ridwan sedang merayu Tia.
"Baby." panggil Ridwan.
"Aku bukan bayi om." sahut Tia gemas.
"Is lalu aku panggil apa dong?" ucap Ridwan.
"Dan stop manggil aku am om am om, aku bukan om mu lagi. Panggil aku babang!" protes Ridwan pada Tia.
"Hais, gak ada manis-manisnya. Dan apaan ember-ember, yang ada itu embel-embel." entah kenapa mereka malah bertengkar.
"Au ah manis apaan, kalau mau manis sono di bawah banyak gula." ucap Tia lagi.
"Yayayya cepat napa aku udah gak sabar ini." kata Ridwan.
"Sebentar dikit lagi. Tapi sebelum itu Tia mau babang baca surat AL MULK, bisa kan?" tantang Tia pada Ridwan.
"Apaaa sayang? Apa gak ada yang lain? Kan bisa yang lain dulu napa." tawar Ridwan.
__ADS_1
"No no no, jika mau enak-enak selesai kan dulu tantangan Tia! Itupun jika sayang sama Tia." beo Tia sambil berbaring.
"Ooh okay besok jika aku bisa, kamu harus kasih pijit plus-plus yang cakep dan jangan lupa pake baju itu!" Ridwan menunjuk baju dinas yang dibelinya tadi melalui sekretarisnya.
"Okay siapa takut?! Jadi malam ini mari bobok suamiku yang tua tapi aku sayang." ucap Tia lalu mencium pipi Ridwan.
Malam ini Ridwan betul-betul tidak melakukan apa-apa. Dia terus menatap ke arah Tia. Ada niat mau menjamah tapi takut, takutnya Tia marah. Pada akhirnya malam itu Ridwan hanyalah bisa memeluk saja walaupun batang singkongnya sudah meronta-ronta minta di manjakan.
Malam itu antara Ridwan dan Danis sama-sama tertunda untuk melakukan ritual malam pertama. Yang satu karena datang bulan, sedangkan yang satunya kena tantangan. So selamat menahan segala rasa ya Danis, Ridwan. Tapi lebih enak yang mana? Ga ada lawan tapi bisa bersolo karir? Atau ada lawan tapi ga bisa di ajak bermain?
Hahahahaha..
...****************...
"Jadi ini sudah ayah rencanakan jauh-jauh hari?!" Bram yang masih penasaran menanyai Nudin di ruang kerjanya.
"Bram, ayah tak bisa menutup mata kalau Tia sudah memendam rasa pada Ridwan sejak lama. Dan Ridwan malah ga peka-peka padahal aslinya dia cinta." jelas Nudin pada Bram.
"Jadi semua ini sudah ayah atur sedemikian rupa. Pada akhirnya umpan ayah dimakan juga kan hahahahaha." terang Nudin lagi.
"Terimakasih ayah, sudah membuat Tia bahagia." ucap Bram sungguh-sungguh.
"No Bram, No thanks in family. Kebahagiaan keluarga Kusuma adalah prioritas ayah."
__ADS_1
Bram lantas memeluk ayahnya. Dia tak menyangka ayahnya yang terkenal dingin, sangat mencintai keluarganya.