JANJI AISYAH

JANJI AISYAH
Kehidupan Zakir


__ADS_3

Vera terlihat senang, dia pikir rencananya untuk membuat Aisyah jatuh akan segera terlaksana. Tak jauh dari dekatnya ternyata Zakir memperhatikan Vera dengan seksama.


"Kenapa dia akhir-akhir ini sering keluar malam?" ujar Zakir dalam hati.


"Aku harus selidiki, apa yang sedang Vera rencanakan." monolog Zakir lagi dalam pikirannya.


Vera tak menyadari keberadaannya Zakir. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri sampai pada akhirnya Zakir menegur Vera.


"Kau ini kenapa Vera? Seperti orang gila, kadang senyum kadang ngomong sendiri." ucap Zakir menelisik Vera dari atas sampai ke bawah.


"Duh mas ini ngagetin aja. Bersuara kek dikit." Vera yang kaget tiba-tiba malah menjadi sewot.


"Kau yang harusnya ngaca, dari tadi senyum-senyum sendiri tahu gak!" Zakir meninggalkan Vera yang masih melotot kepada Zakir.


"Dasar istri gak ada gunanya. Suami baru pulang dari kerja bukannya di siapkan makan atau air buat mandi, ini malah senyum-senyum tak jelas."


"Ini mana lagi mertua dan anaknya si Vera kenapa ini rumah sepi sekali."

__ADS_1


Zakir mengoceh sendiri karena saking kesalnya. Suasana rumah ini menjadi tak kondusif. Setelah insiden pemecatan tempo hari, kini Zakir bekerja serabutan.


Entah kenapa tiba-tiba rasa penyesalan menghampiri Zakir. Dia malah mengingat momen-momen kebersamaannya bersama Aisyah dan Zila putrinya.


"Ya Allah, aku rindu anaku. Terlebih lagi aku rindu mantan istriku yang dulu aku sia-siakan."


Tanpa komando, air mata Zakir meluncur mrmbasahi pipinya. Menyesal pun kini tiada guna, nasi sudah menjadi bubur.


Terbesit dalam benaknya Zakir ingin mendekati Aisyah lagi. Toh dia sudah tak bekerja di perusahaan milik suaminya lagi, jadi dia bisa bebas mengejar Aisyah lagi tanpa takut akan di pecat.


Zakir berhayal terlalu tinggi, hingga lupa dengan siapa ia nantinya berhadapan kalau berani mengusik Aisyah.


"Mas," panggil Vera kencang.


"Astaghfirullah, Vera apa-apaan kamu hah? Teriak-teriak di telingaku." ucap Zakir sambil mengusap-usap telinganya yang berdengung karena ulahnya Vera.


"Eh mas, aku sudah memanggil mas beberapa kali tapi mas malah bengong, dan sambil menangis." kata Vera tak kalah sewotnya. Padahal dia baru datang, tapi supaya tak di marahi oleh Zakir, Vera berpura-pura mengatakan kalau dia sudah memanggil Zakir beberapa kali.

__ADS_1


"Mau apa kau?" tanya Zakir to the poin pada Vera.


"Mas, tadi dapet berapa hasil kerja hari ini? Aku belum masak mas nanti anaku dan ibuku datang dari jalan-jalan aku takut kelaparan mereka." ujar Vera seenaknya.


"Apaaaa? Kau nanya hasil jerih payahku? Dan itu kau perhitungkan buat anak dan ibu kau?"


"Wah, istri macam apa kau hah?"


Zakir murka dengan perkataannya Vera. Seenaknya dia memikirkan isi perut anak dan ibunya, sedangkan dirinya yang bekerja dari pagi sampai menjelang malam, dia tidak pertanyakan.


"Kenapa mas jadi marah?" tanya Vera kesal.


"He, aku suamimu kerja dari pagi sampai sore apa kau sudah tanya apa aku sudah makan? Apa aku mau mandi? Atau aku sudah apa? Gak kan?" beo Zakir yang sudah terlihat tak bisa mengontrol emosinya.


"Menyesal aku menikahi kau Vera, menyesal aku kemakan godaanmu, menyesal aku telah membuang istri sebaik Aisyah. Pokoknya aku menyesal!"


Tanpa menunggu kata yang akan keluar dari mulut nya Vera, Zakir terlebih dahulu meninggalkan Vera yang semakin marah. Apalagi kembali Zakir membandingkan dirinya dengan Aisyah. Semakin tersulut rasa benci dan dendam di hati Vera untuk Aisyah.

__ADS_1


"Awasssss kau Aisyah, akan ku buat kau mati enggan hidup pun tak mau." Teriak Vera kesetanan.


__ADS_2