JANJI AISYAH

JANJI AISYAH
part. 49


__ADS_3

"Aisyah kenapa kamu berubah? Di mana Aisyahnya mas yang dulu?!" ucap Zakir sedih.


"Apa mas bilang? Aisyahnya mas yang dulu? Maaf mas, Aisyah yang dulu sudah hilang mas, hilang di saat mas membawa istri baru mas. Aisyah yang dulu sudah tidak ada mas." ucap Aisyah dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang." panggil Devan.


Aisyah tersadar karena panggilan dari suaminya itu.


"Ah mas, maaf jika aku menangis, aku terluka karna ayah dari anak ku Zila berubah jadi setan." ucap Aisyah.


"Tidak apa-apa sayang, ayo kita pergi biar ayah yang mengurus mereka," ucap Devan lembut karena dia tahu Aisyah sedang tidak baik-baik saja.


Sedangkan Zakir merasa sangat marah dan benci menjadi satu. Entah bagaimana caranya, ikatan pada tangan Zakir terlepas.


Zakir yang terlepas dari ikatan itu langsung mengambil pecahan kaca yang tak jauh dari tempat dia di ikat. Tanpa sadar kakinya melangkah dan sedikit berlari ke arah Devan.


Niatnya ingin menusuk Devan, tapi pergerakan Zakir terlihat oleh ayah Bram.


Bram reflek berlari ke arah Devan dan langsung mendorong Devan.


Namun ternyata bukan hanya Ridwan atau Devan yang kaget ayah Bram juga kaget.


Karena yang di tusuk Zakir bukannya mengenai Devan atau ayah Bram akan tetapi tusukan itu mengenai Aisyah.


"Aisyah!" ucap Zakir dengan tangan bergetar. Sedangkan Aisyah langsung jatuh bersimbah darah dan tak sadarkan diri.


Devan yang melihat keadaan Aisyah segera meraih dan memeluknya.


"Sa sa sayang." ucap Devan dengan bibir bergetar.


Ridwan yang ikut menyaksikan kejadian itu tanpa banyak bicara langsung memukul Zakir hingga babak belur. Bahkan tidak berhenti di situ, Ridwan juga menendang Zakir hingga tak sadarkan diri.

__ADS_1


Bram yang melihat itu segera menghampiri Ridwan.


"Sudah Ridwan biar mereka di urus Danis. Kita harus cepat membawa Aisyah ke rumah sakit."


"Kalian semua urus mereka!" titah Ridwan pada anak buahnya.


.


.


.


Tanpa perlu menunggu waktu yang lama, mereka semua membawa Aisyah menuju rumah sakit. Ayah Bram mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi tujuannya satu yaitu segera mencapai rumah sakit. Bahkan mobil yang melintas di samping mobil mereka menjadi kaget hingga banyak dari mereka mengeluarkan ucapan sumpah serapah.


"Ayah cepat ayah cepatttt!" ucap Devan panik dan dengan air mata yang berlinang.


"Sabar Dev, Aisyah pasti selamat dan tidak akan terjadi apa-apa dengannya." hibur Ridwan yang juga berada di mobil itu.


Dengan cepat dokter langsung membawa Aisyah ke ruangan operasi untuk di lakukan tindakan.


Devan tersungkur dan hanya bisa menangis. Hatinya terasa hancur melihat kekasih hatinya, belahan jiwanya meregang nyawa di dalam sana.


Lain halnya dengan ayah Bram yang terduduk lemas di bangku yang ada di depan ruang operasi. Dia merasa gagal melindungi menantunya. Apa yang harus dia katakan kepada istrinya Naila.


"Bang." panggil Ridwan pelan.


"Rid abang gagal abangg gagal, gagal sudah." ceroscos Bram yang kecewa pada dirinya sendiri.


Tidak abang, abang sudah melakukannya dengan baik dan hati-hati tapi mungkin ini adalah takdirnya Aisyah. Doakan Aisyah semoga baik-baik saja." ucap Ridwan menenangkan Bram.


Tiba-tiba pintu ruangan operasi terbuka,

__ADS_1


"Maaf dengan keluarga pasien Aisyah." panggil dokter.


"Iya dokter, saya suaminya." jawab Devan sembari melangkah menghampiri dokter dengan ayah Bram yang mengikuti dari belakang.


"Maaf tuan, nyonya Aisyah membutuhkan transfusi darah golongan AB, kami kehabisan stok untuk golongan darah tersebut tuan." jelas dokter itu.


"Ambil darah saya dokter, darah saya golongannya AB dok." ucap Ridwan tiba-tiba menawarkan diri.


"Baik pak, mari ikut dengan kami."


"Terimakasih bro," ujar Devan pada Ridwan.


Dokter dan Ridwan berlalu, meninggalkan Devan dan Bram yang semakin khawatir.


Ridwan telah berlalu mengikuti salah satu dokter yang menangani Aisyah.


Saat menunggu tiba-tiba dokter yang lain keluar dari ruangan operasi itu.


Devan yang melihat ada dokter lain yang keluar bergegas menghampiri.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Devan khawatir.


"Hhuuf, maaf tuan kami hanya bisa memberi dua pilihan. Apakah kami harus menyelamatkan ibunya atau anaknya?" ucap dokter dengan hati-hati.


"Maksud dokter apa?" tanya Devan bingung.


"Tuan, istri anda sedang hamil dan bayinya sudah berbentuk sempurna. Saya prediksi bayi sudah berumur 6 bulan dan penusukan itu hampir mengenai rahimnya. Dan kami tidak berani menjamin kalau keduanya bisa selamat karena itu sangat berbahaya. Jadi kami hanya bisa menyelamatkan salah satunya."


Bak petir yang menyambar di siang bolong, Devan semakin terpuruk. Hatinya benar-benar hancur karena harus memilih.


"Tidak, itu tidak mungkin." ucap Devan sedih dan seketika pingsan.

__ADS_1


__ADS_2