
Kinan mencengkeram erat kursinya.
"Tolong Pak, percayalah! Bapak boleh
menghubungi Kakak saya untuk klarifikasi. Ini nomor ponselnya," Kinan memperlihatkan nomor kontak ponsel Kakaknya pada Ardi.
"Rencananya, saya akan bekerja disini selama satu tahun. Setelah itu, saya akan bekerja di hotel milik keluarga sambil melanjutkan kuliah S2," Kinan memohon, menampilkan wajah memelas agar Ardi percaya.
"Beri saya kesempatan kerja disini setahun saja Pak. Saya mohon ... Saya berjanji akan bekerja dengan baik," Kinan menautkan kedua tangannya memohon pada Ardi.
Ayo dong percayalah ... Masa' aku dicurigai mata-mata? Yang benar saja!!!
Ardi masih tampak berpikir. Sebetulnya dia tahu kalau Kinan bukanlah mata-mata, tadi dia hanya menggertak saja supaya Kinan jujur padanya.
Ardi pun merasa sejak Kinan datang di kantor, hidupnya mulai berwarna. Rasanya jadi bersemangat walaupun hanya sekedar melihat wajah Kinan sekilas saat Kinan duduk di meja kerjanya.
Tapi Ardi belum mau untuk menyimpulkan rasa ketertarikannya pada Kinan sebagai rasa cinta. Itu masih sangat jauh dari pikirannya.
__ADS_1
"Baiklah, saya percaya padamu. Saya beri kesempatan kamu bekerja di perusahaan ini. Tapi ingat, ini bukan sebagai tempat bermain. Kalau memang pekerjaanmu tidak memenuhi standar maka seperti karyawan yang lain, maka kamipun bisa memutuskan hubungan kerja denganmu. Paham?!" Ardi berkata tegas.
"Terima kasih Pak, sungguh! Ini kesempatan untuk saya. Saya janji akan bekerja dengan keras"m," Kinan tersenyum manis.
Fiuuhhh ... Leganya ... Akhirnya dia percaya. (Kinan).
Dan ketegangan di dalam kantor Ardi pun teruraikan. Kinan dapat bernafas lega dan keluar dari ruangan itu.
Jam demi jam berlalu dan saat akhir jam kerja pun usai. Tapi Kinan dan beberapa karyawan yang lain belum bisa pulang karena mereka harus menyiapkan acara gathering perusahaan.
Gathering tahun ini akan diadakan di sebuah kawasan hutan kota yang tidak jauh dari kota J. Hawa yang sejuk dan rindangnya pohon sangat diminati sebagai tempat rekreasi sebagian besar penduduk kota J yang panas ini.
Kinan menjadi salah satu dari tim acara pada gathering kali ini. Karena gathering masih dua minggu lagi, maka masih ada kesempatan untuk kembali mengatur acara.
Rapat sore ini berlangsung hingga petang. Dan saat selesai, Kinan langsung memacu motornya menuju apartemennya.
Sesampainya di apartemen, ponsel Kinan berdering.
__ADS_1
- "Halo, ada apa Kakakku yang nyebelin!" Kinan mengangkat telponnya.
- "Halo juga adikku yang imut ... Baru pulang ya? Suara kamu kok nggak bertenaga? Hahaha," saut Kevin.
- "Iya baru aja sampai rumah. Memang ada apa?"
- "Besok tahun baru kamu bisa pulang? Kan biasanya kita semua berkumpul di rumah. Papa Mama juga minggu depan sudah kembali kesini," kata Kevin.
- "Aduh ... Maaf Kak, sepertinya aku absen dulu tahun baruan nanti. Nggak mungkin aku bisa ambil cuti. Mungkin kalau masa training ku sudah selesai, aku baru bisa ambil cuti," Kinan sedih.
- "Oh iya ya, Kakak lupa hehehe ... Jangan sedih ya adikku manis. Kalau ada waktu luang, Kakak pasti akan menengok kamu disana" Kevin berusaha menghibur adiknya.
Setelah telpon ditutup, Kinan bersedih mengingat kebersamaan keluarganya saat tahun baru. Biasanya mereka berkumpul dengan saudara dan teman dekat di rumahnya. Suasanya terasa akrab dan menyenangkan.
Tapi tahun ini dipastikan dia tidak akan hadir. Huaaa ... Sedihnya ... Tapi mau bagaimana lagi?
Hari ini sungguh melelahkan. Ditambah hatinya yang sedih, Kinan pun sudah tidak punya tenaga untuk berpikir lagi dan diapun ambruk di tempat tidurnya.
__ADS_1