
Kinan sangat sibuk hari ini. Pekerjaan menumpuk di meja kerjanya. Hari ini sepertinya akan sangat panjang. Bahkan hingga malam, Kinan masih berkutat dengan komputer di depannya.
Saat Ardi berdiri di depannya pun Kinan tidak menyadarinya.
"Kinan, kamu serius banget. Dari tadi aku disini kamu nggak menyadarinya," kata Ardi senyum-senyum.
"Eh maaf Pak Ardi. Tadi baru konsentrasi. Ada apa ya Pak?" tanya Kinan tergagap.
"Kamu lembur? Pulang saja yuk, kamu nggak capek? Lebih baik dilanjutkan besok lagi," kata Ardi.
"Tanggung nih Pak. Sebentar lagi kok."
"Ya sudah kalau begitu, aku tunggu kamu disini ya."
"Aduh ... jadi deg-degan nih ditungguin Pak Bos," Kinan hanya senyum-senyum sambil terus mengerjakan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.
Setelah beberapa waktu ...
"Akhirnya selesai juga!" teriak Kinan."
"Akhirnya ... Yuk kita pulang," ajak Ardi.
"Oke siap."
Kinan dan Ardi berjalan keluar kantor dan menuju parkiran mobil.
"Kinan, aku antar pulang ya," kata Ardi sambil membukakan pintu untuk Kinan.
"Terima kasih," saut Kinan .
"Kinan, aku lapar nih. Kita makan dulu yuk. Kamu pasti juga lapar kan?" tanya Ardi saat mereka sudah di dalam mobil.
"Oke Kak, aku juga lapar banget."
"Kamu mau makan apa?" tanya Ardi lagi.
"Ehm ... kayaknya nasi goreng enak nih," kata Kinan.
__ADS_1
"Oke. Kita cari resto yang nasi gorengnya enak."
Ardi melajukan mobilnya menuju resto yang menyajikan menu nasi goreng terbaik.
Saat sudah memilih meja dan memesan makanan dan minuman, Kinan pun duduk sambil memandangi suasana sekitar resto yang tampak nyaman dengan alunan musik yang terdengar santai.
"Oiya Kak Ardi, tadi malam aku telpon Mamaku terus katanya Mama mau kesini minggu depan," kata Kinan sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Oh ya? Wah ... kamu pasti senang. Dan kita bisa mempertemukan Mamamu dengan orang tuaku jadi masalah kita bisa terselesaikan," Ardi merasa senang mendengar apa yang Kinan katakan.
"Iya sih tapi kayaknya hanya Mama yang kesini soalnya Papa sibuk jadi susah mengatur jadwal."
"Nggak masalah kok, yang penting kita bisa memperkenalkan orang tua kamu dengan orang tuaku."
Pesanan datang dan Ardi maupun Kinan menikmati makan malam mereka dengan santai.
"Nasi gorengnya enak ya Kak," kata Kinan setelah melahap habis nasi goreng di piringnya.
"Iya disini memang sudah terkenal enak. Kapan-kapan kita bisa kesini lagi."
"Kak Ardi, sepertinya beberapa hari ini Nathasya belum ada kabar. Jangan-jangan dia merencanakan sesuatu nih," kata Kinan.
"Kak, coba cari tahu siapa tahu Nathasya sudah merencanakan sesuatu yang nantinya membuat kita kaget. Kan lebih baik kita tahu duluan supaya bisa kita atasi," Kinan memberi pertimbangan.
"Oke nanti sepulang mengantarkan kamu, aku akan tanya Mama."
"Kalau Papamu bagaimana? Apakah Papamu juga nggak setuju kalau Kak Ardi pacaran dengan aku?" tanya Kinan.
"Kalau Papa lebih demokratis jadi Papa akan merestui siapaun yang menjadi pilihanku. Papa nggak mempermasalahkan latar belakang ataupun derajat sosial," jelas Ardi.
"Syukurlah kalau begitu. Kalau Mama kamu tidak terbujuk Nathasya, aku yakin Mamamu juga akan menerima aku. Entah Nathasya sudah mengatakan apa tentang aku sehingga Mamamu benci sama aku."
"Iya, rasanya aku ingin mendatangi Nathasya dan mengatakan hal-hal yang buruk jika kamu tidak menahanku," kata Ardi.
"Sudahlah Kak, yang penting cari tahu dulu apa rencana Nathasya selanjutnya. Sudah larut malam nih kita pulang yuk," ajak Kinan.
"Oke."
__ADS_1
Ardi mengantarkan Kinan terlebih dahulu ke apartemennya. Setelah itu baru Ardi melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Dalam perjalanan menuju rumahnya, Ardi terus berpikir. Dia tidak mengerti mengapa Nathasya sepertinya sudah terobsesi dengan dirinya. Padahal dulu sewaktu dia dan Nathasya masih berpacaran, Nathasya lah yang sudah mengkhianatinya. Nathasya sudah tidak setia kepadanya.
Tapi sekarang, saat Ardi sudah menemukan wanita yang dicintainya, Nathasya malah terus datang mengganggu.
Mungkin Kinan benar kalau Nathasya sekarang sudah merencanakan sesuatu yang akan merugikan dirinya
Saat Ardi sudah sampai rumah, terlihat Mama sedang duduk di ruang tengah sementara Papanya tidak terlihat. Mungkin ada di ruang kerjanya.
"Ardi pulangnya kok larut malam begini? Jangan terlalu keras bekerja, kamu harus istirahat juga," nasehat Mama Wida saat melihat Ardi memasuki ruang tengah.
"Iya nih Ma, tadi banyak pekerjaan. Papa dimana?" tanya Ardi.
"Itu baru di ruang kerja."
"Ma, beberapa hari ini kok Ardi tumben tidak mendengar kabar Nathasya? Memang dia kemana?" tanya Ardi.
"Tumben kamu tanya tentang Nathasya? Kangen ya?" tanya Mama senang. Dalam hati, Mama Wida merasa jika Ardi mulai tertarik dengan Nathasya.
"Haha ... Enggaklah. Cuma merasa heran saja, biasanya setiap hari Nathasya terus-terusan menelpon ataupun mengirim pesan."
"Kamu berarti belum tahu kalau Nathasya saat ini sakit dan dirawat di rumah sakit?" tanya Mama.
"Oh ya? Benarkah? Nathasya sakit apa?"
"Tadi sebenarnya Mama sudah menengok Nathasya di rumah sakit. Katanya Nathasya sakit tifus. Kamu juga harus menengok Nathasya ya."
"Ya besok kapan-kapan kalau Ardi ada waktu," kata Ardi santai.
"Ardi! Kamu nggak kuatir sama Nathasya? Dia terlihat sangat lemah lho. Nathasya juga bilang kalau dia sangat merindukanmu."
"Oh ya?" kata Ardi malas sambil berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Mama Wida hanya geleng-geleng kepala melihat Ardi. Sebenarnya Mama merasa kecewa melihat sikap Ardi yang tidak memperdulikan keadaan Nathasya. Tapi dia pun juga tidak bisa memaksa Ardi.
Ardi memasuki kamarnya dan mandi agar badannya merasa segar. Pikirannya melayang kembali ke Nathasya.
__ADS_1
Apakah benar Nathasya sakit atau hanya berpura-pura saja? Apakah aku harus menengok dia?