
Apa sebenarnya yang terjadi?
Ardi berusaha tenang dan berpikir positif mengenai kedatangan Pak Dirga malam ini di rumahnya.
"Pak Dirga, maaf saya mau membersihkan diri. Jika tidak ada lagi yang akan dibicarakan, saya mau masuk dulu ke dalam," pamit Ardi saat dirasa Pak Dirga, Papa ataupun Mamanya tidak mau memberikan informasi apapun kepadanya.
Ardi berdiri dari tempat duduknya namun suara Pak Dirga mencegahnya.
"Tunggu nak Ardi! Saya ingin membicarakan hal yang penting saat ini. Saya mohon duduklah dulu," pinta Pak Dirga.
"Baiklah," Ardi kembali duduk dan menunggu apa yang akan dikatakan Pak Dirga.
Ardi yakin itu sesuatu yang sangat penting. Namun saat Ardi melirik Papa Mamanya, mereka hanya terdiam tanpa memberikan isyarat ataupun petunjuk apapun. Ardi hanya bisa bersabar.
"Begini nak Ardi, mengenai pembicaraan kita kemarin saat di rumah sakit, masih ingat kan? Saat ini saya membatalkannya," kata Pak Dirga mengulas senyum
"Maksud Pak Dirga? Maaf, saya kurang mengerti tentang masalah apa ini?" Ardi berkata mengerutkan keningnya.
Ardi kembali mengingat kejadian kemarin saat pembicaraannya dengan Pak Dirga.
Saat itu Ardi menolak tawaran Pak Dirga untuk merger dengan perusahaannya dengan syarat harus menikahi putrinya, Nathasya.
Tapi sekarang Pak Dirga membatalkannya? Apa maksudnya?
"Nak Ardi, sebelum kamu datang tadi, saya dan Papa Mama kamu sudah sama-sama sepakat agar perusahaan milik keluarga kalian merger dengan perusahaan saya," jelas Pak Dirga.
Ardi terkejut mendengar penjelasan Pak Dirga, namun saat Ardi menoleh ke arah Papanya, Ardi melihat Papanya menganggukan kepalanya tanda menyetujui semua perkataan Pak Dirga.
Darah Ardi mulai naik, terlihat dari raut wajahnya yang memerah menahan emosi.
"Papa, perusahaan saat ini memang sepenuhnya bukan milikku. Tapi juga bukan milik Papa 100%. Jadi Papa jangan seenaknya memutuskan suatu hal yang sangat penting tanpa persetujuan dari aku sebagai direkturnya," kata Ardi tegas pada Papanya.
__ADS_1
"Bukan begitu Ardi, tapi Papa hanya melihat inilah yang terbaik untuk kelangsungan perusahaan kita ke depannya," saut Pak Aris, Papa Ardi tak mau kalah.
Ardi dan Papanya saling bertukar pandang dengan sengit. Masing-masing berusaha memenangkan pendapatnya yang dirasa paling baik menurut mereka.
"Ehem .... Nak Ardi, tapi penjelasan saya belum selesai. Ada satu alasan mengapa saya ingin merger perusahaan saya dengan milikmu," kata Pak Dirga membuat Ardi memalingkan wajahnya kembali ke Pak Dirga.
"Alasan?" tanya Ardi mengerutkan keningnya.
"Benar, ada alasannya hm ... lebih tepatnya syarat yaitu kamu dan Nathasya, anak saya bertunangan selama satu tahun ke depan. Hanya bertunangan saja. Saya tidak menuntut kamu menikahi Nathasya. Setelah satu tahun berlalu, keputusan tergantung pada kamu. Mau diputuskan atau mau lanjut ke pernikahan. Itulah syaratnya," Pak Dirga menjelaskan dengan percaya diri.
"Dan saya tebak pasti Papa Mama sudah menyetujuinya?" tanya Ardi memandangi kedua orang tuanya yang duduk disampingnya.
"Haha tentu saja nak Ardi. Tadi kami sudah sepakat," kata Pak Dirga nampak bahagia.
"Dan kesepakatan ini tanpa persetujuan dari saya selaku obyek utamanya?" kata Ardi sinis.
Kepala Ardi terasa berputar-putar, pusing memikirkan masalah Nathasya yang tak kunjung usai menghampiri dirinya.
"Ardi, kamu harus menyetujuinya. Karna ini semua demi kesembuhan Nathasya. Kamu tahu kan Nathasya sakit apa? Mama yakin kamu masih punya hati untuk Nathasya," kata Bu Wida, Mama Ardi menenangkan.
"Pak Dirga, maaf sebelumnya tapi saya tidak setuju akan kesepakatan antara Pak Dirga dan Papa saya," kata Ardi tegas.
"Ardi!" teriak Pak Aris membuat semua yang ada disitu terkejut.
"Maaf Pa, tapi jika Papa masih memaksa maka Ardi akan menyerahkan perusahaan sepenuhnya pada Papa. Ardi masih bisa hidup tanpa menjadi direktur. Maaf Pak Dirga, seharusnya ini adalah pembicaraan keluarga namun sudah terlanjur ya sudah. Maafkan saya," kata Ardi sambil menenangkan dirinya agar tidak terbawa emosi.
Ardi sudah merasa muak akan permasalahannya dengan Nathasya. Ardi ingin segera mengakhirinya. Jika memang dia harus kehilangan semuanya ya sudah, dia hanya bisa pasrah dan akan kembali menata kehidupannya nanti.
Namun saat ini, Ardi sudah memutuskan untuk menyerahkan semuanya untuk mengakhiri permasalahannya dengan Nathasya
"Ardi, kamu betul-betul tidak bisa diberitahu. Kemana dirimu yang Papa tahu sangat ambisius dan kemana cita-citamu untuk perusahaan? Setelah mengenal Kinan, mengapa tingkah lakumu jadi seperti ini?!" kata Pak Aris marah.
__ADS_1
"Maaf Pa, ini tidak ada sangkut pautnya dengan Kinan," saut Ardi tenang.
"Apa Kinan yang sudah mencuci otakmu? Apa dia yang memaksamu untuk menolak Nathasya demi masa depan perusahaan kita?" kata Pak Aris dengan suara menggelegar.
"Papa, sudah Ardi bilang Kinan tidak ada sangkut pautnya dengan ini. Bahkan Kinan tidak tahu apa-apa karena Ardi tidak menceritakannya," kata Ardi berbohong demi kebaikan Kinan.
"Lalu?" Pak Aris menuntut jawaban.
"Papa, Mama, maaf sekali Ardi tetap pada pendirian Ardi yaitu akan mengembalikan perusahaan pada Papa jika Papa masih terus memaksa untuk bertunangan dengan Nathasya," kata Ardi pada Papa Mamanya
Ardi memandang wajah Pak Dirga. Dengan tegas Ardi berkata," Maafkan saya Pak Dirga, sekali lagi saya bilang jika saya sudah tidak mencintai Nathasya lagi jadi untuk apa kami bertunangan? Saya yakin Nathasya pasti sembuh dengan pengobatan yang sudah maju seperti saat ini. Maaf."
"Ardi, tolong pikirkan lagi baik-baik dengan kepala dingin," Bu Wida berusaha membujuk Ardi.
"Mama, sudahlah! Ardi sudah memutuskan dan tidak akan pernah menariknya kembali," kata Ardi tegas.
Ardi berdiri lalu berlalu keluar dari rumahnya. Papa dan Pak Dirga tidak mencegah kepergiannya.
Sementara Mama tidak bisa berbuat apa-apa karena Papa mengancam Mama yang akan mencegah kepergian Ardi.
Ardi pergi dengan langkah pasti. Merasa terbebas dari masalah yang sudah membelenggunya sekian lama.
Ardi menyalakan mobilnya dan menjalankannya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan Ardi terus memikirkan keputusan yang sudah diambilnya. Dia yakin tidak akan pernah menyesal. Jika nanti dia bukanlah seorang direktur lagi, dia yakin akan mampu untuk bekerja di tempat lain atau membuka usaha sendiri bagaimanapun caranya.
Pikiran Ardi melayang pada Nathasya. Dirinya tidak habis pikir dengan tingkah laku Nathasya akhir-akhir ini yang seakan menerornya. Ardi kembali mengenang saat dulu masih berpacaran dengan Nathasya.
Sebenarnya Nathasya seorang yang baik walaupun ada sifat egois karena dia anak tunggal yang sangat dimanja kedua orang tuanya. Namun saat dulu berpacaran dengan Nathasya, Ardi pernah sangat bahagia sebelum Nathasya berselingkuh darinya.
Nathasya seorang perempuan yang cantik. Mudah baginya untuk mendapatkan seorang pendamping hidup. Tapi mengapa Nathasya harus memaksakan dirinya untuk memiliki Ardi?
__ADS_1
Ardi menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan Nathasya. Tapi saat ini hatinya sudah mantap untuk seorang Kinan yang sangat dicintainya.
Ardi akan berjuang agar dia dan Kinan akan bersatu dalam ikatan cinta yang indah.