Janji Di Ujung Mimpi

Janji Di Ujung Mimpi
Menunggu Kabar


__ADS_3

Siang ini kantor sibuk seperti biasanya. Tapi ada yang berbeda di wajah-wajah karyawan, semuanya merasa bebas karena seminggu ini Sang Bos tidak ke kantor.


Mungkin hanya Kinan saja yang merindukan kehadiran bos di kantornya. Hehe ...


Di kantin, Kinan makan bersama Mitha, Nana, dan Alex.


"Asyik ya seminggu ini bos nggak ngantor," kata Nana.


"Iya, rasanya suasana kantor jadi nyaman," kata Mitha.


"Betul itu, walaupun pekerjaan banyak tapi rasanya semangat," kata Alex.


Kinan tidak bisa menahan diri.


"Hehhh ... Kalian pikir Bos itu monster apa? Orang baiknya kayak gitu kurang apa coba. Kalian ini!" teriak Kinan.


Mitha, Nana, dan Alex hanya melongo, bingung ...


"Ehm ... Kin, kamu sehat?" tanya Mitha sambil memegang kening Kinan.


"Emang kenapa? Aku suka kok kalau Bos di kantor. Jadi semangat kerja," saut Kinan emosi.


"Hahaha ... Kamu lagi becanda ya Kin? Tau sih Bos emang keren, tapi serem banget kalau masalah pekerjaan. Emang sekarang kamu ada hubungan apa sama Bos kok kayaknya kamu nggak rela kita ngomongin bos?" tanya Nana.


Aduh ... Bodoh banget sih aku. Kok nggak bisa menahan diri kayak gini? Kalau mereka pada curiga gimana? Matilah aku!!!


"Hahaha ... Aku emang lagi becanda kok hehehe ... Aku malah bahagia banget Bos nggak di kantor. Semakin lama semakin bagus. Ya nggak?" Kinan salah tingkah.

__ADS_1


"Kirain kamu serius Kin ... Sampai bingung kok tumben kamu belain bos Kin," kata Mitha.


"Eh udah udah. Jam istirahat sudah selesai. Yuk kembali ke kantor. Meskipun Bos nggak ada, kita kan harus tetap disiplin," ajak Alex.


"Yuk, aku juga lagi sibuk mengurus acara ulang tahun perusahaan besok akhir minggu," kata Mitha.


Mereka kembali ke mejanya dengan segudang pekerjaan yang sudah menanti.


Malam hari di apartemen, Kinan mencoba video call Ardi tapi tidak bisa tersambung. Dari tadi siang Kinan juga mengirim pesan tapi belum sampai juga sampai malam ini.


Kinan mulai berpikir yang tidak-tidak.


Mungkin Kak Ardi sibuk banget.


Mungkin Kak Ardi sakit.


Mungkin Kak Ardi sudah nggak perduli sama aku


Dan banyak mungkin-mungkin yang lainnya.


Sampai pagi hari Kinan belum juga mendapat kabar dari Ardi.


Hari itu di kantor Kinan tidak bisa konsentrasi. Hanya ponselnya saja yang menjadi perhatiannya.


Saat rapat untuk acara ulang tahun perusahaan pun Kinan tidak mendengarkan. Sampai-sampai Kinan ditegur oleh ketua panitia. Kinan hanya bisa pasrah saat dimarahi karena memang dia salah.


Saat malam di apartemen, Kinan memcoba video call tapi tidak bisa tersambung juga.

__ADS_1


Huhhh ... Lama-lama emosi juga nih


Udah ah biarin aja. Terserah kalau memang Kak Ardi sudah nggak menganggapku penting. Mending tidur aja ... Terserah!!! Aku udah marah! Kalau dia telpon, nggak akan aku angkat.


Kinan benar-benar marah. Dia bertekad mau tidur saja. Tapi tak lama ponselnya berbunyi.


Waduh ... Kak Ardi telpon! Aku angkat nggak ya? Enggak ah ... Kan aku lagi marah! Tapi aku kangen. Hiks ...


Dan akhirnya ...


- "Halo."


- "Halo Kin, kok lama angkat telponnya? Kamu sudah tidur ya?" tanya Ardi di ujung telpon sana.


- "Belum kok. Kakak disana baik-baik aja kan? Dari kemarin aku telpon, kirim pesan kok nggak dibalas sih!" Kinan mulai ngomel-ngomel.


- "Aduh, maaf ya Kinan sayang ... Aku baru bisa hubungi kamu sekarang soalnya memang banyak sekali yang aku harus urus dan mendesak untuk dikerjakan. Jangan marah dong, nanti cakepnya hilang lho," Ardi malah menggoda.


"Bukannya gitu, tapi kan aku kepikiran. Takut kamu disana kenapa-kenapa."


"Iya maaf ya sayang ... Aku kangen lho, kok telpon malah diomeli ... Emang kamu nggak kangen?" tanya Ardi.


"Kangen banget lah ... Kapan sih Kak Ardi pulang?"


"Masih akhir minggu ini. Sabar ya."


"Iya gak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik aja aku udah seneng kok."

__ADS_1


Malam itu Kinan tidur dengan senyum di wajahnya.


__ADS_2