Janji Di Ujung Mimpi

Janji Di Ujung Mimpi
Perawat


__ADS_3

Kinan diperkenalkan dengan Dokter Julian, Om nya Ardi.


Kinan diperiksa dengan teliti. Hal itu dilakukan berdasarkan laporan Ardi yang melebih-lebihkan kondisi sakitnya Kinan.


"Saya demam biasa aja kan Dok?" tanya Kinan.


"Sementara ini memang hanya demam biasa karena mulai sakit baru sejak semalam. Tapi untuk diagnosa lengkapnya tes laborat ya biar jelas sakitnya apa."


Kinan hanya bisa pasrah saat diambil darahnya guna tes laboratorium.


Setelah mengambil resep obat, Kinan diantar Ardi pulang ke apartemennya.


"Aku antar ke apartemen dulu ya, kamu bawa baju dan perlengkapanmu secukupnya saja!" perintah Ardi.


"Loh ... Memang kita mau kemana? Aku mau istirahat biar cepet sembuh terus besok biar bisa masuk kerja."


"Nggak usah mikirin masalah kerja. Aku akan membawamu ke villa saja. Disana kamu bisa istirahat dan biar aku yang akan merawat kamu. Kalau kamu di apartemen, siapa yang akan jaga kamu?" kata Ardi.


"Tapi nanti yang ada aku malah akan merepotkan kamu Kak."


"Sudah ... Jangan banyak bicara. Sakit aja kamu masih bisa cerewet kayak gini. Nih kita udah sampai. Ayo aku bantu kami packing baju!"


Kinan hanya bisa pasrah menuruti kemauan Ardi. Sebenarnya dia senang juga ada yang merawat dan menemani saat dia sakit.


Kinan juga tidak ada tenaga untuk melawan Ardi saat ini. Badannya benar-benar lemas dan dia hanya ingin tidur saja.


Perjalanan menuju villa terasa lama, Kinan sampai tertidur karena badannya lemas.

__ADS_1


Sampai di villa, Kinan masih tidur. Ardi pun menggendong Kinan.


"Eh kak, turunkan aku aja!" teriak Kinan kaget karena dirinya bisa dalam gendongan Ardi.


"Tenanglah ... Kalau banyak gerak makin berat jadinya."


Akhirnya Kinan diam saja dan Ardi menurunkan Kinan di tempat tidur.


"Aku ambilkan makan dulu ya," kata Ardi.


Kinan hanya mengangguk.


Ardi datang membawa bubur ayam.


"Aku suapi aja ya," kata Ardi


"Sudah, biar aku suapi! Kamu ini sakit kok ya masih banyak protes."


Akhirnya Kinan terpaksa mau disuapi Ardi. Plus pemaksaan karena Kinan harus menghabiskan semangkuk bubur padahal dia sudah kenyang.


"Nih, minum obatnya terus langsung tidur biar cepat sembuh," kata Ardi.


"Siap perawat galak!"


Ardi meninggalkan kamar supaya Kinan bisa tidur.


Sore hari saat bangun, badan Kinan sudah tidak demam lagi.

__ADS_1


Kayaknya aku udah sehat nih ... Kepalaku juga udah nggak pusing lagi. Tapi badanku masih agak lemas. Kak Ardi dimana ya? Kalau misal jadi perawat pasti pasiennya bakal kabur semua. Habisnya Kak Ardi galak banget sih ...


Kinan ingin mandi karena badannya terasa lengket. Dia pun mandi air hangat lalu keluar kamar.


Ternyata Ardi baru duduk di ruang tamu sambil memangku laptopnya.


"Kin, kamu kenapa keluar kamar? Kalau butuh apa-apa, panggil aku aja nanti aku ambilkan."


"Hehe ... Iya nih, kayaknya aku udah sembuh. Pengen ke taman cari udara segar."


" Yuk aku temani."


Ardi menemani Kinan duduk di taman yang ada di bagian belakang villa ini.


"Kamu yakin sudah merasa lebih baik? Mending di kamar aja yuk ... Disini banyak angin, nanti tambah sakit lagi," ajak Ardi.


"Bosen di kamar terus. Sebentar aja kok disini. Ehm ... Kak Ardi, memangnya nggak capek? Kan seminggu ini sibuk banget. Masalah perusahaan di kota M sudah beres?"


"Minggu ini memang banyak sekali yang aku kerjakan. Capek sih, tapi nggak apa-apa kok. Pokoknya kamu istirahat dulu disini, besok jangan masuk kerja dulu"."


"Loh ... Aku udah sehat kok. Kalau besok nggak masuk kerja bisa-bisa aku dimarahi Bos," kata Kinan.


"Terus siapa Bosnya?" Ardi senyum-senyum sendiri.


"Ehm, ya kamu kan Kak?"


"Ya udah kalau gitu, turuti perintah Bos kamu kalau besok nggak usah masuk kerja dulu!" perintah Ardi.

__ADS_1


"Iya iya terserah bos aja ... Hehe," Kinan hanya bisa tersenyum pasrah.


__ADS_2